Aku dan Sepeda Ontelku

Ilustrasi




Hai.. kali ini aku mau cerita pengalaman lucu dengan sepeda Ontelku wkwk... Cekidot ke bawah yaa..

Waktu naik kelas 4 SD, Aku di belikan sepeda ontel, kembaran dengan sepupuku. Warnanya biru dongker, ada keranjang di depan dan kursi di belakang. Aku tak pernah putus asa belajar pun ayahku tak pernah menyerah menuntunku menjadi pandai. Aku belajar di belakang rumah yang kebetulan ada lapangan bola yang lumayan luas.

Beberapa bulan kemudian, aku sangat pandai bermain sepeda, dari mengayuh menggunakan satu kaki, melepas tangan ketika menyetir, dan meletetakkan kedua kaki di setir. Dan semua itu di luar pengawasan ayah ibu, kalau ketahuan bisa di rampas nanti sepedaku hehe.

Di sekolah madrasah ku, Aku dan teman-temanku berencana bermain sepeda saat pulang sekolah di lapangan bola dekat rumahku. Aku, Ula, Ris, Wid dan sepedaku sudah berada di lapangan. Hanya Aku yang mempunyai sepeda saat itu, jadi kita akan bergantian menaikinya. Lapangan bola yang lumayan luas dan tidak rata (sedikit tanjakan) itu sedang ada permainan, jadi kita bermain di pinggir lapangan. Saat giliranku, aku unjukkan kepandaian ku menaikinya. Mengayuh dengan cepat kemudian melepas kedua tanganku, ganti dengan gaya lain yaitu mengayuh dengan cepat dan meletakkan kaki ku di atas setir. Aku merasa hebat.

Merasa bosan bersepeda sendirian, Aku mengusulkan bermain berdua dengan memanfaatkan kursi di belakang. Aku dengan Ula, dan Wid dengan Ris. Aku yang menyetir, Ula yang berbonceng dengan dua putaran. Putaran pertama aku masih menyetir biasa, lalu putaran kedua, Aku izin pada Ula bermain dengan cara hebatku, Ula tidak mau tapi aku paksa dan meyakinkannya. Mengayuh dengan cepat, meletakkan kaki ke atas setir, dan tangan di lepas, ula memegang erat-erat bajuku. 

Dan… Guubbrraaakkkk… kita jatuh mengenaskan, eh lebih tepatnya memalukan. Bagaimana tidak? Di lapangan itu ada orang yang bermain bola dan berpuluh-puluh orang menontonnya. bayangkan! Ula berada di posisi paling bawah, Aku kedua, dan sepedaku yang ketiga. Dengan keadaan keranjang sepeda yang patah, alat pengayuh nya juga patah, dan beberapa pelor yang keluar dari tempat asalnya.
Permainan bola berhenti dan semua berlari menghampiri kita. Aku cepat-cepat bangun karena Ula sudah merintih kesakitan, maklum dia ditindih dua benda wkwk. Aku sangat ingat ada orang Bangladesh yang sudah lama tinggal di desaku membantu membawakan sepedaku ke rumah.

Beberapa hari kemudian, aku bermain lagi. Kali ini bukan di lapangan, tetapi di tempat yang tanjakannya lumayan tinggi. Aku, Wid dan Fara bergantian bermain memakai sepedaku. Beberapa kali masih aman, hingga kembali aku mendapat giliran, aku percepat mengayuhnya pelan-pelan melepas kedua tangan. Karena mungkin terlalu cepat dan tanjakan yang lumayan tinggi, aku kehilangan kendali, dan lagi lagi aku jatuh, dengan menabrak pohon asam. Aku meringis kesakitan, sedangkan teman-temanku ketawa ngakak di atas sana.

Kelas 5 SD, Aku dibelikan sepeda baru, lebih besar daripada sepeda lamaku, warna pink muda, keranjang besi, dan kursi di belakang. Beberapa temanku juga sudah punya sepeda, jadi setiap sekolah kita membawanya. Kita akan bermain waktu istirahat tiba, mengelilingi lapangan sekolah yang sedikit lebar.

Suatu hari, Ula sakit, dan temanku mau menjenguknya. Entah kenapa, aku males ikut dan memilih bermain sepeda bersama teman-teman yang lain. Ustadz dan anak-anak sekolah lainnya hanya maenjadi penonton. putaran ke tiga kalinya, aku berboncengan dengan Iim, Iim mengayuh dengan santai tapi tak memperhatikan objek di depan. Dari arah berlawanan ada Risal, ia mengayuh dengan ogal-ogal an. Akhirnya, kami bertubrukan, beradu depan. Ah, sakit sih tidak, tapi malunya subhanaAllah sekali. Dengan posisi kepala di bawah kaki di atas dan sepeda yang masih berdiri tegak dengan Iim disana, dan puluhan mata yang menyaksikan. Teragisnya, tidak ada pertolongan, hanya ada gelakan tawa yang bersahut-sahutan. Aku tak punya muka woy, sad

Aku sama sekali tidak jera bermain sepeda, setiap hari, saat berangkat sekolah, pulang sekolah, tak luput dengan sepeda ku. Malam jum’at tepatnya, aku kembali bermain dengan teman-temanku, masih dengan teman yang sama yaitu Ula, Ris, Wid dan Fara. Bermain di gang-gang rumah sampai ke pantai. Tidak ada aksi nekat, kita bermain santai. Saat lagi sendirian dengan posisi teman-teman yang masih jauh, sebuah ide bodoh muncul. Aku berpura-pura jatuh, dengan posisi sepeda dengan orangnya jauh, biar terkesan wow hehe. Aku meletakkan sepeda dengan posisi tidur, dan aku pergi beberapa meter dari sepeda, di sana ada tumpukan batu bata, aku tengkurap agar tidak ketahuan mereka.

Temaan-teman belum muncul, aku sudah tidak enak berada di balik batu bata ini. Beberapa menit kemudian, aku mencium aroma tidak sedap, tidak enak, bau dan Ah segala macam. Semakin lama semakin lekat baunya. Aku menyerah, aku bangun dari tempat itu dan… Astaghfirullahal 'adzim! Benda kotor itu ternyata ada di tangan, dan beberapa di lengan pakaian. Bisa di tebak itu apa? KOTORAN MANUSIA WOY. Ieuh, seketika aku pengen muntah. Tak lama dari itu, teman-teman datang, Ah kemana aja mereka, batinku. Mereke ketawa dengan nyaring, ya aku bisanya cuma nyengir, toh ini real perbuatan bodohku.

Tak habis pikir, bagaimana aku bisa tengkurap di balik batu bata yang ada kotoran itu. Iya mana tau, pertama kali aku ke sana aku tidak melihatnya dan tidak mencuim baunya! Ah nasib!. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Baiklah, sekian dari kisah ini. Ambil manfaatnya ya teman-teman! Tapi jangan tertawakan! Ini kisah teragis yang bikin badan meringis dan hati teriris tapi saat di kenang bikin terkikik-kikik wkwkwk.

Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

Add Comments


EmoticonEmoticon