Pujian itu bisa Menerbangkan, bisa juga Menjatuhkan





Pujian itu Menerbangkan apa Menjatuhkan?


ketemu lagi dong sama saya, ahaha. Lagi semangat nulis nih, meski tulisan abal-abal. Jadi, saya membuat tantangan untuk menulis opini tentang buku yang saya  baca, lebih tepatnya hanya satu bab ya wkwk.


jadi, tetap dengan buku yang sama, “Man Shabara Zhafira”, karya dari mas rifa’i. saya sampai di bab “pujian”. Sepertinya menarik untuk dibahas, dan dari sudut pandang saya ya.


Pujian, apa sih yang ada di benak kalian tentang hal ini? sesuatu yang menerbangkan? Apa yang menjatuhkan? Menurut saya sih tergantung ya, bisa jadi kedua-duanya. Mari saya bahas lebih lanjut. Eh, kalau kek gini, kek sok banget gitu, merasa pinter banget gitu, merasa wow banget pendapatnya gitu ahaha. Ini opini saya saja ya, dan biar semakin semangat nulis, saya ikuti kata hati ahaaha, saya itu orangnya humoris, jadi tulisannya juga harus ikut humoris meski harus dilebih-lebihkan sedikit wkwkw. Kembali ke laptop!


Bahas satu-satu ya. Pertama, pujian yang menerbangkan. Menurut mas rifa’i nih, pujian itu penting, “Jangan enggan mengapresiasi kerja keras manusia. Karena apresiasi sering kali memancing potensi dan mengundang prestasi”, ada banyak kisah yang mas rifa’i tulis disana, tak luput kisahnya beliau sendiri.


Saya setuju juga sih, pujian itu bikin semangat ya kan? Yang asalnya lembek, di puji dikit oleh teman, uh langsung berkobar deh semangatnya, langsung ngerjain deh. Misal nih, ini pengalaman saya sendiri ya. Jadi, saya kan baru jadi penulis nih, eh belum pantes dikatakan penulis sih, tapi ada salah satu teman saya yang bilang begini sama saya,


“Saya bangga sama kamu Sul, tak kira kamu nggak berprestasi, ternyata kamu bisa nulis, jadi seorang penulis, bangun blog dengan real tulisan sendiri”. 


Padahal nih padahal, saya belum percaya diri dikatakan seperti itu, banyak malah yang lebih baik dari saya itu, tapi karena pujian itu dikhususkan untuk saya, ya saya yang terbang dong, sekalipun banyak yang lebih tinggi dari saya, al-hasil, saya lebih semangat dong, ada semangat yang terbakar dalam jiwa bahwa saya bisa menjadi apa yang teman saya ucapkan, bahkan lebih. Ini bukan sombong ya, lebih ke menyatakan bagaimana semangat saya, meski beberapa kali saya lembek, lesu dan nggak semangat, tapi saya masih bisa kembali bangun dengan pujian dari teman saya. Coba lihat, bagaimana sangat pengaruhnya pujian itu? Dan masih banyak lagi pengalaman saya sendiri tentang pujian, next time saya cerita tentang pengalaman saya itu deh, kalau ada yang penasaran sih ahaha.


Oke, setelah pujian yang menerbangkan, kita beralih ke pujian yang menjatuhkan. Pernah nggak kalian ngalamin sendiri? kita di puji-puji, hingga kita bersikap sombong, berbangga diri, dan enggan mengembangkannya karena sudah puas dengan pujian yang diberikan? Pernah? Saya pernah! Bahkan sering. Saya cerita lagi ya.


Wah siswa berprestasi kayak sulfaini nih, kelas satu, dua semester peringkat satu terus”, iya, itu kenyataan ahaha. Ada yang muji saya begitu, al hasil, ada kebanggan dari diri saya, saya merasa puas, saya merasa banyak orang yang merasa bahwa saya ini hebat. Dan apa yang terjadi, naik kelas dua, bukan malah tambah rajin! Tapi malas, udah di kuasai dengan rasa sombong, terlalu percaya diri dan mengentengkan. Yang biasanya saya selalu bangun jam satu pagi untuk belajar kalau ada ulangan, tekun menghafal, tidak ada rasa ngantuk. Next class, pas ada ulangan, iya bangun memang, tapi tidak untuk belajar, bangun untuk tidur lagi! Pindah tempat Cuma. Hanya karena apa, “Ah, nanti juga pasti hafal!”, “Ah, nanti juga pasti bisa jawab soal!”. Dan akhirnya, peringkat saya menurun, jadi peringkat dua. Karena apa? hanya karena dipuji, jadi sombong, dan begini lah hasilnya! Terlihat bukan, bagaimana pengaruhnya?


Banyak teori yang menjelaskan hal itu juga, kalau kalian kuliah dan sudah dapat mata kuliah psikologi belajar, kalian juga akan paham dan dapat banyak pengetahuan tentang bagaimana pujian mempengaruhi seseorang! 


Jadi, menurut saya, opini saya, pendapat saya. Pujian itu bisa menerbangkan dan menjatuhkan. Tergantung, bagaimana kita meresponnya yakan? Kalau saja dulu saya respon baik pujian tentang prestasi saya, pastinya saya lebih semangat untuk lebih mengukir prestasi yang lebih baik lagi, bukan malah sombong dan meras puas! Right? Jadikan pelajaran ya gaes! Sebenarnya nggak enak hati saya ini menceritakan pengaalaman buruk saya sendiri, tapi nggak papa, semoga dijadikan bahan kehati-hatian bagi kalian.


Udah paham? Pandai-pandailah merespon ya. Jangan terlalu bangga dengan pujian yang didapatkan, karena itu sungguh mematikan, membunuh perlahan, membenamkan prestasi malah. Respon yang baik, lalu kembangkan! Jangan puas, jadikan bahan bakar semangat untuk bisa menjadi yang lebih baik lagi, bisa berprestasi lebih timggi lagi, bisa menjadi orang yang lebih hebat lagi dari sekarang. Oke? Semangat untuk kita semua.



Salam santuy dari saya.


Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

Add Comments


EmoticonEmoticon