Film Tilik dan Film Cream wajib di tonton!

2 Film pendek yang sangat menggambarkan kehidupan nyata. Rugi kalau tidak ditonton!


1. FILM TILIK


Hasil screenshot Film Tilik


Film tilik ini sebenarnya sudah rilis tahun 2018 namun viral di tahun ini. Karya dari agung prasetyo, film pendek yang berdurasi 32 menit ini berhasil memenangkan piala maya untuk kategori film cerita pendek terpilih di tahun 2018. Menurut beberapa artikel yang aku baca, mas agung tidak percaya bahwa film tilik ini akan se viral sekarang ini. 


Sinopsis


Bahasa tilik berasal dari bahasa jawa yang berarti menjenguk. Yu ning (Nama asli; Briliana desy) yang mendengar kabar dari dian (Nama asli; Lully syahkurani) bahwa bu lurah sedang sakit dan dirawat dirumah sakit. Tilik adalah tradisi orang jawa dimana jika ada orang sakit, maka akan rombongan (bersama-sama) menjenguknya—desa aku juga begitu ahaha. Disepanjang perjalanan menumpang truk, ibu-ibu sangat asyik  mengobrol tentang dian; yang katanya anak nakal. Di mulai dengan Bu tejo (Nama asli; Siti fauziah) membawa berita yang di dapat dari sosial media (facebook) tentang bagaimana nakalnya dian; pergi ke hotel bareng cowok. Dalam kehidupan nyata pun, banyak kali berita yang tersebar (belum tentu benar) tentang perilaku dian; bersama om-om, muntah-muntah, godain suami orang. Ditambah dengan Bu tri (Agelia Rizky) yang selalu mengompori pembicaraan tersebut mulai panas.


Yu ning yang notabenenya masih saudara dengan dian tidak terima dengan segala berita yang dibawa bu tejo. Dia juga selalu berkata, bahwa jangan menelan mentah-mentah informasi yang di dapat dari sosial media, atau dari mulut ke mulut. Ah, intinya banyak sekali adegan saling cekcok antar emak-emak yang bikin ketawa dan gemas.


Sepertinya  kalau aku cerita sampai ending, nggak bagus deh ahaha, nanti spoiler wkwk. yang intinya, endingnya bakal mengejutkan, rugi banget si kalau nggak nonton; Cuma ngandelin review ini doang—ahaha.


Review


Ada banyak kejadian lucu yang tersemat dalam film pendek tersebut, yang paling lucu menurut aku saat si truk ditilang karena melanggar aturan, si ibu-ibu kompak mendemo pak polisi hingga bisa kembali bebas dan melanjutkan perjalanan, dan ketika truk mati dan harus didorong si ibu-ibu mendorong dengan semangat, the power of emak-emak banget wkwkwk


Film ini sangat menggambarkan kehidupan nyata. Dimana, jika berkumpul-kumpul maka pasti akan ghibah-membicarakan orang lain.


Menyebar dan menelan mentah-mentah berita yang tersebar di sosial media dan berita yang didapat dari mulut ke mulut. 


Menjenguk orang sakit, yang katanya ini adalah tradisi yang kental sekali di jawa. Desa kalian begini kah? Kalau aku iya, tapi aku bukan jawa asli, Cuma provinsi jawa timur—ahaha. Emak-emak yang biasa mengetuai hal begini, akan semangat dan mengajak emak-emak lain untuk ikut menjenguk, selagi tempat tersebut bisa dijangkau. Ya. Aku mengalaminya juga.


Dan, ada hal unik yang aku dapat dari sebuah artikel tapi lupa namanya apa—maaf. Tentang streotipe perempuan. Daripada laki-laki, perempuan lebih banyak di bicarakan. Iya tidak? Dimulai dari tamat SMA, biasanya kalau melihat keluarganya yang tidak mampu, lalu si perempuan ini memilih terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, pasti jadi bahan gunjingan—orang tuanya miskin kek gitu, kok masih kuliah, kenapa nggak kerja aja sih?


Tamat sma, lalu langsung nikah. "Nggak sayang apa sama pendidikannya, kok langsung nikah? Paling dia hamil di luar nikah."

Tamat SMA, lalu kuliah. "Ngapain sih sekolah lagi? Toh endingnya nanti hanya jadi ibu rumah tangga, di dapur, di kasur dan disumur. Dan sebagainya.


Oh ayolaaa… mereka punya tujuan yang tidak sama denganmu, mereka punya cara sendiri untuk menikmati hidup. Kalian yang suka begitu, begitu ya caranya menikmati hidup?—eh maaf. Ahaha. Sudahlah, jalani hidup masing-masing, tidak akan semakin wow hidup anda jika hanya menjaga dan mengomentari hidup orang lain.


Lalu, apa pesan moralnya?

Menonton sesuatu itu jangan hanya mendapat jenakanya, fantasinya, alurnya, endingnya, bagusnya, deg-degkannya, dan lain-lain. Tapi, apa sih pesan yang didapat dari menonton sesuatu itu? Pelajaran apa sih? Hal penting apa sih?


Jangan menelan atau meyebar mentah-mentah berita (sosial media – mulut ke mulut)


Hoax, yang akhir-akhir ini banyak kali tersebar, apalagi di zaman yang sangat mudah mengalirkan informasi ini di manfaatkan oleh oknum-oknum untuk menyebar hoax. Bukankah kita pastinya menyadari? Betapa banyaknya hoax yang tersebar di sosial media, entah wa, fb, ig dan sebagainya. sayangnya, acap kali mereka yang mendapat info tersebut langsung memakannya, diterimanya bahkan ikut menyebarkannya. Tidak dibuktikan dulu apakah hal itu benar atau tidak—right? Semoga kita tidak termasuk.


Kemudian berita yang dibawa dari mulut ke mulut, hal biasa yang terjadi di masyarakat sekitar, apalagi emak-emak yang jago sekali nge gosip. 

Jadi, bijaklah meyaring berita yaaa….


Jangan ghibah


Sepanjang film ini, hal yang menonjol adalah menggosip, dari mulai awal cerita sampai akhir cerita. Bu tejo dengan karakter khas nya tak pernah berhenti membiacarakan dian, bu sam yang iya-iya saja dengan hal itu, bu tri yang mengompori dan alhamdulillahnya ada yu ning yang nggak suka ghibah, dia sering kali menyela obrolan bu tejo dan ibu-ibu lainnya. Belajar jadi yu Ning ya, tapi harus tau tempat cara menegurnya


2. FILM CREAM




Sinopsis


Seorang professor mampu menciptakan produk ‘cream’ yang sangat hebat sekali. Cream layaknya obat yang menyembuhkan segala penyakit, bukan hanya penyakit biasa, melainkan penyakit luar biasa yang tak akan bisa berhasil menurut kita; menghidupkan orang mati, membuat yang bisu jadi bisa bicara, yang tidak punya mata, tangan, atau kaki jadi punya, segala kekurangan yang dimiliki seseorang akan musnah dengan cream. Tidak hanya pada penyakit, cream juga bisa menciptakan barang-barang (yang ada di film emas). 


Melihat cream melejit menjadi booming dan terkenal, beberapa orang pun banyak tidak suka dan melakukan sesuatu. Penasaran? Tonton aja, nggak baik spoiler tuh ahaha.


Review


Dikemas dengan menggunakan bahasa inggris, saya agak kewalahan mengartikannya, namun alhamdulillahnya masuk di komunitas yang member-membernya baik-baik mereka saling membantu menterjemahkan dan menceritakan sesuai pendapat mereka. 


Durasinya yang hanya 12 menit lebih itu dengan penyuguhan layaknya kartun (bukan dilakoni orang) membuat penonton (saya sendiri) merasa asyik dan sangat menikmatinya, sekalipun berbahasa inggris, tapi masih bisa aku menebak nya (sambil dijelaskan teman-teman lain :D)


Sama halnya dengan film tilik, film cream ini juga menggambarkan kehidupan nyata. Dimana banyak sekali orang iri terhadap kesuksesan seseorang. Dan, sebagai manusia yang fana, maka ciptaan manusia pun akan fana, tidak ada yang abadi kecuali Dia sang Ilahi. Cream yang dulunya melejit, dipuja, menjadikan banyak sekali manusia bergantung padanya kini layaknya kapal yang terbalik, cream dibuang dan tidak dipercaya lagi.


Jika cream tetap ada, maka semua masalah akan musnah, tidak ada masalah, tidak ada perjuangan mengatasinya, tidak ada perjuangan, hidup akan hambar dan stagnan.  Pun, yang sukses hanyalah satu orang (pembuat cream), manusia lainnya tidak ada kenaikan pangkat—stagnan.


Lalu apa pesan moralnya?


Jangan pernah iri terhadap kesuksesan seseorang dan yang sukes jangan lah sombong. Iri dan balas dendam yang diperbolehkan adalah dalam hal kebaikan, jika kita iri lalu kita ingin bales dendam dengan niat ingin lebih sukses dari dia dengan cara baik maka itu sangat diperbolehkan. Beda dengan film cream ini.


Kemudian, jangan terlalu bergantung pada orang atau benda. Sebagai makhluk sosial, fitrahnya kita membutuhkan orang lain atau benda. Namun, jangan terlalu bergantung. Kita juga harus berusaha sendiri dan mencoba sendiri sebagai alat ukur sampai mana kita bisa? Toh, seharusnya kita bergantung pada Allah yang menciptakan kita, bukan bergantung pada ciptaan yang setara dengan kita.


Di dunia ini tidak ada yang abadi, tidak ada yang sempurna, hanya Allah yang Maha abadi dan Maha sempurna. Manusia dan segala yang ada di bumi adalah hal fana, maka memang sepantasnya kesuksesan itu fana, pantas saja ciptaan manusia itu fana. Jika Allah berkata ‘kun’ hal semustahil apapun akan terjadi. Jadi, jangan sampai Allah murka dan ‘membalikkan’ kapalmu.



Sudut pandang orang beda-beda, jadi jangan bergantung pada apa yang sudah ditulis saya diatas, karena naluriah kita beda. Bandingkan dengan review mereka yang lain, lalu pakailah intuisi dan feeling mu, kemudian tulislah pendapatmu. (sharing mengasah insting penulis, oleg gus irwan)


Semangat berkarya:)


#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPChallenge2


Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

2 komentar

  1. Gemesh sama Bu Tejo, tapi emang ceritanya mencerminkan kehidupan kita sehari-hari. Kalo film Cream belum nonton, kayaknya seru juga

    BalasHapus
  2. Ini kakak dari odop apa gimana nih? Ehehe semangaaaaaaaatttt yang cream wajib nonton bagus banget, tapi karena berbahasa inggris, agak kurang paham, harus ada yang nerjemah

    BalasHapus


EmoticonEmoticon