Ini Aku yang Membakar Prestasi Sendiri

Ini Aku yang Pernah Berprestasi tapi dengan bodohnya ku Bakar Sendiri






Aku terpaksa menulis tulisan ini. demi tugas ‘ODOP’ yang suci dan mulia (nyanyi hiah) mau tidak mau harus nulis, autobiografi (?). Oh ayola, aku belum punya pencapaian yang menurut publik adalah hal luar biasa, tidak seperti teman-teman ODOP lainnya yang ‘sepertinya’ gampang menulis hal ini. mengingat hal unik apa yang aku punya (?), aku teringat bahwa menulis adalah obat, ting! mari jujur dengan keadaan, ceritakan dengan polos semoga menjadi bahan semangat! Cekidot!


Aku baru dapat ilham menulis hal demikian saat aku bertanya pada salah satu temanku, “Kamu tau passion aku dimana nggak si?”, “Aku sudah berprestasi nggak si?”, “sungguh, aku tidak menemukan pencapain yang luar biasa dalam hidup kecuali dulu, aku tak tau dimana passion ku, aku tidak tau aku bertalenta dimana.


Lalu dia menjawab, “kamu sudah berprestasi sul, passion kamu di menulis.


Aku kembali menyanggah, “Ah, aku baru saja masuk ke dunia literasi, masih di tahap hobby bukan pretasi


Dia berkata tenang, “Di banding denganku yang tak pernah melakukan hal produktif ditengah banyaknya waktu, kamu sebaliknya. Kamu berprestasi kok, tetap semangat.


Kemudian aku berfikir, ah iya, tidak semua orang bisa bangkit dari keterpurukan, tidak semua orang ingin mengakhiri hubungan dengan ke putus asa-an, dengan keadaanku saat ini, ini sudah prestasi yang luar biasa, cukup pahami lalu kembangkan.


Mengenal Aku


Haloha, sini jabat tangan dulu hihi. Aku Sulfaini, lahir ditanggal cantik, 06-06-2000, bertempat tinggal di sebuah desa terpencil dari Madura, dengan posisi rumah dekat pantai dan rumah dikelilingi pohon-pohon indah nan hijau.


Aku anak sulung, dari dua bersaudara. Mohammad noval ibrohim; Adek satu-satunya, yang menurutku lebih dominan mirip ibu, sedangkan aku lebih dominan mirip bapak. Aku ter cap orang yang berbadan tinggi dan mirip laki-laki (?) hihi 


Aku sebenarnya tidak punya pelajaran favorit ketika sekolah, aku akan berkata ‘gampang’ jika mengerti, dan ‘sulit’, jika tak mengerti. Tapi, sepertinya, pelajaran agama sangat berarti untuk dikorek lebih dalam, dari sinilah, aku coba meyakinkan diri, aku suka pelajaran agama, dan saat ini sedang kuliah semester lima (udah tua ya?) dengan prodi PAI.


Pernah Berprestasi di Masanya


Sejak kecil, TK, SD aku dikenal ‘budak pandai’ entah dilingkungan keluarga atau di desaku. Sejak SD, kelas satu sampai kelas enam, aku tak pernah dapat peringkat 2 atau 3 dan dibawahnya, selalu peringkat satu. Ibu aku selalu tersenyum bangga ketika pembagian raport, sedang bapak ntah bagaimana perasaannya, karena beliau jarang sekali berada dirumah; kerja ke Malaysia.


Masa SD, aku beberapa kali juga mengikuti lomba, perwakilan sekolah, tidak juara memang, tapi ini pengalaman wow banget menurutku. Aku harus mengisi presensi dengan tanda tangan, dan itu pertama kalinya aku buat tanda tangan (aku bingung banget waktu itu, mana gurunya nungguin).


Paling berkesan juga, aku dan teman-teman lainnya, menjadi perwakilan mengikuti lomba ‘tari ronding’, yang Alhamdulillah juara 3 se kabupaten dan akhirnya beberapa kali diundang di acara-acara, paling spesialnya, pernah tampil dengan banyak orang sukses saat ulang tahun kabupaten ‘pamekasan’ di arek lancor. Hal yang tak pernah aku lupa.


Di MI pun begitu, ketika ada imtihan, aku selalu dapat juara pertama, pernah mendapat piala bergelar bintang tauladan, dan bintang pelajar, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?


Semakin tinggi aku sekolah, kok semakin merosot prestasiku? Turun ke juara dua, ke tiga, empat dan tidak sama sekali. Ah, sebenarnya point ini tak mau ku kupas kembali, tapi sepertinya, dibuat pelajaran, bagus. Ingat ya, jangan pernah sombong dengan pencapaian mu, sifat sombong tanpa rasa kasihan menggerogoti sifat baik (rajin, baik dll). Hingga akhirnya, sifat yang dominan adalah sombong, dengan segala temannya (males, riya’ dll). Dan jadilah, prestasi hangus. Please cukup aku yang mengalami, kalian jangan.


Putus asa adalah Teman Akrabku


Jleb! Hangusnya prestasi, membuat aku tak terkenal seperti dulu lagi. Tak ada lagi guru yang kenal, tak ada lagi pujian ‘terbang’, dan pancaran bahagia khususnya orang tua dan keluarga (aku berdosa banget Ya Allah)


Aku putus asa mengejar prestasi yang hangus, dan bahkan debunya pun sudah tertiup angin; tak akan bisa dirakit kembali. Sekolah ya sekolah, belajar ya hanya sekedar belajar. tak punya impian “aku harus juara satu lagi, atau setidaknya sepuluh besar”, nggak ada. Aku terlalu tak percaya diri, semangat ku benar-benar hangus. Stagnan, tak berkembang. Belajar kala ada ujian, belajar kala ada teman, dan ah! Perjuangkan ku, terkesan biasa.


Orang tua sebenarnya mungkin masih berharap banyak aku juara lagi, saat menerima rapor, kebiasaan mengecek peringkat dan nilai tetap dilakukan, tapi apalah daya, tak ada juara yang tertera, bahkan nilai ku biasa aja. Aku merasa bersalah, ketika mengingat ekspresi ibu yang sudah beberapa kali ku kecewakan dengan raport kosong di kolom juara. Tapi mau bagaimana lagi? Semangatku sudah benar-benar hangus, hatiku mati.


Aku mulai Bangkit


Mungkin, jika aku masih berteman dengan ke putus asa-an, tak ada ceritanya aku menulis cerita ini, tak ada ceritanya aku bisa menulis di platform blog ini, tak ada ceritanya aku mengikuti komunitas yang memang dasarnya pasti membuatku semakin berkembang. Dengan adanya tulisan ini, adalah bukti, aku sudah bangkit, aku sudah semangat lagi, aku sudah bangun dari keterpurukan, aku sudah putus hubungan dengan ke putus asa-an.


Dulu, aku terlalu menutup mata, melihat tidak ada orang yang memotivasi dan mungkin hanya tatapan kecewa lantaran tak kembali juara. Hari ini aku sadar, dulu banyak sekali teman yang selalu ada saat aku mengalami gagal ‘dalam belajar’, dan bukankah tatapan kecewa bisa kujadikan sebagai motivasi? Aku sayang mereka, aku tak mau mereka kecewa, harusnya aku bangkit iya kan? ha! Menyesal.


Genap umur 20 tahun, aku memikirkan banyak sekali hal. Bukan lagi masalah asmara, tapi lebih ke masa depan yang cerah nan terarah. Bagaimana cara aku sukses? Bagaimana aku bisa menghasilkan uang sendiri? bagaimana caranya aku sudahi kekecewaan orang tua? Dan sekelumit pertanyaan yang bikin sesak dada.


Aku pernah mencoba jual online, Alhamdulillah. Dapat untung, dapat rugi pula. Aku yang notabenenya mempunyai sifat kurang teliti, sering kecolongan mencatat uang modal, pengeluaran dan juga pemasukan. Oke sudah, mungkin ini bukan passion ku. Eh, sebenarnya kalau diusahakan bisa, tapi nurani tidak mengijinkan, aku tidak terlalu suka.


Bertanya sana sini, meminta pendapat sana sini, banyak yang menyarankan, ‘nulis’. Astaghfirullah! Aku baru sadar. Aku yang sejak kecil suka curhat ke buku (diary), suka baca buku pun sampai sekarang, kenapa tidak berpikir ini bisa dikembangkan? Menjadi potensi yang pastinya aku menikmati proses itu dengan senang hati, seperti sekarang ini.


Aku mulai menyusun rencana, aku mulai merajut mimpi, okey ayok bangkit.


Mencari komunitas dunia literasi, banyak sekali. Salah satunya bersyukur sekali ketemu ODOP, jika boleh ku bilang, selama dua pekan bersama, aku lebih banyak mendapat hal baru yang tentu makin memotivasi, pas banget dengan aku yang membangun blog masih seumur jagung, yang tak kudapatkan di komunitas lain (eh, promosi).


Mencari info event menulis, lomba puisi, lomba cerpen, seminar online dan kelas online gratis menghasilkan buku (masih 20 lembar hihi><). Kuliah yang belum aktif, membuatku sangat bersemangat menghabiskan hari dengan membaca, mengikuti seminar dan beberapa kali mengikuti event. Alhamdulillah, lebih dari 40 sertifikat kudapatkan, dan sudah dua buku antologi bersama teman online yang sudah terbit.


Mungkin, ini pencapaian yang biasa aja menurut publik, begitu pula kalian yang sedang membacanya. tapi menurutku, ini luar biasa dari pencapain ku dulu; sering juara kelas. Kalian tidak tau bagaimana aku berperang dengan segala nafsu untuk bangkit kembali, menghapus segala ke putus asa-an, yang hadir kapan saja, bahkan hari ini.


Aku juga ingin menunjukkan pada orang tua bahwa berprestasi itu tidak melulu mendapat gelar juara, tapi lebih baik dari yang kemarin dan tetap melakukan hal produktif itu sudah berprestasi. 


Tulisanku selalu ku share di snap sosmed dan beberapa orang bilang, “wah, tulisannya bagus”, “semangat nulis kakak, aku suka” dan sebagainya. bahkan ada beberapa yang ikut meng share-nya. Ini sungguh hal luar biasa; Kepuasan batin.


Ini aku; Sulfaini yang pernah berprestasi, lalu dengan bodohnya membakarnya dengan api yang diciptakan sendiri. Dan sekarang, ini aku; Sulfaini yang berusaha kembali bangkit, meski gelar juara kelas tak bisa ku raih lagi, akan ku modifikasi menjadi sebuah prestasi yang tak pernah hangus ditelan masa. Aku ingin menjadi penulis yang bermanfaat, masa hidup menjadi teman curhat, masa tiada menjadi penyemangat (melalui tulisan yang abadi). Aku ingin mendekap erat mereka yang jauh melalui tulisan, tanpa harus tau aku siapa.


keterangan; termasuk artikel kah? Hihi><


#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPChallenge3


Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

6 komentar


EmoticonEmoticon