Mengenal Budaya Petik Laut

Budaya Petik Laut


Foto by pixabay


Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Kebudayaan merupakan sistem nilai yang terkandung dalam sebuah masyarakat. Kebudayaan diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan akal atau pikiran manusia, sehingga dapat  menunjuk pada pola pikir, perilaku serta karya fisik sekelompok manusia.


Sejarah Petik Laut atau Rokat tasek


Masyarakat pesisir, menganggap bahwa laut merupakan sumber daya untuk kelangsungan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karenanya, masyarakat pesisir memiliki persepsi terhadap sumber daya laut dan persepsi kelautan. Melalui hal itu, muncul suatu tradisi untuk menghormati kekuatan sumber daya laut, Tradisi tersebut lazimnya diwujudkan melalui ritual, yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur karena alam melalui sumber daya laut telah memberikan kelimpahan serta rezeki dalam kelangsungan mereka. Oleh karena itu, ritual petik laut atau rokat tasek dapat dikatakan sebagai salah satu wujud kebudayaan.  Rokat sendiri adalah asli bahasa Madura yang berasal dari bahasa jawa dari kata ruwat yang berarti melebur atau membuang. Istilah ruwat identik dengan lukat yang berarti menghapus, membebaskan, dan membersihkan.


Rokat tasek atau petik laut adalah upacara masyarakat nelayan untuk menyelamatkan nelayan dari bencana dan rintangan apapun  yang mungkin akan dihadapi ketika melaut dan dapat memberikan hasil tangkapan ikan yang banyak. Ada warga yang mempercayai bahwa ritual itu harus dilaksanakan supaya tidak terjadi bencana atau semacamnya, ada juga warga yang tidak percaya dan melarang ritual ini, karena sebagai wujud dari syirik. Semua tergantung pada niat masing-masing individu ya teman-teman.


Tahapan petik laut


Setiap daerah  memiliki upacara-upacara yang berbeda, penulis mengambil contoh di sotabar, kecamatan pasean. Di sana, mengadakan ritual ini setiap tahun sebelum bulan romadhon, tetapi biasanya setiap tahun tanggal pelaksanaannya beda-beda, tergantung kesepakatan masyarakat desa tersebut dan saat laut terjadi pasang. 


Acara ritual petik laut ini ada empat tahapan atau acara selama sehari semalam, pagi hari pawai sampan, siang hari khataman Al-Qur’an, sore harinya ojung, dan malam harinya yaitu hiburan atau kalau di sotabar biasanya mengundang atau mempertontonkan ketoprak Madura atau lebih dikenal dengan lodruk.


Jauh-jauh hari sebelum ritual tersebut dilaksanakan, semua juragan (pemilik) sampan mengadakan pertemuan (musyawarah), dengan kepala desa dan agen pengepung ikan  (tempat nelayan menjual hasil tangkapannya), isi musyawarahnya yakni tentang penyelenggaraan ritual rokat tasek atau petik laut dan  jumlah sumbangan perjuragan. Setelah disepakati bersama, juragan sampan akan sibuk menghias sampannya agar terlihat lebih menarik pada saat pawai sampan, biasanya sampan dihias dengan bendera-bendera dan lampu warna-warni, dan peralatan lainnya.


Setelah sampai pada waktu acara, pagi-pagi sekali masyarakat sudah berkumpul di laut untuk menyaksikan pawai sampan, dan sesajen yang telah disiapkan dihanyutkan ke laut (seiring berkembangnya zaman, sesajen tidak dihanyutkan, melainkan di bagi-bagi pada masyarakat). setelah itu, semua sampan di berangkatkan mengelilingi laut dengan batas yang sudah ditentukan.


Siang hari, khataman Al-Qur’an di selenggarakan (biasanya) di tempat agen pengepung ikan, dihadiri oleh juraghan-juraghan sampan dan kepala desa. Sore harinya, biasanya ada ojhung (ada dua laki-laki yang berkelahi menggunakan alat manjhelin). Dan alat-alat untuk ketoprak yang akan diadakan nanti malam dirancang.


Ba’dha maghrib, banyak masyarakat yang sudah memenuhi tempat acara, seperti pedangan kaki lima dan pedagang keliling, masyarakat dari beberapa desa yang mencari tempat duduk untuk menonton acara ketoprak dan sebagainya. ketoprak di mulai pada jam 10 dan selesai pada jam 4 subuh. Walau acara ini sangat panjang, tapi banyak masyarakat yang menantikan acara ini sampai-sampai mereka membawa alas agar nyaman untuk duduk sampai pagi buta. Karena, ketoprak di kenal dengan lawak yang lucu sehingga duduk berlama-lama di laut tidak ada masalah bagi sebagian orang.


Budaya ini ada karena turun temurun, dan tetap di lestarikan oleh masyarakat pesisir. Budaya petik laut dari tahun ke tahun mengalami perubahan, misal penghanyutan sesajen ke laut diganti dengan memberikan pada masyarakat sekitar. Budaya ini pun, menurut penulis tergantung bagaimana dari niat individu sendiri. Jika niatnya percaya pada selain Allah, yakni laut maka perbuatan tersebut berujung syirik, dan jika hanya sebagai rasa syukur karena terlimpah nya rezeki melalui perantara laut, maka insyaa Allah tidak apa-apa.


Wallahu ‘a’lam bisshowab.


Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

37 komentar

  1. Menambah pengetahuan tentang budaya daerah lain nih hahaa, semangat!

    BalasHapus
  2. Waaah...disini juga ada sejenis petik laut ini mbaak..tapi aku sama sekali Ndak pernah tau bagaimana prosesnya..ehehehhe setelah baca ini jadi tauu...

    BalasHapus
  3. Masya Allah, nambah pengetahuan baru setelah baca tulisan mbak nih, keren, semangat terus nulisnya. 💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi Jazakillah Khair mbak;)

      Hapus
  4. Baru tahu Saya Ada budaya petik laut, makasih informatif banget ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi bolehlah tanya2 ke orang pesisir biasanya sih pasti ada budaya itu

      Hapus
  5. terima kasih atas informasinya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waiyyak, Terimakasih kembali:)

      Hapus
  6. Informatif sekali artikelnya. Saya malah baru tahu ada yang namanya petik laut. Tradisi yang di laut saya taunya cuma labuhan aja, heheh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku yang gatau labuhan itu apa wkwkw.
      Terimakasih kembali:)

      Hapus
  7. "Petik laut" di sana acaranya agamis ternyata, sisi pertunjukkan budaya juga dipertonjolkan. Semoga tetap terjaga dan tak tergerus arus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap kak, tahun ini vakum karena Corona:(

      Hapus
  8. "Petik laut" di sana acaranya agamis ternyata, sisi pertunjukkan budaya juga dipertonjolkan. Semoga tetap terjaga dan tak tergerus arus.

    BalasHapus
  9. Betapa kayanya budaya Indonesia ya kak

    BalasHapus
  10. Baru tau kak. Ternyata ada budaya-budaya semacam itu. Informatif sekali, terima kasih kak. Semangat terus nulisnya

    BalasHapus
  11. Di Sukabumi juga ada kearifan lokal di daerah pelabuhan ratu... Cuma namanya lupa tapi dilakukan oleh para nelayan acaranya semacam pesta rakyat juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi seperti petik laut mungkin ya, dari caranya beda saja mungkin

      Hapus
  12. wahhh baru tahu ada budaya petik laut. Nice infooo

    BalasHapus
  13. Terimkasih kak..informatif tulisannya

    BalasHapus
  14. Petik Laut.....wah jadi penasaran dengan budayanya

    BalasHapus
  15. Aku jadi inget novel "Gadis Pantai" Pramoedya Ananta Toer

    BalasHapus
  16. Terimakasih sudah berbagi (✿❛◡❛)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waiyyak, terimakasi kembali:)

      Hapus
  17. bagus sekali informasinya ... saya baru tahu itu ... keren mengenal budaya yang tidak pernah kuketahui...

    BalasHapus
  18. menariknya, aku baru dengar dengan budaya petik laut ini kak, tengkyu untuk infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi Alhamdulillah
      Terimakasih kembali:)

      Hapus


EmoticonEmoticon