Aku Adalah Aku

AKU ADALAH AKU, BUKAN, AKU ADALAH KAMU, Walaupun Aku Mengidolakan Mu.


Foto by pixabay


Yang sudah baca judul, timbul pemikiran begini ngga, “Yaiyalah, masa kamu adalah aku? Atau masa aku adalah kamu?


Nah, sudah paham tidak dengan arah pembahasan kali ini?


Atau ada yang masih belum mengerti?


Tenang, pelan saja. mari kita mulai.


Aku Adalah Aku


Aku itu diri sendiri, aku satunya juga diri sendiri. Artinya, kita mengenalkan diri kita sendiri. kita menerima diri kita sendiri. kita sadar akan diri kita sendiri. kita percaya akan diri kita sendiri. kita bangga akan diri kita sendiri.


Aku Adalah Kamu


Aku itu diri sendiri, sedangkan kamu; orang lain. Artinya, kita berlagak menjadi orang lain. Kita bangga menjadi orang lain.


Maksudnya gimana? geser ke sub selanjutnya yuk.


Mengidolakan Seseorang


Nah, pernah dengar tidak, ketika ada orang yang mengidolakan seseorang, maka kebanyakan orang itu akan berlagak menjadi orang yang diidolakan atau dengan bangga bilang, “Ini loh aku  Cristian ronaldo”. “Ini loh aku Rossi”, “Ini loh aku Agnes monica” dan sebagainya.


Lalu apa salahnya? Sebenarnya tidak ada yang salah. Selama seorang yang diidolakan itu benar, baik dan bukan orang jahat. (ya masa mengidolakan orang jahat wkwk). Salahnya itu ketika kita tidak mengakui keberadaan diri kita sendiri, ketika kita tidak percaya akan diri kita sendiri. kita lebih bangga menjadi orang lain atau idola kita, dibanding menjadi diri kita sendiri.


Mengidolakan seseorang memang bisa membuat kita bersemangat menjadi seperti dia. Ini bagus. Tetapi alangkah lebih baiknya kita tetap menjadi kita, bukan merubah kita menjadi dia.


Banyak sekali bukan, orang yang mengidolakan seseorang lalu merubah semuanya menjadi seperti orang yang diidolakan? Dari rambutnya, pakaiannya, sifatnya, cara bicaranya dan sebagainya. sehingga karakteristik  dari kita hilang, karakteristik kita dibuang.


Kita boleh boleh saja mengidolakan seseorang, tapi kita tetap harus mempertahankan ciri khas diri kita sendiri, kita harus mempertahankan karakteristik diri kita sendiri. Lebih bangga mana, kita dikenal menjadi diri kita sendiri dengan dikenal menjadi orang lain? Semua orang akan lantang menjawab, menjadi diri sendiri.


Perumpaan; Aku suka sama penulis Ahmad rifa’I rif’an. Penulis muda yang banyak menghasilkan buku. Penulis muda yang menikah muda. Pemuda yang sukses. Lalu, bagaimana harusnya aku bertindak? Tiru sifatnya, tiru rajinnya, jadikan sebagai arang untuk membakar semangat. Bukan dengan mencontoh semua tulisannya, bukan dengan menjiplak tulisannya, bukan dengan mengubah hidung menjadi seperti mas Rifa’i. mengidolakan seseorang sewajarnya saja.


Kita boleh mengidolakan penulis Tere liye, Ahmad rifa’i rif’an dan penulis lainnya. tapi masa kita mencontoh sampai dengan tulisannya? Setiap penulis mempunya karakteristik dan ciri khas yang beda, begitu pula dengan kamu. Jadi, jangan mengubah karakteristik kita, jangan mengubah ciri khas tulisan kita tapi kita boleh mencontoh bagaimana sih kiat-kiat menulis sukses ala Tere liye? Ala Ahmad rifa’i rif’an? Bagaimana sih caranya menjadi mereka? Apa sih yang mereka lakukan?. Nah itu bagus.


Kembali lagi, lebih bangga mana kita dikenal menjadi diri kita sendiri atau dikenal menjadi orang lain?


Allah adalah pencipta Terbaik


“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.” (Q.S At-Tin; 4)


Nah loh! Lalu buat apa lagi kita harus menjadi orang lain? Wong Allah sudah ciptakan kita menjadi bentuk yang sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya.


Kita mempunyai kelebihan di bidang ini, orang lain belum tentu.

Orang lain mempunyai kelebihan ini, kita belum tentu.

Kita mempunyai kekurangan di bidang ini, orang lain belum tentu.

Orang lain mempunyai kelemahan di bidang ini, kita belum tentu.

Pertahankan kelebihan, evaluasi kelemahan lalu kembangkan


Kita pasti mempunyai kelebihan bukan? Nah percaya tidak, kalau pasti ada orang yang juga ingin menjadi kita sebenarnya. Iri pada kelebihan kita. Aku tidak serta merta bilang begini tanpa adanya survey, karena aku sendiri belum menemukan kelebihan dan bakat aku dimana. Tapi, ternyata ada orang yang bilang begini sama aku, “Aku ingin deh jadi kamu, nulis terus. Melakukan hal produktif terus”, “Gimana sih caranya begitu? aku juga pengen”. (bukan mau sombong loh ya). Ternyata ada orang yang teramat sudi ingin menjadi diri kita, masa kita enggan?


Dan ini kebalikannya, aku suka sama orang yang rela melakukan apa saja untuk membantu keuangan orang tua, membantu pekerjaan orang tua, dan sebagainya. aku pernah bilang pada orang yang pernah bilang ingin seperti aku, “Kamu hebat ya, bisa bantu orang tua nanam padi, menjaganya, tanpa ngeluh, tanpa upah. Aku ingin seperti kamu”. Hm? Padahal orang itu tadi ingin menjadi aku.


Nah, alangkah lebih baiknya, kelebihan yang kita punya pertahankan, dan kekurangan itu di kembangkan menjadi kelebihan pula.


Seperti aku yang ingin seperti dia. Aku tetap harus menulis, melakukan hal produktif dan berusaha berbakti pada orang tua, membantu mereka. Kan enak?


Seperti dia. Dia tetap berbakti pada orang tua, membantunya dan berusaha melakukan hal produktif. Kan enak?


Jadi, kalau kamu mengidolakan seseorang yang pastinya juga punya kekurangan, maka pastinya jika kamu juga merubah diri kamu menjadi orang itu, kamu juga akan mempunyai kekurangan seperti orang itu. Padahal nyatanya, kamu memiliki kelebihan di bidang  itu. Contoh seperti perumpaan di atas.


Contoh lain: Kita mengidolakan seorang penyanyi, nah seorang penyanyi itu mempunyai kekurangan tidak bisa menulis atau menggambar. Nah, karena kita ingin menjadi dia, maka kita berusaha menjadi seperti dia; penyanyi, tapi kita akan juga mempunyai kekurangan tidak bisa menggambar atau menulis. Padahal sebenarnya bakat kita adalah menggambar atau menulis, bukan menyanyi. Alangkah baiknya, kita terus mengasah bakat kita, menjadi penulis hebat atau pelukis professional. Disamping kita masih mau menjadi penyanyi maka kita juga berusaha di bidang itu, tanpa menghapus kelebihan kita di bidang menulis atau menggambar, tanpa menggugurkannya. Itulah yang menjadi  karakteristik kita.


Kesimpulan


Tetap banggalah pada diri sendiri, tetap pertahankan karakter dan ciri khas kita, di samping kita mewujudkan keinginan kita (menjadi seperti seseorang yang diidolakan). Silahkan berusaha tanpa menggugurkan kelebihan yang kita punya. Aku adalah aku, bukan aku adalah kamu. Aku tetap menjadi aku dengan karakteristik dan ciri khas ku, sekalipun aku mengidolakan mu.
 
 


Opini aku ya. Kalau tidak setuju sini sharing hihi.


Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

Add Comments


EmoticonEmoticon