Diary Rumah Sakit

Pelajaran terbaik ketika di rumah sakit




Hari ini aku mengetik di sambi menjaga nenek yang sakit di rumah sakit. Do’akan yah, semoga segala penyakitnya lekas di angkat, aku agak tidak betah tinggal di sini, untuk mengetik dan mengerjakan tugas pun sulit. Tapi, ini bukan tentang bagaimana keadaanku di sini, tapi bagaimana banyak sekali pelajaran yang aku dapat saat di sini. Semoga dengan kisah ini, kalian bisa mencomot pelajarannya juga.


Niat


Adanya corona, membuat aku lebih banyak menjalani hari hanya di rumah saja. entah kuliah, entah saat mengerjakan tugas, bahkan, sudah tidak ada lagi jalan-jalan. Nenek yang sedang sakit dan kebetulan akan di bawa ke rumah sakit hari itu, membuat aku sumringah, semangat bilang, “aku ikut” hanya untuk sekedar menghilangkan bosan di rumah. Astaghfirullah sekali aku kan?


Niat awalnya yang hanya di periksa, berubah menjadi harus di rawat bahkan sempat masuk IGD. Akibat kekurangan darah. Lagi, lagi aku ingin menginap, bukan dengan niat menjaga, tapi untuk kabur dari ocehan-ocehan ayah ibu. Di point ini sebenarnya aku dapat tamparan, agar tidak salah dala berniat sehingga yang niat awal hanya periksa menjadi di rawat. Tapi, aku tidak peka. 


Setelah semalam aku tinggal di sini, rasanya aku betah. Niat yang awalnya mau pulang, aku urungkan, kembali menelpon meminta baju dan peralatan lainnya. bahkan, tugas yang bejibun tidak mengurungkan niatku. Lagi, lagi bukan niat menjaga nenek, tapi ada satu hal yang aku rasa, aku nyaman tanpa kekang dan ocehan.


Allah sepertinya kembali menamparku, kamar inap yang biasanya berisi hanya keluargaku, hari ini, di tambah pasien. Siapa yang suka? Sempit, tidak leluasa, bahkan ini lebih dari sengsara dari mendengar ocehan ayah ibu. Tapi, apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur. Terimakasih Tuhan.


Perjuangan suami


Sebenarnya nenek pernah ber cerai, Alhamdulillah dengan usia yang masih terbilang muda untuk menjadi janda, ia menikah lagi. Dengan suami yang menurutku sangat baik, bahkan terlanjur baik. Ia tidak pernah marah, saat nenek marah-marah Karena harus di rawat. Ia tidak mengeluh saat nenek membangunkannya hanya untuk ke kamar mandi. Bahkan, pagi-pagi buta sekali, ia harus pergi untuk mencari darah, dari satu kota ke kota lain. Tanpa mengisi perut dahulu, sampai ia kembali.


Sudah mendapat pelajaran bukan? Yah, si suami sayang nenek, dia rela berkorban demi dia. Dan si nenek, patut untuk mengendalikan emosinya.


Jangan sepelekan penyakit


Sebenarnya, nenek aku sakit sejak kemarin-kemarin, bahkan beberapa bulan lalu. Tapi dia tidak pernah mau kalau di suruh periksa, dan tetap bilang, “aku tidak sakit apa-apa, aku baik-baik saja”.


Padahal, dia sakit. Terbilang parah. Wajahnya pucat, karena memang kekurangan darah. Tapi tetap saja dia bilang baik-baik saja.


Dia sakit, kepala sering pusing, haid tidak lancar dan segala macam, tapi tetap dia bilang baik-baik saja. keluarga yang ada di rumah menyerah mengajaknya.


Dan apa yang terjadi? Setelah sehari dia bagi-bagi tajhin (makanan khas bulan saffar) pada tetangga, ia jatuh sakit, dan mau tidak mau keluarga kembali memaksa, dan untungnya dia mau. Sampai di rumah sakit, dokter bilang, “dia lemah, kekurangan banyak darah. Untung tidak telat di bawa kesini. Kalau saja telat, nyawa tidak tertolong”. Nah, loh? Jangan pernah menyepelekan yah.


Jangan jauh dari orang tua


Nenek aku hanya punya dua anak, anak pertama perempuan, kedua laki-laki dengan suami yang sudah bercerai. Yang perempuan sudah menikah, sedangkan satunya tidak. Tapi, mereka semuanya merantau, katanya mencari uang, buat emmak. Mereka bekerja ke Malaysia.


Dengan pandemi seperti saat ini, tentunya sulit sekali untuk pulang. Niat memang, tapi apa boleh buat? Jadilah mereka hanya bisa mendoakan.


Pelajaran nya? lebih dekat mana si orang tua dengan anaknya atau ponakannya? Atau saudaranya? Pasti anak kan. Nah, kalau keadaan seperti ini Bagaimana? Aku saja merasa bahwa nenek aku canggung, iya sangat. Untuk minta anter ke kamar mandi pun, agak gimana.


Pun, bagaimana dengan si anak? Kepikiran? Tentu. Khawatir? Pasti. Apalagi nangis, bukan lagi!. So, sebisa mungkin jangan jauh² kerja nya, atau salah satunya. Sesekali pulang, liat keadaan orang tua. Semoga aku juga tidak begini hihi.


Jaga pola makan


Kaget ngga, nenek aku kebiasaan makan bubuk kopi. Dokter aja kaget, apalagi kamu wkwk. Beberapa bulan terakhir memang dibiasakan, bahkan kadang sampe tiga kali, sedangkan nasi jarang.


Kemudian, kata dokter, kurangi, atau lebih baik di ganti dengan susu. Kalau terus-terusan begitu, juga bahaya. Bukannya memang, kalau yang berlebihan itu tidak boleh?


Sebenarnya masih ada beberapa pelajaran lagi, tapi ah udah dulu mungkin, urusan ku bukan hanya ini wkwkw.


#ODOP



Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

Add Comments


EmoticonEmoticon