Contoh wawancara


Hasil wawancara tentang media belajar di masa pandemi






IDENTITAS GURU


Nama Lengkap: ERFAN CAHYONO S.Pd.i


Mengajar Di Sekolah: SDN SOTABAR 1


Mengajar Pelajaran: Agama


Alamat: Desa sotabar Dusun Rokem barat kecamatan pasean kabupaten pamekasan


Kedudukan Di Masyarakat: -


-FORMAT WAWANCARA-


Tanggal wawancara: 07 Oktober 2020

Tempat wawancara: Sekolah SDN SOTABAR 1


Isi:


Pertanyaan: komponen sistem pembelajaran itu ada guru, Siswa, tempat, metode pembelajaran, media pembelajaran, materi pembelajaran, evaluasi dan tujuan pembelajaran kan ya Bapak. Dimana semuanya itu penting. Nah, di tengah pandemi ini, model pembelajaran apa yang Bapak gunakan?


Jawaban: untuk kemarin-kemarinnya daring, kemudian semi dan pada tanggal 23 september kemarin di putuskan luring dengan tetap mematuhi protocol kesehatan. Ketika daring, kita harus melaporkan beberapa data pada pihak atasan (kemendikbud), tapi berakhir di September itu, untuk oktober sudah tidak lagi.


Pertanyaan: menurut Bapak, pembelajaran daring dan pembelajaran luring itu seperti apa?


Jawaban: daring itukan online, sedangkan luring offline. Nah, sebenarnya daring dan luring ini pasti mempunyai sisi negative dan sisi positifnya. Kalau daring, sisi positifnya yaitu siswa dituntut agar lebih mandiri, karena guru tidak berada di sampingnya dan lebih paham tentang iptek (ilmu teknologi). Sisi negatifnya, siswa lebih sering akan memandang hp yang berbahaya pada mata dan di tengah pandemi ini yang kemungkinan besar penghasilan orang tua menurun, sehingga kesulitan dalam membeli paket data. Nah, kalau luring, sisi positifnya guru lebih leluasa mengayomi siswa dan siswanya lebih aktif. Sedangkan sisi negatifnya, dengan yang katanya covid 19 semakin parah sehingga membuat para wali murid dan guru menjadi khawatir ketika melakukan pembelajaran luring.


Pertanyaan: media apa yang Bapak gunakan saat pembelajaran daring kemarin? Dan luring saat ini?


Jawaban: kalau daring, menggunakan hp dengan memanfaatkan grup-grup. Jadi semua informasi dan tugas di share disana, sebenarnya ada aplikasi tetapi karena mereka masih sd yang belum sepenuhnya paham dengan teknologi atau aplikasi, maka saya fokus menggunakan hp. Kalau luring, mengajar seperti biasa memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah, seperti papan, kapur atau spidol dan sebagainya.


Pertanyaan: apa kendala dalam menerapkan model daring, Bapak?


Jawaban: kesulitan menggunakan daring tidak bisa mendampingi langsung siswa dalam belajar, sehingga banyak siswa yang kurang paham.


Pertanyaan: lalu langkah apa yang Bapak lakukan? 


Jawaban: tetap berkomunikasi pada orang tua. Komunikasi bagaimana siswa harus tetap bersabar dan di dampingi oleh orang tua. Kadang, ada beberapa wali murid pergi ke rumah dengan siswanya hanya untuk bertanya mengenai materi hari ini. kemarin juga sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan wali murid untuk mengetahui perkembangan siswa dan bagaimana jalannya pembelajaran saat daring. Banyak dari wali murid lebih menginginkan pembelajaran luring. Repot ke orang tua.


Pertanyaan: kalau yang luring Bapak?


Jawaban: sama, tetap harus komunikasi dengan orang tua. 


Pertanyaan: cara efektif agar siswa cepat paham menurut Bapak, menggunakan media apa? entah saat daring atau luring.


Jawaban: kebanyakan guru saat daring hanya memberi tugas lalu di suruh setor. Padahal, yang benar guru mengirim video penjelasan hari ini, setelah paham baru memberi tugas. Jadi, cara efektifnya menggunakan video, dan guru memberi rangkuman materi (seperti PPT) kemudian di print out atau di beri langsung di grup. Sedangkan kalau luring, praktek dan test.


Pertanyaan: Bagaimana cara Bapak memahami karakteristik siswa yang beda-beda? Apakah ada cara khusus?


Jawaban : siswa di nilai itu di bidang sikap, spiritual, pengetahuan dan keterampilan. Nah, hal itu bisa menggunakan test. Sebelum dan setelah. Jadi, setelah siswa di test, kalau menurut saya siswa belum bisa, maka dia di masukkan ke golongan siswa-siswa yang butuh bimbingan. Nah kalau di pelajaran agama, biasanya hari jum’at ada lest atau kelas intesif. Bisa belajar sholat, mengaji dan sebagainya. Dan, biasanya siswa kendalanya dalam memahami bahasa, banyak siswa yang nggak paham dengan soal-soal test, yang kemudian saat di ubah bahasanya kemudian bisa, atau saat di terjemah ke bahasa Madura, langsung bilang, “Oh iya Bapak, paham.”


Pertanyaan: apakah Bapak sudah mempunyai pandangan untuk ujian sesmter ini? bagaimana sistemnya? Menggunakan media apa?


Jawaban: kalau UTS, sudah dilaksanakan senin kemarin, dengan sistem luring. Dan kalau UAS, karena udah kesepakatan menggunakan luring, insyaa Allah luring. Kalau saya, membuat sendiri soal, yang kemudian di kasih sama siswa. Tapi biasanya, beberapa sekolah membentuk semacam kelompok dan membuatt satu soal kemudian di pakai oleh semua. Tapi menurut saya itu tidak bagus, karena tiap sekolah beda-beda, yang paham sama siswanya ya guru yang mengajarnya jadi yang tau bagaimana cara membuat soal dengan karakteristik siswanya guru yang mengajar. Jadi menurut saya lebih bagus kalau buat sendiri.


Pertanyaan: ini lagi bapak, apakah isu, “Minimnya Hp yang di miliki siswa” sehingga SD ini memilih luring?


Jawaban: bisa jadi. Karena kemaren saya dan guru-guru lainnnya mengadakan survey siapa saja siswa yang sudah mempunyai android dan ternyata banyak. Makanya sekolah ini mengajukan menggunakan luring saja.

Pertanyaan: Apakah dari pemerintah, SD ini mendapat bantuan paket data?

Jawaban: terlambat, itu pun hanya cair sebagian, jadi tidak semua sekolah mendapatkan. Nah, karena SD ini sejak September udah menerapkan sistem luring, jadi tidak dapat. 





Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

Add Comments


EmoticonEmoticon