Curhatan hati

Mengeluh tidak papa, nyerah jangan


Berawal dari bapak dosen yang memberikan tugas ke kelas ku, aku mulai mencari jawabannya, membaca modul yang ada dan sambil bertanya kepada teman-teman. Memang dua hari sebelumnya aku merasa sangat banyak sekali pikiran, dari tugas makalah yang kelompoknya tidak mau bekerja sama, dua tugas yang tadinya gampang menjadi ruwet ketika di teliti, dari acara organisasi yang megharuskan mikir sana sini, tugas di luar kampus yang harus dirampungkan setiap hari, dan lingkungan yang tak memadai.

Aku memiliki sifat, yang apa-apa akan di ambil ruwet, yang apa-apa harus dipikirkan, bahkan beberap hal yang menurut kalian mudah, akan bisa menjadi sulit menurutku, meyulitkan yang gampang, meruwetkan yang sulit. Ah ntah bagaimana harus kutinggalkan sifat itu.

Setelah banyak sekali hal yang harus di pikiri, aku pusing, sangat pusing. Kepala terus-terus an berdenyut, tapi ini bukan sakit. Selama dua  hari itu, aku harus mengikat kepalaku dengan kerudung dan memakai koyo sambil lalu mengerjakan tugas. Apa boleh buat? Mau ngandelin siapa lagi kalau bukan diri sendiri. udah dewasa kan ya.

Hari itu puncak ruwet nya aku, hari pertama aku pms dimana emosi sedang tidak stabil ditambah tugas yang belum kelar-kelar. Awalnya sudah kelar, tapi setelah di teliti ulang dan di kaji bersama teman-teman agak sedikit kurang benar, jadi jawaban yang sudah selesai itu menjadi sia-sia dan beberapa pihak menyalahkan diriku, alasannya karena sebelum mereka mengerjakan mereka bertanya padaku.


Tepat saat itu itu sebenarnya aku ada sakit hatinya, Tapi nggak papa aku tetap bawa bercanda dengan teman-temanku. Setelah siang harinya aku aku nggak tidur hanya karena diskusi tentang tugas yang belum kelar-kelar dan belum ada titik terangnya sorenya aku diharuskan menambah beban pikiran lagi masalah acara yang akan diselenggarakan hari Ahad, belum kelar tugas itu tu memikirkan dan tukar pendapat dengan teman se organisasi si tentang yang bagaimana caranya acara yang akan diselenggarakan berjalan dengan sukses. Sampai malam tiba dua hal tersebut belum rampung bahkan aku tidak jadi makan dari tadi siang.


Setelah itu sudah rampung satu tugas namun salah satu temanku kembali memberi informasi si tentang tugas tersebut yang mana konsepnya agak berubah sedikit, namun kenyataannya menjadi puncak masalah. Ketika aku pikir informasi yang diberikan temanku itu benar maka aku juga mengikuti informasi tersebut, dan aku ada niatan ingin memberitahukan pada teman ku yang yang sebenarnya tugasnya sudah rampung tapi aku kecocokan dengan memberi informasi tersebut sehingga dia fikir jawaban yang diberikan salah dan harus diperbaiki lagi.


Sebenarnya aku tidak menyalahkan siapa-siapa semuanya di sini salah menurutku, namun wajarkah hal seperti ini masih dibahas panjang lebar sampai menimbulkan emosi dari berbagai pihak. Pihak satunya yang sudah yakin akan jawabannya dan udah rampung tidak terima ketika aku menyampaikan informasi baru terkait jawaban tugas tersebut yang mana akan merubah jawaban yang telah rampung itu, namun dipihak satunya yang memberikan informasi berniat untuk mengajak mereka atau kau memberi informasi yang benar-benar kepada  mereka tentang tugas tersebut. 


Karena semuanya sudah emosi dan capek dengan tugas tersebut maka responnya negatif semua, pihak satu tidak terima pihak satunya kenapa hal yang benar yang harus disalahkan. Kenapa pihak yang yang diberi informasi oleh pihak satunya masih menyalakan pihak tersebut padahal niat pihak yang memberi informasi itu itu hanya ingin mengajak ke arah yang benar, Kenapa mesti disalahkan dengan alasan capek? Bukankah lebih capek mikir otak harus bekerja keras mencari jawaban yang benar daripada ada hanya gagal atau bolak balik dalam mengerjakan tugas.


Semuanya pada emosi, aku aku juga emosi tapi masih bisa aku pendam. Namun entah kenapa ketika aku Aku bercerita kepada teman-temanku yang sepihak denganku Aku menangis, ah kalau mengingat ini ngakak ya, kenapa harus nangis wkwk. Namun sebenarnya kita tidak apa-apa menangis wajar menangis pun bikin hati lega dan nantinya akan kembali berpikir dengan cerah tanpa harus ada emosi karena emosi tersebut sudah tersalurkan atau terbuang melalui air mata.


Intisari dari cerita tersebut yaitu Jangan pernah menyalahkan siapa-siapa, jangan langsung menjudge orang lain salah, coba posisikan kalau kalian ada di posisi itu, bagaimana perasaan kalian jika disalahkan juga padahal sebenarnya niat kita baik.

Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

Add Comments


EmoticonEmoticon