Opini Mahasiswa

Opini: suka duka kuliah di tengah pandemi










Penyebaran covid 19 yang semakin hari semakin meningkat membuat menteri pendidikan dan kebudayaan (Nadiem makarim) mengeluarkan kebijakan belajar dirumah saja untuk menimalisir penyebaran covid 19 plus sebagai cara untuk mencegahnya. Aku yang sedang menyandang gelar mahasiswi, eh wkwk harus juga menaati kebijakan dari kemendikbud. 


Terhitung delapan bulan aku melaksanakan kuliah secara daring, padahal menurutku tidak akan selama itu, jika sudah semester depan aku masuk seperti biasa, eh ternyata tidak. Selama delapan bulan itu banyak sekali kesan suka pun duka ketika kuliah daring. Bukankah setiap sesuatu yang terjadi itu pasti ada hikmahnya? Adanya pandemi yang tidak kita bayangkan sebelumnya memporak-porandakan rencana yang sudah menjadi to do list dan segala macam rencana lainnya, namun juga sangat bisa kita ambil hikmahnya, sekalipun memang yang terlihat nyata hanyalah duka.


Bisa pulang kampung


Yah, sekalipun kuliah masih di kota kelahiran sendiri, bukan berarti aku tinggal di rumah selama kuliah karena jarak yang masih terpantau jauh, keterbatasan kemampuan mengendarai kendaraan dan beberapa macam resiko jika terus-terusan PP (Pulang pergi),  membuat aku memilih mengontrak di dekat kampus bersama teman-teman lainnya yang berasal dari macam-macam kota. Dengan adanya covid 19 ini dan diturunkannya kebijakan kuliah daring maka aku bisa pulang ke rumah dengan tenang dan lama disana. Dan ini adalah sesuatu yang patut di syukuri.


Banyak waktu untuk melakukan hal produktif


di awal-awal kuliah daring memang ada rasa senangnya karena kita bisa berleha-leha sekalipun ada jam kuliah, kita masih bisa melakukan sesuatu sekalipun sudah waktunya kuliah (makan sambil kuliah), beda halnya jika kuliah luring, 30 menit sebelum itu haruslah siap-siap. Tetapi lama kelamaan, aku merasa jenuh sendiri hanya guling-guling tidak jelas di kasur, hingga akhirnya aku mencari ‘sesuatu’ yang bisa membunuh kejenuhan ku di tengah belajar online ini. dan finally, aku menggeluti di bidang tulis menulis yang memang hobby ku sejak dulu tapi tidak kusadari.


Nah, bersyukur adanya kebijakan kuliah di rumah saja membuat aku bisa melakukan hal produktif dan bisa menggeluti hobby yang semoga berubah menjadi potensi. Mungkin saja jika tetap kuliah offline dengan kesibukan kuliah bolak balik kampus, rapat sana sini tidak mempunyai waktu luang untuk melakukan hal produktif seperti ini. kesan baik kan?


Mendapat bantuan keringanan


Beralih ke semester selanjutnya, ada beberapa keringanan yang diberikan oleh kampus, yakni penurunan UKT dan pemberian paket data (10 GB). Sekalipun aku tidak kebagian penurunan UKT tersebut, tapi bersyukur karena masih bisa mendapat paket data dari kampus. Hal ini bisa sedikit membantu meringankan beban orang tua selama sebulan tanpa membeli paket data.


Kemudian beberapa kesan yang bisa dibilang kurang enak ketika kuliah di masa pandemi diantaranya ialah


Pengeluaran  meningkat


Kuliah secara daring memang pasti memboroskan kouta, apalagi di awal-awal kebijakan kuliah di rumah saja, beberapa dosen memerintah mendownload aplikasi yang MB nya agak besar seperti zoom, edmodo, google mate dan sebagainya, yang bukan hanya memberatkan hp tapi juga memboroskan paket sehingga pengeluaran membeli data menigkat dari biasanya.jika tidak bisa mengisi maka tidak akan mengikuti pelajaran.


Bukan hanya paket, aku yang notabenenya anak kontrakan juga masih harus membayar uang sewa, yang menurutku agak sia-sia, karena sekalipun aku membayarnya aku tidak tinggal disana, paling hanya dua hari tiga hari jika ada keperluan itu pun tidak terlalu sering.


Sulit memahami pelajaran


Jika dilihat dari pandangan aku sebagai seseorang yang lebih paham di jelasin langsung oleh dosen melalui tatap muka, dengan adanya kebijakan kuliah dirumah saja, aku kesulitan menangkap pelajaran yang sudah dibawakan dosen ataupun dibawakan mahasiswa (metode diskusi). Bahkan, masih ada beberapa dosen yang hanya memberi materi tanpa penjelasan, memberi tugas tanpa adanya penjelasan tentang tugas itu atau pun dosen yang acuh tak acuh terhadap pemberian materinya, hanya menyuruh absen lalu menghilang begitu saja. sehingga banyak mahasiswa yang mengeluh, “kuliah semester ini hanya banyak dapat tugas, paket data yang cepat habis tapi tidak dapat ilmu apa-apa”. yah, aku antara setuju dan tidak setuju dengan pernyataan itu, setuju karena memang aku lebih banyak tidak pahamnya terhadap materi pelajaran, tidak setuju karena masi ada sedikit-sedikit materi yang bisa kutangkap di semester ini.


Metode dalam penyampain materi pun masih terkesan kaku, belum ada cara kreatif-kreatif yang bisa meningkatkan motivasi belajar siswa. Paling-paling hanya satu dua dosen yang menggunakan metode baru.


Apalagi jika ada tugas praktik atau wawancara, selain sulit keluar karena kebijakan masih dirumah saja juga keterbatasan penjelasan dosen dan kekompakan mahasiswa yang dimana juga tidak bisa lagi berkumpul tatap muka untuk mendiskusikan tugas.


Adanya pandemi ini tidaklah hanya bisa kita sesali, tetapi juga bisa syukuri dan semakin giat dalam berpikir kritis dan kreatif agar tidak terlalu kudet dalam menanggapi zaman yang teknologinya semakin canggih ini. kebijakan tentang kuliah dirumah saja juga bukanlah hal yang salah, karena dengan kita tidak berkumpul dengan orang banyak maka juga menimalisir penyebaran virus corona ini dan ini adalah hal terbaik untuk kita semua. Right? Percayalah segala hal yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah. Masih meragukan Allah? Oh jangan. Ayok balek!


Sumber: 

www.kompas.com

www.cnbcindonesia.com

Nasional.kompas.com

#ODOP

#OneDayOnePost

#Tantangan9


Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

Add Comments


EmoticonEmoticon