Curhat tentang My Big Why, kenapa ngeblog?




Hm, sebenarnya ini tugas sih, bukan dari hati banget. Maksudnya, aku nggak pernah dapat ide buat nulis big why, kenapa ngeblog di sini (hayo pada suuzon), tapi karena memang aku adalah pribadi yang jarang sekali nulis masalah mimpi, paling sering dan bahkan setiap hari adalah curhat pasal hati wkwk.


Kata orang, menulis mimpi di kertas atau di mana saja itu akan lebih mudah digapai, tapi kalau aku pribadi, memang iya ada pengaruhnya, tapi sedikit. Aku lebih semangat lagi, bangkit lagi kalau ada banyak orang yang mendukung, ada banyak kata semangat yang aku dengar. Aneh ya? Terkadang juga, tanpa dorongan orang lain aku bangkit, tapi itu pasti tidak bertahan lama.


Jadi curhat kan? karena aku memang suka curhat, bahkan kalau balas chat teman-teman, aku jarang balas singkat. Alhamdulillah, akhirnya aku di nobatkan jadi seorang yang suka spam ahaha.


Baiklah, kembali ke laptop.


Big why, kenapa ngeblog.




Kalau ditulis disini semua sih, banyak ya. Sudah paham kan kalau aku suka curhat? Nanti kalian bosan kalau isinya curhat mulu. Cekidoot.. kalau kebablasan curhat lagi, maafkan saya ya wkwk


Hobi dan cita-cita


Yeah, pastinya alasan awal kenapa aku ngeblog ya karena aku suka nulis dan suka sekali curhat (sudah bilang berulang kali loh hm). Aku sudah punya diary sejak aku sekolah dasar, Bapak yang mungkin paham dengan hobi ku, membelikan ku buku diary yang lucu. Isinya mah ya curhat nggak jelas gitu pastinya wkwk. sampai hari  ini pun, aku masih curhat, kadang ditulis di buku, kadang di WhatsApp (sengaja punya dua WhatsApp biar bisa ngirim curhat tanpa dilirik orang).


Aku telat menyadari jika “aku suka nulis maka aku bisa jadi penulis”. Hal itu terlintas baru-baru ini ketika aku sudah berumur 20an, di usia dimana banyak manusia stress mencari jati diri, mikir kapan sukses, mikir bagaimana dapat uang sendiri. galau cuy. Hati-hati saja.


Menyadari itu, aku langsung nanya ini itu ke teman, dosen dan cari tau sendiri. Alhamdullah, respon mereka membuat ku semangat untuk menulis cita-cita baru, penulis bermanfaat. Iya benar, baru-baru ini.


Dosen yang menjadi tempat curhat dadakan ku memberi saran untuk terus mengasah tulisanku, beliau juga menyarankan untuk memulai nulis di blog. Yah, inilah awal mula kenapa menulis di blog, Jazakillah khair Ibu.


Oh iya, di blog juga kita bisa bebas nulis sampai beribu² kata yakan? Beda kalau kita nulis di sosmed-sosmed, nggak boleh banyak-banyak, ada batasannya ahaha. Namun, aku nggak mengenyampingkan sosmed loh, aku juga nge-share tulisan yang sudah aku post di blog ini, tapi cuma separoo, biar mereka yang baca penasaran apa lanjutannya, jadilah buka linknya ahaha


Baca juga

Curhat saat blog berumur sebulan 

Kebiasaan baru di bidang literasi 

 

 

2.   Tidak punya teman tetap curhat


Miris  ya? Ahaha. Suka curhat tapi tidak punya teman buat curhat. Eits, bukan berarti aku tidak punya teman, banyak noh. Tapi memang hanya segelintir orang yang sungguh-sungguh menjadi teman. Sejak kuliah, aku berhenti menulis diary di samping kesibukan  menjadi mahasiswi yang harus lebih banyak menulis materi dan mengerjakan tugas, aku juga punya tempat curhat, beberapa teman.


Lama kelamaan, aku merasa, aku membebani mereka. Aku bisa spam sampai 60 pesan, voice not 6-10 menitan. Kalau kalian jadi tempat curhat ku, bosan kan yah? Jenuh apalagi. Sebenarnya ini cuma perasaanku saja, tapi yah apa salahnya aku berhenti curhat untuk mengurangi beban mereka? Online pula, paketnya dikuras. Aku bukan berhenti total sih, hanya saja jika aku masih bisa menampung sendiri, aku tampung, jika tidak ya aku curhat, tapi pastinya tidak banyak.


Nah, dari itu aku mulai menulis lagi, mulai menuangkan segala resah menjadi tulisan. Alhamdulillah, resah dan sakit hati bukan lagi menjadi curhatan alay tetapi bisa dikemas menjadi puisi, quote dan tetap menjadi curhatan namun yang bisa di ambil manfaat. Impianku bukan hanya sekedar menjadi penulis, tetapi penulis bermanfaat. Utamanya untuk aku dan umumnya untuk yang lain.


3.   Lari dari publik speaking


Aku jadi mikir, “Aku phobia panggung nggak sih?”. Kecil dulu, aku anaknya berprestasi (sombong ciee), menjadi siswa sekolah dasar yang juara satu dari kelas 1 sampai kelas 6. Menjadi siswa sekolah madrasah yang juara satu jika ada imtihan. Tapi herannya, publik speaking ku nol. Padahal, cerdas cermat juara, lomba bergilir juara. Aneh?

 

Aku orangnya memang pemalu hehe, tapi ya tetap aja heran, kenapa begitu wkwk.

 

Jangan berfikir macam-macam dulu deh. Aku sudah pernah menjadi moderator pas kuliah, aku pernah jadi MC saat acara (sekalipun acara kecil), aku juga pernah menjadi pemimpin rapat divisi ku (kecil juga sih ahaha). Tapi tetap saja, aku masih merasa demam panggung, nggak bisa publik speaking. “kurang usaha sih”, hoh iya kali ya, abisnya kalau aku benar-benar gemeteran bukan cuma badan, tapi suara. Nampak banget gitu, kan malu cuy ahaha.  Nah, jadi aku kabur deh, mau jadi penulis aja lah. Toh, penulis juga  bisa sukses kan? jadilah aku lari ke ngeblog.


Banyak juga persepsi, “kalau nggak bisa bicara depan kamera, mana bisa dikatakan sukses”. Eh iya tunggu, aku pernah loh ikut event baca cerpen dengan kurun waktu 19 menit, nggak grogi tuh. Groginya aku tuh ya Cuma pas matanya berpapasan gitu. Ah ya gitulah pokoknya.


Kembali ke persepsi, aku cuma ingin menyampaikan hasil kerja otakku wkwk. Yah, bidang sukses untuk semua orang itu berbeda dan siapapun tidak boleh menuntutnya dan menghakiminya. Bukan berarti orang yang tidak jago publik speaking tidak akan pernah mencicipi kesuksesan. Memang sukses di ukur dengan pandai bicara depan orang?


Aku pernah  menerima cerita dari seseorang yang sangat pemalu, ia hanya bisa menyampaikan aspirasinya lewat tulisan-tulisan. Dan endingnya ia sukses menjadi penulis dan ujung-ujungnya ia bisa berbicara depan kamera. Bisa jadi kan endingnya aku begitu juga, toh aku bukan benar-benar tidak bisa publik speaking, aku pernah punya pengalaman seperti yang disebut diatas. Bisa jadi kan? ayolah jangan mematahkan semangat wkwk.


4.     Personal branding


Seorang penulis itu sukses jika sudah menulis buku dan diburu pembaca, begitu persepsi orang-orang. Aku ulangi, sejak kapan sukses itu diukur dengan hal demikian? Lagi pula, proses juga kali, sampai di tahap sini sudah Alhamdulillah, daripada tetep dengan kebiasaan curhat nggak jelas. Eh, curhat juga itu salah satu dari sebagain proses buat jadi penulis hebat juga deh.


Analogi ku, jika aku seorang penulis pemula yang sok-sok an menulis buku kemudian lolos cetak, siapa yang akan mau membeli penulis yang tak dikenal? Ada sih, tapi sedikit. Beda dengan jika mas rifa’i yang menulis buku kemudian terpajang di gramedia, orang-orang berebutan, karena apa? ya karena mereka sudah tau dan tidak akan merasa menyesal membelinya, wonk mas rifa’i sudah terkenal dengan seorang penulis best seller ya kan!


Begitulah, maka aku sebagai penulis pemula tidak langsung menulis dan menyetak nya (meski sudah punya beberapa pandangan mau nulis apa). banyak sekali contoh-contoh orang-orang yang menulis buku tapi hanya segilintir orang yang membeli. Itu karena mereka masih menyimpan keraguan lanjut beli atau tidak.  Namun, bukan berarti kita tidak mau nulis buku, proses toh, bangun personal branding nyambi nulis. Biar kalau udah banyak yang percaya, bukunya langsung tercetak? Eh, ini buat ku juga sih ahaha.


Menulis di blog sebagai bentuk untuk membangun personal branding ku. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit orang-orang tau sama aku, contoh kecil, “Weh iya, sulfa yang punya web sendiri; ww.penasulfa.com”, atau bahkan secara langsung memuji, “Wah kakak tulisannya bagus, saya suka. Tetap semangat jadi penulis ya”. Yah, Alhamdulillah beberapa orang sudah percaya, bahkan juga ada beberapa yang bertanya-tanya soal menulis dan blog. Jadi seolah-seolah aku tau dan pengalaman di bidang itu, padahal nyatanya belum nyelam begitu dalam hm. Tapi nggak papa kan yah? Ini mah usaha bangun personal branding.


5.    Merekam jejak peristiwa


Katanya sih, ini juga di sebut journaling. Peristiwa-peristiwa yang dialami ditulis dan diabadikan. Tapi benar loh, curhat yang ditulis itu bisa mengenang masa lalu di masa sekarang dan seolah-seolah kita bisa kembali ke masa itu. mengingat jelas betapa alay nya aku dulu, lebay nya aku dulu dan paling mengesankan peristiwa penting-penting tidak akan terlupakan begitu saja. Makanya, aku tulis di blog.


Bukan hanya peristiwa, tapi ilmu dan pengalaman tetap abadi. Aku terkadang menscroll sosmed-sosmed dan blog ini untuk melihat dan membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Bisa juga sebagai perbandingan, antara tulisan yang dulu dengan yang sekarang, sudah ada perubahan belum?


Baca juga

cerita miris ku dengan sepeda ontel

 

6.    Bertemu banyak teman se visi


Sudah pernah kukatakan tadi bukan, aku adalah pribadi yang semangatnya berkobar-kobar jika di semangati orang lain? Nah, untuk tetap menunjang semangat menulis, aku harus masuk ke berbagai komunitas yang se visi tentunya bermodal ingin menjadi penulis. Salah satunya masuk di ODOP (one day one post) ini. Alhamdulillah semangat terus, apalagi kalau diberi tugas ahaha.


Bertemu dengan teman se visi juga bukan tidak mungkin kita bisa dapat ilmu secara percuma. Bisa saling sharing, bisa minta saran, bisa minta bantuan kan nggak akan ribet sendiri?


Baca juga

Salah satu komunitas yang aku ikuti

Pentingnya berkomunitas

Hari blogger


7.    Mendapat uang


Ahaha aku kalau sudah bicara uang, mata langsung melek. Bukan berarti mata duitan atau apalah, tapi karena sejak dulu aku memang suka menabung, jadi suka banget gitu kalau tabungan diisi setiap hari ahaha. Lagipula manusia mana yang nggak mau dapat uang?


Yah, sekalipun sampai saat ini belum dapat uang (ini lagi proses broo sabar nape), aku nggak mau nyerah wkwk, sayang aja gitu udah nyelam tapi nggak dapat ikan wkwk. apalagi menjadi blogger ada budget yang harus dikeluarin, meski itu tentang hanya penghabisan paket data ahaha, itu juga uang loh.


Big why, kenapa ngeblog juga paling awal-awal aku pikirkan, ya biar dapat duit. Tapi setelah masuk lebih dalam ke dunia blog, ternyata bukan jalan mudah untuk mendapatkan cuan pun sadar tulisan yang bermanfaat bagi orang lain itu sangat membahagiakan. So, belum dapat duit pun tak apalah, bermanfaat ke orang lain dulu, baru uang ngejar ahaha.


Nggak kerasa ya, ini adalah tulisan panjang ku yang selesai hanya sejam dua jam (baterai laptop emang cepet abis juga wkwk) Nggak dibayar loh, tapi tetap senang mah. Big why, kenapa ngeblog versi sulfa nih, versi mu mana? Curhat sini yuk.

 

 

 

 

Related Posts

Hai.. Panggil saja saya sulfa, atau Aini gpp, kalo di gabung jadi sulfaini, itu nama asli saya. Lahir di tanggal yang unik; 06 06 2000.

6 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. No 5. Kalau kita mengabaikan masa lalu, kita takkan bisa memprediksi masa depan (Sengoku)

      Hapus
    2. Betull!! Gabisa belajar dari kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu dan yang lainnya. Mantap, terimakasi ya:)

      Hapus
  2. Hwah saya setuju dengan poin nomor 6 kak, dengan blog kita banyak bertemu dengan teman si-visi nih, apalagi setelah gabung dengan squad blog ODOP

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kak yonal.. udah lama nih nggak mampir. yes, dengan karunianya komunitas (odop) saya bisa kenal kak yonal ahaha.

      Hapus


EmoticonEmoticon