Cari Apa?

Review Buku, "Berdagang dengan Allah Nggak Ada ruginya".

Review Buku, "Berdagang dengan Allah Nggak Ada ruginya".

Buku berdagang dengan Allah Nggak ada ruginya

Identitas buku


Judul Buku: Berdagang dengan Allah Nggak Ada Ruginya

Penulis: Syahrul

Tahun terbit: 2017

Penerbit: quanta, PT Elex media Komputindo

Jumlah halaman: 242

Pengulas: Sulfaini


Jujur, aku kira ini buku akan membahas kiat-kiat bagaimana cara berjualan menurut agama. Seperti layaknya buku-buku cara berdagang lainnya. Sebab tak heran bukan, judulnya ada kata berdagangnya. Usut punya usut, ternyata bukan membahas cara berdagang gaes, but tentang jual beli kita dengan Allah. “Lah, emang maksudnya gimana? Siapa yang jadi penjual? Siapa yang jadi pembeli? Dan apa yang diperdagangkan? Serta bayarnya Pakai apa?” Mikir ini nggak?


Judulnya menjebak dan penulis sukses membuat readersnya penasaran. Dan, menariknya lagi, pembahasannya sangat seru sekali. Banyak pembahasan yang penulis bahas tentang keseharian kita tapi yang susah sekali kita sadari. Lihat saja judulnya. Emang kalian pernah jual beli dengan Allah? Nggak? Padahal jawabannya iya.


Mau aku kupas? Baiklah. Silahkan baca dengan santai.


Bertransaksi dengan Allah Nggak ada ruginya, malah untungnya banyak. Bagaimana tidak? Contoh kecilnya, kita sedekah sedikit, tapi Allah kasih pahala dan ganti yang banyak. Rugi? Nggak, malah untung sekali. Iya, hal tersebut penulis kiaskan menjadi, jual beli dengan Allah. Bahkan, penulis tidak segan memberi nama babnya dengan menjual diri pada Allah. Menjual diri sepertinya sudah mengarah ke hal negatif, but urusan dengan Allah tidak. Tidak ada negatifnya ketika ‘menjual diri’ bahkan nanti Allah tambah sayang.


Hakikatnya, Allah tak pernah membeli sesuatu sebab Allah lah pencipta sesuatu tersebut, Kiasan seperti ini hanya ingin memuliakan manusia. Jika Allah saja masih berbuat demikian, mengapa hambanya tidak pernah berbuat hal yang sama?


Pembahasan lengkap mengenai kehidupan manusia


Berdagang dengan Allah Nggak Ada Ruginya


Ya, keseharian yang dilakukan oleh kita; manusia. Ada banyak hal yang tidak manusia sadari padahal hal itu sangat berarti. Bahkan kadang, sering membodoamatkan. Padahal, hal itu juga akan menjadi sebuah perubahan baik jika dipikirkan, apalagi nanti setelah kesimpulan nya dipraktekkan.


Seperti di pembahasan tentang, “Dicabutnya kenikmatan ibadah”. Mungkin, ini bisa dikatakan pembahasan yang paling menarik dan sangat menampar sekali. Sepertinya banyak orang yang sering mengabaikan hal ini, tak luput juga aku. Dengan enak-enaknya kita menikmati pemberian Allah, senang sekali ketika ada banyak harap yang langsung terkabul, ada banyak kejadian jelek, namun kita terselamatkan. Padahal, apa yang sudah kita persembahkan kepada yang Maha pemberi Segalanya ini? Berapa banyak amalan dan ibadah yang sudah kita lakukan? Sedikit bukan?


Pernah mikir kalau itu istidraj? Aku sering. Bukan maksud mau suuzon, tapi mikir, “Ibadah ku ya gini-gini aja, sunah-sunah nya ya gitu-gitu aja, tapi rezeki lancar, segala hal dipermudah dan yang lain”. Seperti di penjelasan dalam buku, Allah cabut nikmat ibadahnya. Tidak lagi merasa butuh ibadah, susah melaksanakan kewajiban apalagi yang Sunnah dan sebagainya. Kalau benar seperti ini, harusnya kita makin senang apa sedih? Ini juga sebagai pengingat diri ya gaes, aku sering mikir gini biar ada sadar-sadar nya dan ada berubahnya, meski ga langsung seratus persen. Seperti power rangers dong nanti.


“Adapun kita orang mukmin, hukuman atas dosa adalah terputus nya kemesraan dengan Allah” (Hal 93)

 

Ada lagi pembahasan menarik tentang dibalik keterbatasan ada kenikmatan. Mungkin kebanyakan orang merasa bahwa hal-hal yang dibatasi itu tidak baik dan cenderung negatif. Padahal salah satunya agar kita aman, makanya dibatasi. Pernah mikir tidak, kalau seandainya pendengaran kita tidak dibatasi besar kecilnya volume dan dekat jauhnya jarak, maka pasti ketika kita menyendiri di kamar, kita masih mendengar suara bising keramaian kota, riuhnya di pasar dan yang lain. Ada lagi, jika penglihatan kita tidak dibatasi, maka pasti kita akan melihat banyak bakteri di tempat kita, makanan dan lainnya dimana ini akan menimbulkan kejijikan. Emang tenang hidup seperti itu? Tidak kan? Jadi jangan menganggap bahwa batasan Allah itu adalah kekangan, tetapi agar kita aman.


 “Manusia sempurna adalah manusia yang memiliki keterbatasan, namun mampu mengembangkan keterbatasan nya menjadi potensi. Kesempurnaan manusia terletak pada potensi yang dimiliki. Manusia diberikan nafsu dan akal yang mendampinginya. Ini yang tidak diberikan kepada semua ciptaanNya” (Hal 134)

 

Dan banyak pembahasan menarik lainnya. Tentang bersyukur, istighfar, masalah, kematian, dosa, rezeki dan serta pembahasan yang lain. Ada banyak sub bab yang dibahas namun hanya tiga atau empat halaman saja, tapi sudah cukup sekali membuat sadar dan tertampar.


Kelebihan buku dan kekurangan buku, "Berdagang dengan Allah Nggak Ada Ruginya"


Kelebihan


Aku tertarik dengan segala pembahasan yang dibawa santai oleh penulis. Kalem, tapi ngena. Entah harus berapa lama penulis menyelesaikan buku lengkap tersebut, pastinya buku ini pembahasannya bagus sekali. Penulis menyinggung banyak persoalan yang banyak tidak disadari oleh manusia. Bahasanya yang santai membuat aku semakin asik membacanya, apalagi ditambah dengan penjelasan yang tidak bertele-tele.


Selain pembahasannya menarik, sumber-sumber yang dicantumkan pun tak kalah menarik. Ayat Al-Qur’an bertaburan dalam bukunya, hadist-hadist pun tak luput di tulis. Paling menariknya lagi, penulis banyak mengambil kisah-kisah dari orang lain sebagai penguat dari pembahasannya. Entah dari kisahnya sendiri, orang biasa, orang besar dan bahkan sahabat-sahabat beserta nabi juga masuk dalam pembahasan nya. Benar-benar bagus banget


Kekurangan


Sedangkan kekurangannya adalah masih banyak typo kata yang tersebar di beberapa lembar buku. Ada beberapa kalimat yang harus dibaca ulang agar paham. Sampul dan lembar buku sebenarnya sudah bagus, Cuma sepertinya masih agak rapet rapet paragraf nya sampai kadang aku jenuh hehe.


Buku berdagang dengan Allah nggak akan rugi ini salah satu buku yang harus kamu punya dan bahkan dianjurkan dibaca berulang kali, sebab buku ini akan membuat pembacanya sadar, tertampar dan mempunyai keinginan untuk merubah sesuatu yang dari kemarin diremehkan dan diacuhkan.

Baca juga

Review buku saatnya kemilau bukan galau

Review buku menjemput pelangi




{{ x.judul }}