Cari Apa?

Desa Sotabar Sukseskan Event Tahunan Budaya Rokat Tasek/Petik Laut

Desa Sotabar Sukseskan Event Tahunan Budaya Rokat Tasek/Petik Laut

 

Budaya Rokat tasek atau petik laut di sotabar

Pengertian Budaya Rokat Tasek

Budaya merupakan bentuk jamak dari kata Budi dan daya yang artinya cipta, Karsa dan rasa. Kebudayaan adalah sistem nilai yang terkandung dalam sebuah masyarakat.

Rokat tasek asli dari bahasa Madura yang berasal dari bahasa Jawa yaitu ruwat yang berarti melebur, sedangkan tasek itu dalam bahasa Indonesianya adalah laut. Rokat tasek atau yang biasa disebut dengan petik laut merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat pesisir sebagai bentuk rasa syukur atas segala limpahan rezeki melalui laut sehingga dapat bertahan hidup. 

Masyarakat pesisir pekerjaan dominannya yaitu melaut atau nelayan. Sama seperti di Sotabar yang berdaerah pesisir kebanyakan orang-orang sini bekerja sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehingga sebagai bentuk rasa syukur nya maka mereka melaksanakan rokat tasek.

Pelaksanaan Budaya Petik Laut di Sotabar

Di desa Sotabar, rokat tasek dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 05-06 Juni 2022. Sebelum pelaksanaan budaya tersebut, Agen pengepung ikan, semua jhuragan sampan dan kepala desa mendiskusikan rancangan budaya ini sehingga terdapat empat acara di event tahunan kali ini. Maklum, dua tahun budaya ini tidak terlaksana karena adanya covid-19 yang tidak boleh membuat kerumunan, apalah daya budaya ini paling diminati oleh masyarakat Sotabar, gimana nggak rame? Wkwk.

Pawai Perahu

Pawai perahu atau pawai sampan

Pelaksanaan pawai perahu menjadi satu-satunya acara yang paling meriah menurut ku. Antusias masyarakat desa sotabar terutama bagi jhuragan sampan (orang yang punya sampan/perahu) tidak bisa diragukan lagi. Persiapan untuk acara ini pasti dilakukan dari waktu yang lama, bahkan sebulan sebelum acara, para jhuragan sampan sudah sibuk mencari sewa kesana kemari untuk mempercantik perahunya. 

Seperti yang terjadi kemarin, setelah mengfix kan event tahunan ini, para jhuragan mulai mencari sewa an seperti bendera, lampu warna warni, hiasan untuk sampan dan lainnya. Bahkan, cat perahu yang mulai kusam diperbarui lagi. Tak ayal, uang yang dihabiskan untuk mempercantik perahu berjuta-juta rupiah. Menurut para jhuragan, tak apa. Toh, ini sebagai ajang kekompakan.

Seminggu sebelum acara dimulai, biasanya persiapannya semakin menjadi-jadi. Para jhuragan dan sekelompoknya biasanya akan sering ke pantai. Entah sudah mulai mempercantik perahu sendiri ataupun membantu perahu-perahu yang lain, seperti ketika perahunya di naikkan ke darat untuk lebih mempermudah menghias. Bahkan, mereka sampai begadang pulang larut malam dari pantai hanya untuk berdiskusi bercerita dan gotong royong mempercantik perahunya. Benar-benar antusias sekali.

Di hari H, pagi-pagi sekali pantai sudah mulai di padati masyarakat, tak hanya dari masyarakat desa Sotabar sendiri, namun juga masyarakat luar. Setelah sampan sudah siap diluncurkan, para masyarakat yang punya perahu dan kerabat-kerabat nya biasanya mulai naik, ya mereka akan ikut naik ber panas-panas ria dengan yang lain. MC akan memandu jalannya pawai, setelah kepala desa beserta staf nya sudah berada di perahu, perahu-perahu lain diintruksikan untuk berangkat, mengeliling lautan daerah Sotabar dulu, setelah sudah berlayar semua baru mulai pawai ke daerah barat, sampai tamberu. Ratusan orang menaiki perahu nya dan memeriahkannya.

Rame dan seru. Begitu keadaan ketika mengikuti pawai perahu. Berjoget-joget ria, makan-makan di perahunya, melihat banyak orang di daratan yang ikut menyaksikan dan bahkan ada yang jadi Marlena, nyi loro kidul, manten, dan pak sakera. Sambil salip menyalip dengan perahu lainnya, menyapa siapa aja yang kenal di tengah lautan, dan tak lupa dokumentasian. Seru sekali.

Baru setelah ke barat, maka semua perahu kembali ke Sotabar dan kembali di jejer dengan rapi, semua yang ikut sudah turun. MC mengumumkan bahwa nanti setelah sholat Dzuhur akan ada orkes dan pembagian hadiah sebagai bukti kekompakan dari agen pengepung dan para jhuragan sampan.

Orkes

Sekitar jam setengah satu, para masyarakat kembali memadati pinggiran pantai, mengelilingi panggung yang berada di tengah pinggiran pantai. Setelah para penyanyi sudah datang, acara tersebut sudah dimulai. 

Sebelum itu, agen pengepung ikan mengumumkan sampan siapa yang berhak mendapatkan hadiah. Agen tersebut mengumumkan bahwa ini bukanlah lomba, hanya sebagai reward untuk para jhuragan yang sudah membantu dan berpartisipasi dalam acara ini. Tidak dipilih berdasarkan cantik nya perahu, tapi siapa yang berpartisipasi itu terpilih. Ada sepuluh jhuragan yang terpilih dengan reward yang berupa kulkas, mesin cuci, kipas, blender, kompor dan yang lainnya. 

Setelah diumumkan, barulah penyanyi mulai menghibur. Para jhuragan dipersilahkan untuk menyawer. Acara ini selesai sebelum adzan ashar. 

Khataman Al-Qur'an

Keesokannya, ditanggal 6 Juni. Para jhuragan sampan berkumpul di rumah agen pengepung ikan untuk khataman Al-Qur'an. Rokat tasek menjadi salah satu budaya yang dilaksanakan bagi masyarakat pesisir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah dengan segala limpahan rezeki melalui laut. 

Dengan ini, kegiatan rokat tasek ada khataman Al-Qur'an dan berdoa bersama. Berterimakasih atas segala limpahan sumber daya alam berupa ikan yang menjadi mayoritas pekerjaan masyarakat pesisir sehingga membuat masyarakat dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari nya. Selain itu juga berdoa supaya Allah tetap melimpahkan sebanyak-banyaknya untuk masa selanjutnya dan memohonkan keselamatan. Sebab, berlayar di tengah laut tidak lah mudah. "Abhental ombak asapok angin". Beda lagi kalau ombak nya besar dan anginnya kencang, para nelayan haruslah tahan dengan suasananya. Ketika sudah dapat ikan, mereka juga harus kuat menarik dengan tangan mereka sendiri melalui jaring-jaring, mereka tidak punya alat yang terlalu canggih. Tak ayal, telapak tangan para nelayan kasar dan terkadang luka-luka. Benar-benar butuh perjuangan.

Ketoprak Madura (Rukun karya)

Ketoprak Madura Rukun Karya

Sore hari, di pinggir pantai mulai dirancang tempat untuk pelaksanaan ketoprak Madura, istilah biasanya lodrok. Masyarakat Sotabar terbiasa mengundang ketoprak Madura yang sudah terkenal, yaitu rukun karya. Rukun karya ini diketuai oleh Edi Suhandi, awalnya Harun tapi karena sudah Alm. Maka diganti anaknya. Rukun karya ini pemainnya juga kebanyakan anggota keluarga Edi. Anak-anak nya semua menjadi pelawak, bahkan yang masih kecil sudah bisa melawak di atas panggung. Hebat.

Ketoprak ini dimulai dari jam setengah sebelas malam namun sebelum adzan Maghrib tempat itu sudah dipadati oleh masyarakat. Entah untuk melihat atau mengambil tempat duduk. Ya, mereka datang membawa alas untuk malam nanti persiapan biar menontonnya nyaman dan tidak berdiri. 

Meskipun dimulai sangat larut malam, hal itu tidak menjadi halangan bagi masyarakat untuk tidak menontonnya, setiap tahun lodrok ini sangat diminati, tak hanya bagi masyarakat Sotabar namun juga untuk Masyarakat luar. Mereka memadati tempat mulai dari yang dekat panggung sampai ada yang di atas gudang, di pinggir pantai dan ada yang di sampan.

Ketoprak ini biasanya selesai sebelum adzan subuh, jam tiga pagi. Sehingga bisa dikatakan banyak masyarakat yang tidak tidur atau bahkan ketiduran di pantai hingga acaranya selesai.

Pelaksanaan event tahunan budaya rokat tasek/petik laut di bulan Juni sangat meriah dan menarik kekompakan dari berbagai pihak, kades dan staffnya, agen pengepung ikan, para jhuragan sampan serta masyarakat biasa. Bisa dikatakan di desa Sotabar, acara yang paling meriah dan ditunggu adalah rokat tasek

Begitu yang penulis ketahui tentang pelaksaan budaya rokat tasek di desa Sotabar. Penulis adalah salah satu Masyarakat yang sejak lahir tinggal disana hehe. 

Baca juga

Mengenal budaya petik laut

Wisata favorit di Madura

{{ x.judul }}

Anonim

Baru tahu saya tradisi ini, semoga tetap terjaga yaaaaa 🤗 Terimakasih banyak informasinya, sangat bermanfaat.