Cari Apa?

Review Novel, "Hujan" Karya Tere Liye

Review Novel, "Hujan" Karya Tere Liye

Review Novel Hujan


Identitas Novel:

Judul: Hujan

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2016

Jumlah halaman: 320 halaman

No. ISBN: 978-602-03-2478-4

Tersedia di: Aplikasi Ipusnas Online


Blurb Novel

Tentang persahabatan

Tentang cinta

Tentang Melupakan

Tentang perpisahan

Dan tentang Hujan


Blurb dari penasulfa


Ini tentang Lail, anak yang suka hujan. Ia akan memulai sekolah lagi setelah liburan. Ia dihantar ibunya menggunakan kereta bawah tanah. Lail dan ibunya berangkat lumayan siang karena lail yang susah dibangunkan. Di sepanjang perjalanan, Lail ditelpon ayahnya yang sedang bekerja di negeri yang berbeda dengannya, ayahnya berjanji akan pulang Minggu depan pada Lail. Namun, tak lama dari itu ada guncangan di kereta bawah tanah tersebut, rupa-rupanya di atas bumi sana terjadi gempa, gempa yang dahsyat.

Lail dan ibunya berusaha selamat dari gempa tersebut, Lail dan ibunya sudah bisa melihat permukaan, tinggal Lail naik dan ibu yang dibawahnya juga naik. Lail pun sudah bergelantungan, namun ternyata gempa susulan datang mengakibatkan ibu nya terhempas jatuh ke dalam lagi, Lail meneriaki ibunya dan ketika ia hendak menyusul ibunya, tangannya di tarik oleh seolah anak laki-laki yang juga se kereta dengan Lail, ia menyuruh Lail naik daripada harus menjatuhkan diri mengikuti ibunya.

Sejak itulah, Lail selalu bersama anak laki-laki itu, ia bernama Esok. Esok adalah salah satu penumpang kereta yang selamat, namun empat kakanya tidak, sama dengan Lail yang selamat namun ibunya tidak. Esok tidak meninggalkan Lail, ia bersama Lail sampai digiring ke pengungsian. Ibu Esok yang di toko kue, ternyata masih hidup dengan kaki yang patah, sehingga ibu Esok dirawat dirumah sakit namun Esok tetap harus tinggal di pengungsian, bersama Lail.

Lail awalnya tidak semangat, namun ketika melihat semangat Esok dalam menjalani hidup ditengah tempat pengungsian, Esok yang selalu membantu timsar dan sampai ia direkrut menjadi penghantar kabar ke tenda-tenda pengungsian, Lail pun ikut juga. Ia membantu timsar yang bertugas di tenda, ia membantu mencuci piring atau yang lain yang masih bisa Lail lakukan. Esok, inspirasi Lail.

Esok selalu membawa lail di tempat ibunya tertimbun atau ke taman yang memancarkan air. Tempat nya rusak parah, namun esok dengan sepeda ontel merahnya yang ia pinjam ke petugas membuat Lail nyaman dan merasa dilindungi. Lail selalu dijaga dan diperhatikan oleh Esok, apalagi ketika ia tidak makan atau ia tidak ada di tempat pengungsian.

Setelah beberapa bulan, orang-orang yang ada di pengungsian akan dipindahkan ke panti, sebagian ada yang sudah pulang ke rumah saudaranya atau membangun rumah kembali. Lail yang tidak mempunyai keluarga sama sekali terpaksa harus ikut serta tinggal di panti, sedangkan Esok yang cerdasnya lumayan banyak diketahui dan membantu tim selama di pengungsian membuat ia diangkat oleh seseorang sehingga Esok tidaklah tinggal di panti, namun ia akan tinggal bersama orang tua angkatnya dan ibunya. Esok akan disekolahkan setinggi-tingginya sebab kecerdasan yang dimiliki. Dari situlah, Esok dan Lail berpisah.

Di pantai Lail bertemu dengan Maryam, cewek yang kribo dan jerawat di wajahnya. Awalnya Lail takut dan ragu, namun karena Maryam lincah dan asik, ia mulai bisa berteman dengan Maryam. Sementara Esok sudah melanjutkan sekolahnya. Lail dan Esok selisih dua tahun.

Sebulan sekali, biasanya Esok dan Lail bertemu. Esok membawa sepeda ontel merah yang pudar itu bersama Lail ke tempat ibunya meninggal atau ke taman. Mereka akan saling bercerita tentang apa yang mereka lewati selama sebulan. Esok dengan cerita di sekolah dan kehidupan barunya, dan Lail tentang Maryam dan kehidupan di panti. Lail juga memberi Esok topi berwarna biru yang pasti kemana-mana ketika bertemu Lail, Esok pakai.

Tiba di masa kuliah, Esok akan kuliah yang tempat nya berjarak jauh dengan panti sehingga tidak akan banyak waktu untuk bertemu Lail. Sedang Lail yang bersemangat mengikuti latihan dengan Maryam untuk menjadi relawan. Sibuk masing-masing, namun kadang Esok menemui Lail, setahun sekali.

Dengan segala apa yang dialami, di umur 20 tahun dan Esok yang berumur 22 tahun, merasa bahwa Lail telah mempunyai perasaan pada Esok, bukan menganggap kakak tetapi lebih. Jadi, bagaimana dengan Esok? Baca sendiri dong hahaha

"Kenangan sama seperti Hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya" (Hal 201)


Kesan membaca Novel Hujan

Tetap sama. Pasti ber alur maju mundur dan memberi banyak sekali pertanyaan. Penasaran, maksudnya apaa. Itu yang selalu aku dapat ketika membaca halaman-halaman depan buku Tere Liye. Hal kayak gitu sebenarnya bikin aku kesel. Malas baca. Cuma karena emang sudah terbiasa dengan pembawa Tere Liye, Jadi tetep harus baca. Lagipula, setelah aku antri mendapat bukunya, masa aku sia²kan wkwk

Akhirnya, jatuh cinta lah aku dengan alur nya. Alur maju mundur nya yang benar-benar memainkan emosi pembaca. Seolah tak sabaran mengetahui apa yang terjadi selanjutnya pada Lail. Dan di cegat oleh alur maju ketika Lail menceritakan masalalu tersebut.

Jadi memang, ini alur maju mundur yang menceritakan bahwa Lail ini datang ke seseorang yang bisa menghapus memori. Lail ingin menghapus memori tentang hujan, nah sebelum benar-benar dilakukan penghapusan, Lail harus bercerita. Lail bercerita mulai dari ia berangkat sekolah hingga masa sekarang. Hebat banget bukan? Jadi novel ini yang tebal 320 halaman berisi setengah hari saja, selebihnya semuanya adalah masa lalu. Bagus banget gilaaa.

"Ratusan orang pernah di ruangan ini. Meminta agar semua kenangannya mereka dihapus. Tetaoi sesungguhnya, bukan melupakan yang menjadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan" (Hal 308)

Dalam cerita hujan, kejadian tersebut menceritakan masa depan, 2042 hingga seterusnya. Belum sampai aku di masanya, sekarang masih 2022. Namun, alangkah meng wow ketika cerita itu menggambarkan di tahun 2042 hingga seterusnya teknologi sangat canggih. Cip yang terpasang di lengan memudahkan segalanya, menelpon, membayar, beli tiket dan sebagainya. Bahkan di 2044, katanya cukup memikirkan kalimat yg ingin ditulis, cip tersebut akan otomatis menulis. Membangun gedung pun sudah menggunakan mesin, tidak usah lagi tenaga manusia. Benar² mengangumkan. Sampai mikir, di tahun itu benar-benar akan seperti itu tidak ya? Asli, untuk penjelasan teknologi yang ditemukan atau yang sedang dipakai dalam novel tersebut bikin aku menganga. Hebat.

Beneran bagus banget woy. Jadi tau banget gimana cara relawan bekerja mempertaruhkan segalanya untuk orang lain. Hanya untuk keselamatan orang lain, keselamatan dirinya di nomor sekiankan. Terharu banget sumpah. Part paling menegangkan, seru, dan mencekam ketika Lail dan Maryam memberi ide gila berlari 50km di tengah hujan badai dan suhu 5 celci. Dan mereka berhasil. Asli duh perasaanku deg2kan.

Pasal persahabatan antara Lail dan Maryam juga tak kalah hebatnya. Awal mula Lail cuek pun sudah bisa Maryam musnahkan, mereka menjadi sahabat yang tidak terpisahkan. Mengikuti kursus memasak, tapi keluar. Lalu mendaftar sebagai relawan yang benar-benar menjadi pengalaman terbaik mereka. Muda-muda tapi tenaganya muanteup poll. Apalagi kalau Lail bertemu dengan Esok, duh, Maryam itu pasti selalu mengusili Lail dan membuat wajah Lail merah padam.

Esok ini adalah Soke Bahtera, seorang ilmuwan muda yang ikut merancang empat kapal yang dapat menyelamatkan ribuan orang. Nah, jadi setelah gempa itu iklim di negara yang ditinggali Lail tidak menentu bahkan sampai ada salju turun. Sehingga katanya tidak ada pilihan lain selain membuat negeri ini kembali panas dengan menggunakan troposfer, stratosfer dan segala macam yang lumayan bikin aku ngga paham. Jadilah setelah itu, negara tersebut akan mengalami panas sekali sehingga para ilmuwan membuat kapal besar untuk menyelamatkan ribuan orang, yang mana masih ada ribuan juga yang ngga bisa terselamatkan. Nah, Soke ini masuk salah satu ilmuwan yang bikin kapal sehingga nggak punya waktu untuk bertemu Lail.

Pokoknya mah, asli. Ngga ada ruginya baca ini, bagus banget asli. Seru, menegangkan, bikin terpesona, baperr dan segala macam lah, intinya bercampur aduk, bikin ngga pengen segera tamat tapi pengen baca terus gitu.


Kelebihan dan kekurangan

Ide bang Tere mah udah ngga bisa diragukan lagi, meski mungkin sangat tinggi dan bahkan diluar nalar tapi tetap saja bikin bagus ceritanya. Beda dengan yang lain.

Alur maju mundur nya juga adalah bagian ter the best. Belum selesai-selesai kagumku kalau masalah alur ini. Apalagi untuk bahasa yang dipakai, deskripsi dan pendetailan suatu tokoh atau tempat atau suasana sudah benar-benar juara. Seolah aku ini sedang ada di zaman itu, bukan lagi sebagai pembaca saking larutnya aku ke dalam cerita tersebut.

Oh ya, pemikiran tentang teknologi yang luar biasa canggihnya di tahun 2044 dan seterusnya juga bikin aku menganga. Asli coba deh baca, teknologi yang ada itu ngga bisa masuk ke nalar saking canggihnya.

Tentang alur percintaan Esok dan Lail pula bikin aku jatuh cinta banget. Esok ini ilmuwan muda yang bisa-bisanya masih setia sama Lail wkwk. Lail juga, orang dirinya cuma relawan tapi ya prestasi nya lumayan sih tapi ya tapi tetap Esok yang dipikirin 

Endingnyaa bikin uwuu sekali gengs. Aslinyaaa, ketar ketir karena dibagian akhir sudah seperti akan sad, eh ternyata ngga haha. Siapa yang suka happy ending? Nah gas baca ini, dijamin jingkrak-jingkrak dikamar saking senengnya wkwk.

Novel hujan karya Tere Liye ini benar-benar dinikmati oleh banyak orang. Selain pasal cinta, novel hujan ini memberi banyak pelajaran tentang bumi, tentang teknologi, tentang penelitian-penelitian, tentang bagaimana susahnya jadi relawan, tentang persahabatan, tentang kekeluargaan dan banyak lagi. Bisa dibaca oleh semua kalangan. Ipusnas aja selalu antri karena kehabisan stock peminjaman. Gimana, kamu sudah baca?


Baca Review Novel Tere Liye lainnya

Review Novel, "Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah"

Review Novel, "Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin"

{{ x.judul }}