Label

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Curhat tentang My Big Why, kenapa ngeblog?

Curhat tentang My Big Why, kenapa ngeblog?

View Article



Hm, sebenarnya ini tugas sih, bukan dari hati banget. Maksudnya, aku nggak pernah dapat ide buat nulis big why, kenapa ngeblog di sini (hayo pada suuzon), tapi karena memang aku adalah pribadi yang jarang sekali nulis masalah mimpi, paling sering dan bahkan setiap hari adalah curhat pasal hati wkwk.


Kata orang, menulis mimpi di kertas atau di mana saja itu akan lebih mudah digapai, tapi kalau aku pribadi, memang iya ada pengaruhnya, tapi sedikit. Aku lebih semangat lagi, bangkit lagi kalau ada banyak orang yang mendukung, ada banyak kata semangat yang aku dengar. Aneh ya? Terkadang juga, tanpa dorongan orang lain aku bangkit, tapi itu pasti tidak bertahan lama.


Jadi curhat kan? karena aku memang suka curhat, bahkan kalau balas chat teman-teman, aku jarang balas singkat. Alhamdulillah, akhirnya aku di nobatkan jadi seorang yang suka spam ahaha.


Baiklah, kembali ke laptop.


Big why, kenapa ngeblog.




Kalau ditulis disini semua sih, banyak ya. Sudah paham kan kalau aku suka curhat? Nanti kalian bosan kalau isinya curhat mulu. Cekidoot.. kalau kebablasan curhat lagi, maafkan saya ya wkwk


Hobi dan cita-cita


Yeah, pastinya alasan awal kenapa aku ngeblog ya karena aku suka nulis dan suka sekali curhat (sudah bilang berulang kali loh hm). Aku sudah punya diary sejak aku sekolah dasar, Bapak yang mungkin paham dengan hobi ku, membelikan ku buku diary yang lucu. Isinya mah ya curhat nggak jelas gitu pastinya wkwk. sampai hari  ini pun, aku masih curhat, kadang ditulis di buku, kadang di WhatsApp (sengaja punya dua WhatsApp biar bisa ngirim curhat tanpa dilirik orang).


Aku telat menyadari jika “aku suka nulis maka aku bisa jadi penulis”. Hal itu terlintas baru-baru ini ketika aku sudah berumur 20an, di usia dimana banyak manusia stress mencari jati diri, mikir kapan sukses, mikir bagaimana dapat uang sendiri. galau cuy. Hati-hati saja.


Menyadari itu, aku langsung nanya ini itu ke teman, dosen dan cari tau sendiri. Alhamdullah, respon mereka membuat ku semangat untuk menulis cita-cita baru, penulis bermanfaat. Iya benar, baru-baru ini.


Dosen yang menjadi tempat curhat dadakan ku memberi saran untuk terus mengasah tulisanku, beliau juga menyarankan untuk memulai nulis di blog. Yah, inilah awal mula kenapa menulis di blog, Jazakillah khair Ibu.


Oh iya, di blog juga kita bisa bebas nulis sampai beribu² kata yakan? Beda kalau kita nulis di sosmed-sosmed, nggak boleh banyak-banyak, ada batasannya ahaha. Namun, aku nggak mengenyampingkan sosmed loh, aku juga nge-share tulisan yang sudah aku post di blog ini, tapi cuma separoo, biar mereka yang baca penasaran apa lanjutannya, jadilah buka linknya ahaha


Baca juga

Curhat saat blog berumur sebulan 

Kebiasaan baru di bidang literasi 

 

 

2.   Tidak punya teman tetap curhat


Miris  ya? Ahaha. Suka curhat tapi tidak punya teman buat curhat. Eits, bukan berarti aku tidak punya teman, banyak noh. Tapi memang hanya segelintir orang yang sungguh-sungguh menjadi teman. Sejak kuliah, aku berhenti menulis diary di samping kesibukan  menjadi mahasiswi yang harus lebih banyak menulis materi dan mengerjakan tugas, aku juga punya tempat curhat, beberapa teman.


Lama kelamaan, aku merasa, aku membebani mereka. Aku bisa spam sampai 60 pesan, voice not 6-10 menitan. Kalau kalian jadi tempat curhat ku, bosan kan yah? Jenuh apalagi. Sebenarnya ini cuma perasaanku saja, tapi yah apa salahnya aku berhenti curhat untuk mengurangi beban mereka? Online pula, paketnya dikuras. Aku bukan berhenti total sih, hanya saja jika aku masih bisa menampung sendiri, aku tampung, jika tidak ya aku curhat, tapi pastinya tidak banyak.


Nah, dari itu aku mulai menulis lagi, mulai menuangkan segala resah menjadi tulisan. Alhamdulillah, resah dan sakit hati bukan lagi menjadi curhatan alay tetapi bisa dikemas menjadi puisi, quote dan tetap menjadi curhatan namun yang bisa di ambil manfaat. Impianku bukan hanya sekedar menjadi penulis, tetapi penulis bermanfaat. Utamanya untuk aku dan umumnya untuk yang lain.


3.   Lari dari publik speaking


Aku jadi mikir, “Aku phobia panggung nggak sih?”. Kecil dulu, aku anaknya berprestasi (sombong ciee), menjadi siswa sekolah dasar yang juara satu dari kelas 1 sampai kelas 6. Menjadi siswa sekolah madrasah yang juara satu jika ada imtihan. Tapi herannya, publik speaking ku nol. Padahal, cerdas cermat juara, lomba bergilir juara. Aneh?

 

Aku orangnya memang pemalu hehe, tapi ya tetap aja heran, kenapa begitu wkwk.

 

Jangan berfikir macam-macam dulu deh. Aku sudah pernah menjadi moderator pas kuliah, aku pernah jadi MC saat acara (sekalipun acara kecil), aku juga pernah menjadi pemimpin rapat divisi ku (kecil juga sih ahaha). Tapi tetap saja, aku masih merasa demam panggung, nggak bisa publik speaking. “kurang usaha sih”, hoh iya kali ya, abisnya kalau aku benar-benar gemeteran bukan cuma badan, tapi suara. Nampak banget gitu, kan malu cuy ahaha.  Nah, jadi aku kabur deh, mau jadi penulis aja lah. Toh, penulis juga  bisa sukses kan? jadilah aku lari ke ngeblog.


Banyak juga persepsi, “kalau nggak bisa bicara depan kamera, mana bisa dikatakan sukses”. Eh iya tunggu, aku pernah loh ikut event baca cerpen dengan kurun waktu 19 menit, nggak grogi tuh. Groginya aku tuh ya Cuma pas matanya berpapasan gitu. Ah ya gitulah pokoknya.


Kembali ke persepsi, aku cuma ingin menyampaikan hasil kerja otakku wkwk. Yah, bidang sukses untuk semua orang itu berbeda dan siapapun tidak boleh menuntutnya dan menghakiminya. Bukan berarti orang yang tidak jago publik speaking tidak akan pernah mencicipi kesuksesan. Memang sukses di ukur dengan pandai bicara depan orang?


Aku pernah  menerima cerita dari seseorang yang sangat pemalu, ia hanya bisa menyampaikan aspirasinya lewat tulisan-tulisan. Dan endingnya ia sukses menjadi penulis dan ujung-ujungnya ia bisa berbicara depan kamera. Bisa jadi kan endingnya aku begitu juga, toh aku bukan benar-benar tidak bisa publik speaking, aku pernah punya pengalaman seperti yang disebut diatas. Bisa jadi kan? ayolah jangan mematahkan semangat wkwk.


4.     Personal branding


Seorang penulis itu sukses jika sudah menulis buku dan diburu pembaca, begitu persepsi orang-orang. Aku ulangi, sejak kapan sukses itu diukur dengan hal demikian? Lagi pula, proses juga kali, sampai di tahap sini sudah Alhamdulillah, daripada tetep dengan kebiasaan curhat nggak jelas. Eh, curhat juga itu salah satu dari sebagain proses buat jadi penulis hebat juga deh.


Analogi ku, jika aku seorang penulis pemula yang sok-sok an menulis buku kemudian lolos cetak, siapa yang akan mau membeli penulis yang tak dikenal? Ada sih, tapi sedikit. Beda dengan jika mas rifa’i yang menulis buku kemudian terpajang di gramedia, orang-orang berebutan, karena apa? ya karena mereka sudah tau dan tidak akan merasa menyesal membelinya, wonk mas rifa’i sudah terkenal dengan seorang penulis best seller ya kan!


Begitulah, maka aku sebagai penulis pemula tidak langsung menulis dan menyetak nya (meski sudah punya beberapa pandangan mau nulis apa). banyak sekali contoh-contoh orang-orang yang menulis buku tapi hanya segilintir orang yang membeli. Itu karena mereka masih menyimpan keraguan lanjut beli atau tidak.  Namun, bukan berarti kita tidak mau nulis buku, proses toh, bangun personal branding nyambi nulis. Biar kalau udah banyak yang percaya, bukunya langsung tercetak? Eh, ini buat ku juga sih ahaha.


Menulis di blog sebagai bentuk untuk membangun personal branding ku. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit orang-orang tau sama aku, contoh kecil, “Weh iya, sulfa yang punya web sendiri; ww.penasulfa.com”, atau bahkan secara langsung memuji, “Wah kakak tulisannya bagus, saya suka. Tetap semangat jadi penulis ya”. Yah, Alhamdulillah beberapa orang sudah percaya, bahkan juga ada beberapa yang bertanya-tanya soal menulis dan blog. Jadi seolah-seolah aku tau dan pengalaman di bidang itu, padahal nyatanya belum nyelam begitu dalam hm. Tapi nggak papa kan yah? Ini mah usaha bangun personal branding.


5.    Merekam jejak peristiwa


Katanya sih, ini juga di sebut journaling. Peristiwa-peristiwa yang dialami ditulis dan diabadikan. Tapi benar loh, curhat yang ditulis itu bisa mengenang masa lalu di masa sekarang dan seolah-seolah kita bisa kembali ke masa itu. mengingat jelas betapa alay nya aku dulu, lebay nya aku dulu dan paling mengesankan peristiwa penting-penting tidak akan terlupakan begitu saja. Makanya, aku tulis di blog.


Bukan hanya peristiwa, tapi ilmu dan pengalaman tetap abadi. Aku terkadang menscroll sosmed-sosmed dan blog ini untuk melihat dan membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Bisa juga sebagai perbandingan, antara tulisan yang dulu dengan yang sekarang, sudah ada perubahan belum?


Baca juga

cerita miris ku dengan sepeda ontel

 

6.    Bertemu banyak teman se visi


Sudah pernah kukatakan tadi bukan, aku adalah pribadi yang semangatnya berkobar-kobar jika di semangati orang lain? Nah, untuk tetap menunjang semangat menulis, aku harus masuk ke berbagai komunitas yang se visi tentunya bermodal ingin menjadi penulis. Salah satunya masuk di ODOP (one day one post) ini. Alhamdulillah semangat terus, apalagi kalau diberi tugas ahaha.


Bertemu dengan teman se visi juga bukan tidak mungkin kita bisa dapat ilmu secara percuma. Bisa saling sharing, bisa minta saran, bisa minta bantuan kan nggak akan ribet sendiri?


Baca juga

Salah satu komunitas yang aku ikuti

Pentingnya berkomunitas

Hari blogger


7.    Mendapat uang


Ahaha aku kalau sudah bicara uang, mata langsung melek. Bukan berarti mata duitan atau apalah, tapi karena sejak dulu aku memang suka menabung, jadi suka banget gitu kalau tabungan diisi setiap hari ahaha. Lagipula manusia mana yang nggak mau dapat uang?


Yah, sekalipun sampai saat ini belum dapat uang (ini lagi proses broo sabar nape), aku nggak mau nyerah wkwk, sayang aja gitu udah nyelam tapi nggak dapat ikan wkwk. apalagi menjadi blogger ada budget yang harus dikeluarin, meski itu tentang hanya penghabisan paket data ahaha, itu juga uang loh.


Big why, kenapa ngeblog juga paling awal-awal aku pikirkan, ya biar dapat duit. Tapi setelah masuk lebih dalam ke dunia blog, ternyata bukan jalan mudah untuk mendapatkan cuan pun sadar tulisan yang bermanfaat bagi orang lain itu sangat membahagiakan. So, belum dapat duit pun tak apalah, bermanfaat ke orang lain dulu, baru uang ngejar ahaha.


Nggak kerasa ya, ini adalah tulisan panjang ku yang selesai hanya sejam dua jam (baterai laptop emang cepet abis juga wkwk) Nggak dibayar loh, tapi tetap senang mah. Big why, kenapa ngeblog versi sulfa nih, versi mu mana? Curhat sini yuk.

 

 

 

 

Aku rindu

Aku rindu

View Article

Rindu yang salah


Hai.. apa kabar?

Lama tidak menghubungi

Sibuk kah?


Iya, aku tau. 

Aku hanyalah teman bagimu

Tentunya, tak akan sering mengkabari

Tapi.. haha aku terlanjur berharap


Tidak terlalu berlebihan kok

Tapi cukup bisa membuat hati gelisah

Tidak terlalu dalam

Tapi cukup bisa membuat aku selalu memikirkan


Toh, mungkin ini hanya perasaan singkat saja

Karena pedulimu yang terlalu berlebihan dulu

Membuat ku salah kaprah

Tapi tak apa, aku menikmati nya.


Jangan lupa ya

Kalau sudah tidak sibuk kabari lagi

Aku rindu hehe




Curhatan hati

Curhatan hati

View Article

Mengeluh tidak papa, nyerah jangan


Berawal dari bapak dosen yang memberikan tugas ke kelas ku, aku mulai mencari jawabannya, membaca modul yang ada dan sambil bertanya kepada teman-teman. Memang dua hari sebelumnya aku merasa sangat banyak sekali pikiran, dari tugas makalah yang kelompoknya tidak mau bekerja sama, dua tugas yang tadinya gampang menjadi ruwet ketika di teliti, dari acara organisasi yang megharuskan mikir sana sini, tugas di luar kampus yang harus dirampungkan setiap hari, dan lingkungan yang tak memadai.

Aku memiliki sifat, yang apa-apa akan di ambil ruwet, yang apa-apa harus dipikirkan, bahkan beberap hal yang menurut kalian mudah, akan bisa menjadi sulit menurutku, meyulitkan yang gampang, meruwetkan yang sulit. Ah ntah bagaimana harus kutinggalkan sifat itu.

Setelah banyak sekali hal yang harus di pikiri, aku pusing, sangat pusing. Kepala terus-terus an berdenyut, tapi ini bukan sakit. Selama dua  hari itu, aku harus mengikat kepalaku dengan kerudung dan memakai koyo sambil lalu mengerjakan tugas. Apa boleh buat? Mau ngandelin siapa lagi kalau bukan diri sendiri. udah dewasa kan ya.

Hari itu puncak ruwet nya aku, hari pertama aku pms dimana emosi sedang tidak stabil ditambah tugas yang belum kelar-kelar. Awalnya sudah kelar, tapi setelah di teliti ulang dan di kaji bersama teman-teman agak sedikit kurang benar, jadi jawaban yang sudah selesai itu menjadi sia-sia dan beberapa pihak menyalahkan diriku, alasannya karena sebelum mereka mengerjakan mereka bertanya padaku.


Tepat saat itu itu sebenarnya aku ada sakit hatinya, Tapi nggak papa aku tetap bawa bercanda dengan teman-temanku. Setelah siang harinya aku aku nggak tidur hanya karena diskusi tentang tugas yang belum kelar-kelar dan belum ada titik terangnya sorenya aku diharuskan menambah beban pikiran lagi masalah acara yang akan diselenggarakan hari Ahad, belum kelar tugas itu tu memikirkan dan tukar pendapat dengan teman se organisasi si tentang yang bagaimana caranya acara yang akan diselenggarakan berjalan dengan sukses. Sampai malam tiba dua hal tersebut belum rampung bahkan aku tidak jadi makan dari tadi siang.


Setelah itu sudah rampung satu tugas namun salah satu temanku kembali memberi informasi si tentang tugas tersebut yang mana konsepnya agak berubah sedikit, namun kenyataannya menjadi puncak masalah. Ketika aku pikir informasi yang diberikan temanku itu benar maka aku juga mengikuti informasi tersebut, dan aku ada niatan ingin memberitahukan pada teman ku yang yang sebenarnya tugasnya sudah rampung tapi aku kecocokan dengan memberi informasi tersebut sehingga dia fikir jawaban yang diberikan salah dan harus diperbaiki lagi.


Sebenarnya aku tidak menyalahkan siapa-siapa semuanya di sini salah menurutku, namun wajarkah hal seperti ini masih dibahas panjang lebar sampai menimbulkan emosi dari berbagai pihak. Pihak satunya yang sudah yakin akan jawabannya dan udah rampung tidak terima ketika aku menyampaikan informasi baru terkait jawaban tugas tersebut yang mana akan merubah jawaban yang telah rampung itu, namun dipihak satunya yang memberikan informasi berniat untuk mengajak mereka atau kau memberi informasi yang benar-benar kepada  mereka tentang tugas tersebut. 


Karena semuanya sudah emosi dan capek dengan tugas tersebut maka responnya negatif semua, pihak satu tidak terima pihak satunya kenapa hal yang benar yang harus disalahkan. Kenapa pihak yang yang diberi informasi oleh pihak satunya masih menyalakan pihak tersebut padahal niat pihak yang memberi informasi itu itu hanya ingin mengajak ke arah yang benar, Kenapa mesti disalahkan dengan alasan capek? Bukankah lebih capek mikir otak harus bekerja keras mencari jawaban yang benar daripada ada hanya gagal atau bolak balik dalam mengerjakan tugas.


Semuanya pada emosi, aku aku juga emosi tapi masih bisa aku pendam. Namun entah kenapa ketika aku Aku bercerita kepada teman-temanku yang sepihak denganku Aku menangis, ah kalau mengingat ini ngakak ya, kenapa harus nangis wkwk. Namun sebenarnya kita tidak apa-apa menangis wajar menangis pun bikin hati lega dan nantinya akan kembali berpikir dengan cerah tanpa harus ada emosi karena emosi tersebut sudah tersalurkan atau terbuang melalui air mata.


Intisari dari cerita tersebut yaitu Jangan pernah menyalahkan siapa-siapa, jangan langsung menjudge orang lain salah, coba posisikan kalau kalian ada di posisi itu, bagaimana perasaan kalian jika disalahkan juga padahal sebenarnya niat kita baik.

Hari Blogger? Emang ada?

Hari Blogger? Emang ada?

View Article

 Oh, Ada Ya Hari Blogger?
















Aku baru buat blog hanya beberapa bulan yang lalu, juli tanggal 6 tepatnya. Benar-benar tidak tau apa-apa saat itu, hanya bermodal nekat. Aku pernah ceritakan bagaimana pengalaman ku membangun blog ini, ketika umur blog ku sudah sebulan.


Lalu, kemarin sedang sibuk-sibuknya nugas, grup blogger rame, isinya “selamat hari blogger”, aku abaikan, kenapa? Aku mikir gini, “aku baru saja bangun blog, emang udah pantas di sebut blogger?” menurutku, blogger itu seseorang yang sudah ahli banget dunia perblog-kan, lah aku apa? hanya rempehan rengginang.


Sehari setelah itu, di komunitas yang aku ikuti (ODOP). Banyak dari mereka yang membuat konten tentang hari blog, penasaran dong, lalu aku klik beberapa yang judulnya unik dan hampir semua isinya, dia merendahkan dirinya, seolah dia benar-benar tidak tau dunia blog ini, padahal aku lihat, konten-kontennya benar-benar sudah bagus.


Muncullah ide ingin menulis konten seperti itu, nah, jadilah ini wkwk. 


Pengalaman menggeluti dunia blog


Anggap saja blog  ini adalah dunia lain dari bumi wkwk. dihitung dari juli, aku berada di dunia ini 4 bulan lamanya. Berawal dari tanpa tau apa-apa, budayanya, adatnya, masyarakatnya dan sebagainya. Alhamdulillah, 4 bulan itu sudah ada ilmu, sekalipun hanya secuil, seperti tanam backlink. Remeh ya? Iya remeh kalau sudah tau dan paham, tapi sulit bagi orang yang tidak pengalaman.


Aku berusaha mencari dan berkenalan dengan blogger lain, selain nambah teman, pastinya juga nambah wawasan. Seperti, grup blogger indonesia, conten writer, dan grup-grup yang ada di telegram (sering tidak ku buka, rame banget kewalahan wkwk). aku memang tidak terlalu aktif di sana, yam au aktif bagaimana? La wonk pembahasannya tentang organ-organ dalamnya blog, aku mana tau, ya diem aja nyimak, siapa tau jadi ilmu wkwk.


Selain itu, aku memang sering banget mengshare link konten yang aku buat, yaa hanya sekedar membangun personal branding, bukan berharap di baca seriusan. Malu uy, isinya masih astaghfirullah banget. Amburadul, ambyar dan saudaranya itu. ternyata, respon teman-teman ku baik, ada yang nyemangati, memuji, bahkan beberapa mengshare lomba-lomba yang berhubungan dengan dunia blog ini. sejauh ini, hujatan nggak pernah aku terima, kalau kritik dan saran, buaanyak, dan aku bersyukur tentunya. Padahal, aku tidak minta tolong buat di kritik, eh malah dia meluangkan waktunya untuk membaca konten ku dan mengkritiknya. Terimakasih gaes.


Tidak aku sangka


beberapa orang malah bertanya, “sul, bagaimana bikin blog?” ya sebenarnya nggak ada yang mengherankan, toh, aku kan sudah ada blog, pastinya tau bikinnya. Tapi ini membuat aku berpikir, bahwa mereka memang sudah menganggap aku seorang blogger wkwk. apalagi ada seorang teman lama, yang setelah nanya cara membuat blog, dia bilang gini, “bimbing aku produktif ya”. Tamparan nggak sih? Aku masih jauh dari kata itu loh.


Yah, pengalaman 4 bulan itu, akan sia-sia jika tidak di jadikan pelajaran. 


Apa yang aku dapat dari dunia perblog-kan ini?


1. Lebih percaya diri

Dulu, tidak ada yang memandang aku, pujian pun kosong. Setelah aku menjadi blogger, perlahan aku merasa mereka menganggap ku ada, dengan bertanya ini itu, menyemangati ini itu dan sebagainya, hal ini membuat aku  lebih percaya diri, seriusan.


Konten se jelek apapun, biasanya aku berani mengsharenya, kemudian di kasih catatan, “jangan di baca, nanti menyesal.” Memang benar, sedikit yang melihat konten itu, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Segilintir orang, tapi tetap bikin aku semangat, nyatanya masih ada yang sudi membukanya. Toh,  sekalipun sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit!


Baca juga: Berpikir Positif itu penting


2. Lebih banyak mendapat ilmu


sesekali aku nanya ini itu sama mereka yang sudah ahli. Benar saja, mempunyai ilmu baru itu, membuat kita akan semakin semangat menggali lebih dalam lagi. Semakin banyak penasaran yang tercipta. Semakin banyak tau, semakin banyak ilmu (ini slogan siapa ya? Wkwk).


Ada lagi, kalau kita lebih mencari tau, pasti menganggap bahwa sebenarnya kita itu tidak atau apa-apa. masih banyak sekali hal yang tidak bisa kita kuak keberadaannya. Dan hal ini pasti membuat kita semakin menggebu-gebu untuk mencari tau. 


3. Banyak mendapat teman baru


Pastinya yakan? Dengan masuk ke dunia baru, maka kita pasti kenal orang baru. Se pendiam apapun kita, pasti akan ada yang mengajak kenalan. Nah ini yang kurasa ketika masuk dalam dunia blog ini. bukan lagi teman yang hanya hura-hura nggak jelas, tetapi lebih ke teman yang membawa pengetahuan yang luas. 


Banyak mendapat teman baru, pastinya menambah ilmu dan rasa semangat mengupgrade diri tak akan pernah jemu. Bagaimana mau lelah? Tiap hari dapat suntikan semangat untuk mengisi konten, tiap hari dapat pandangan luas tentang dunia blog ini, prestasi-prestasi yang di pamerkan bukan membuat aku mencaci, tapi iri. Bagaimana cara menjadi seperti itu? 


Baca juga: kebiasaan baru di bidang literasi


Beberapa hal yang aku lakukan selama 4 bulan dalam dunia blog itu


1. Berusaha percaya diri


Itu tadi, se jelek apapun konten yang aku tulis, aku mencoba beranikan share, dan apa akibatnya? Percaya diriku semakin tumbuh, semakin kuat. Dan ah! Ini benar-benar menyenangkan. eh, sekalipun belum sepenuhnya percaya diri, naik tangga satu atau ke yang lebih atas tetap termasuk kemajuan kan? wkwkw


2. Mencari teman


Ini pasti banget, yah kesasar dong kalau 4 bulan itu aku nggak berkenalan dengan banyak blogger lainnya. bisa-bisa konten yang dulu tidak akan pernah kalian nikmati wkwk


3. Mencari tau


Ini lagi, awal masuk blog aku benar-benar tidak tau apa-apa, kan lucu kalau selama 4 bulan tetap tidak tau apa-apa? nah, aku akan mencari tau, tapi kebanyakan bukan mencari tau sih, lebih ke, disodorkan atau diberikan. Jadi, bukan aku yang datang, tetapi aku yang di datangi. Banyak ilmu yang datang tiba-tiba. Sekalipun aku jarang nanya di grup-grup itu, aku tetap mendapat ilmu dengan menyimaknya.


4. Mengikuti lomba


Sebenarnya aku belum sepenuhnya percaya diri dengan konten yang kubuat. Tapi kalau tetap stagnan seperti ini, kapan majunya wkwk (sombong amat). Beberapa kali aku memang sudah mengikuti lomba-lomba artikel dan blog, yah, sekalipun prestasinya masih di peserta, tak apa toh, yang penting ikut berpartisipasi, siapa tau nanti, dari partisipasi menjadi prestasi? (ayo doa)


5. Mengajak orang lain melakukan hal yang sama


Lebih banyak yang datang bertanya sih, daripada aku yang kesana mengajaknya. Ngalir aja gitu beberapa teman yang nanya cara membuat blog, dan pastinya dengan seperti itu, aku menambah teman dekat blogger, karena di lingkungan ku, masih sedikit yang menggeluti hal ini, jadi aku masih merasa asing di lingkungan sini. 


Beberapa juga, ya aku ajak. Kalau melihat orang itu punya bakat menulis, aku ajak, atau yang tidak punya bakat tetapi semangat, ya aku ajak juga. Makin banyak teman, apalagi teman dekat, maka pastinya menambah semangat.


Penutup


Konten ini sebenarnya kurang manfaat ya, tapi ah entah, siapa tau memang ada yang membutuhkan (sekalipun di paksa). Sekalipun terlambat aku mau mengucapkan “selamat hari blogger” (itung-itung percaya diri). 


Semoga konten yang kamu buat, bermanfaat untuk orang lain yang pastinya juga bermanfaat pada hidupmu. Jangan pernah lelah, sekalipun tidak ada yang mengapresiasi, usaha tidak pernah menghianati hasil. Tetap semangat!. Menulis memang profesi yang sangat di remehkan,  tapi sadarkah kalian, orang-orang yang sukses pasti dia mempunyai tulisan, dan hal ini membuat ku menyimpulkan bahwa menulis adalah hal yang sangat penting. Banyak bukan yang bangkit hanya karena tulisan? Siapa tau kamu adalah salah satunya yang seperti itu.


Pentingnya Berpikir Positif terhadap Masalah

Pentingnya Berpikir Positif terhadap Masalah

View Article

Berpikir positif, berperilaku santuy, dan tangkas dalam bertindak, Masalah selesai!

Picture by pixabay




Sekolah kalian tetap dilakukan secara daring atau sudah tatap muka dengan mematuhi protokol yang ada? Kalau saya mah jangan ditanya, kuliah daring bikin pusing! Sebenarnya tidak terlalu memusingkan, tapi karena kuliah semester ini menggunakan e-learning, yah bikin pening! Paket data harus banyak biar ngga mati mendadak, diskusi kurang efektif dan terkesan kaku, harus refresh tiap waktu dan sebagainya.


Seperti kuliah sore kemarin, udah dari sononya pusing, malah tambah pusing dengan e-learning yang tiba-tiba eror, mana Cuma sebagian yang eror, yang lain nggak, malah asyik berdiskusi!


Dan kalian tahu? Baru kali ini saya dapat ‘secuil’ masalah, tapi tidak berlarut-larut, biasanya aku paling baper, masalah dikit, di besar-besarin. Pusing dikit, ngeluhnya panjang! Tugas dikit, ngeluhnya banyak! Ya pokok lebay deh ahaha


Dan ini point pentingnya; berpikir positif, berperilaku santuy, dan tangkas dalam bertindak.


Gimana gimana? Bentar aku jabarkan..


Masalah…


Aku yang tiba-tiba pusing ditambah E-learning lemot, tapi hanya sebagian saja, membuat aku nggak bisa nyimak ‘diskusi’, nyuruh teman-teman buat bilang ke dosen, nggak ada yang ngerespon! Heum.


Baca juga, 



Solusi…


Berpikir positif


Karena sudah absen, aku agak tenang memang, tapi setiap dosen penilaian absen beda-beda, sekalipun absen tapi status e-learning online bisa jadi dianggap tidak hadir, dan kebetulan dosen ini misteri tidak memberi tau penilaian absensi.


Karena juga ada beberapa teman yang nggak bisa mengakses, jadi aku pikir aku masih punya teman.


Berusaha berpikir positif, "dosen itu baik, dosen itu pasti mengerti, dosen itu tidak akan tiap saat cek online offline nya mahasiswa"


Berperilaku Santuy


Yang tau sama aku, pasti akan hapal kalau aku lagi ada masalah atau tidak. Karena ya itu, aku yang lebay akan ketara banget jika lagi punya masalah (walaupun dikit), apalagi mesti aku akan melampiaskan sama beberapa teman dan orang-orang di sekitarku ahaha. Dan untuk masalah kali ini, aku coba berperilaku santai, tetap enjoy dengan masalah e-learning yang eror, tetap tertawa riang sambil ‘ngeluh’ masalah e-learning pada teman-teman, dan bersikap baik-baik saja di rumah (kan daring), yang sebenarnya agak gelisah ahaha.


Terus salah satu temanku bilang, “tumben sul masih ceria, padahal dari tadi nggak bisa ngakses, biasanya udah ‘marah-marah’ nggak jelas.” Nah loh? Ahaha kelihatan banget


Sambil baca sholawat dong wkwk


Bertindak Cepat atau Tangkas


Kalau kalian mikir, aku yang santuy tidak melakukan apa-apa itu salah besar. Aku nyari hp lain, siapa tau e-learning eror gara-gara hp (nggak bisa), niat sudah nggak mau ngerepotin teman-teman yang lain, jadi aku nge japri dosen itu sendiri, menjelaskan masalah yang aku alami, detail. Tidak dibales, sampai waktu kuliah habis. 

Kemudian, Alhamdulillah dosennya terketuk hatinya buat membalas, “coba lagi”, padahal kata temanku, kuliah udah kelar. Aku jelaskan kembali bagaimana usahaku keluar masuk link tetap tidak bisa. Terus jawaban si dosen, “iya nggak papa kalau begitu, toh kuliahnya udah selesai.” seketika lega!


Apa sih manfaatnya berpikir positif, berperilaku santuy dan bertindak cepat?


1. Hati tenang


Memang pasti ada gelisahnya, ya siapa sih yang nggak gelisah, lagi kuliah, e-learning eror? Tapi tergantung bagaimana respon orang itu. Kalau merespon jelek, “huh, eror, gimana kalau bapak ngabsen aku alpa?” keadaan hati? Makin gelisah tak karuan. Coba berpikir positif, “gapapa, toh bukan Cuma aku yang ngalami ini, aku juga udah absen dan bapak insyaa Allah paham” keadaan hati? Tenang cuy!


2. Keadaan seperti membaik


Coba kalau kita mikirnya jelek, yang ada kita makin gelisah, marah sana sini, ngeluh sana sini, tidak nerima nasihat, tidak nerima saran, yang ada tuh keadaan makin buruk!


Nah, di ceritaku, keadaannya membaik kan? ya karena pikiran positifku, perilaku santuy ku, tapi juga tindakan siagaku wkwk. 


3. Lekas menemukan jalan


Kalau pikiran positif, hati tenang, maka akan cepat menemukan solusi. Kalau pikiran jelek, hati gelisah, mana ada waktu untuk mikir solusinya bagaimana? Paling bisanya ngoceh nggak jelas, ngeluh sepanjang waktu! Padahal, sia-sia kan? makin ngoceh, makin ribet, makin ngeluh, makin nambah masalah.


coba chat di grup” duh, nggak banget di grup, nggak berani. Tapi akunya nangkap dengan pikiran tenang, hati tenang, lalu ting! Kalau nggak berani di grup, yaudah japri saja.


coba link ini,” nggak bisa. “coba yang ini,” nggak bisa juga. “kalau yang ini?” udah coba dari tadi nggak bisa. Kalau kita merespon hal begitu dengan negatif, yang ada mau marah-marah sama yang ngasih bantuan, “udah dibilang nggak bisa masih ngeyel”, padahal itu teman niat bantu loh. Iya tidak? Kalau responnya positif, “teman-teman pada baik, saling bantu. Aku coba sekali lagi deh. Ting! Memang tetap nggak bisa, tapi ya hati masih tenang dong!


4. Dampak ke lingkungan lebih baik


Sudah baca ceritaku yang temanku bilang, “tumben sul masih ceria, padahal dari tadi nggak bisa ngakses, biasanya udah ‘marah-marah’ nggak jelas.” Nah loh? 


Coba saja aku respon negatif, ngeluh sana sini, marah sana sini, yang ada mereka ogah yang mau bantu, yang ada kita hanya dianggap angin berlalu bahkan bisa jadi kita akan disumpah serapahin nggak bisa sampai akhir (walaupun emanh itu kenyataanya ahaha)


Tapi terbukti kan dengan ceritaku?


5. Janji Allah


sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hamba Ku kepada Ku, Aku bersamanya jika ia berdoa kepada Ku(HR. Muslim 4832, 4852; Tirmidzi 3527; Ahmad 7115” (sumber internet)


Karena aku mikirnya positif, “Bapak insyaa Allah paham, ngga bakal dikasih alpa kan udah absen” yang terjadi? “iya gapapa” loh kan beneran tidak kenapa-kenapa.


Kebayang kalau sejak awal mikirnya jelek, “gimana kalau aku alpa, gimana kalau bapak nggak mau nerima kenyataan ini dan blaa blaa” uh tidak terbayang jika Allah akan bilang ‘kun’ sesuai prasangka kita. Tapi jangan dibayangkan, nggak baik ahaha


Jadi, berpikir positif itu adalah penting dalam hal apapun, bertindak santuy dengan tetap bersikap tenang walau sebenarnya hati gelisah, maka pasti akan sedikit gugur rasa gelisahnya dan tak lupa juga, jangan hanya menneng, tetapi usaha dengan tindakan, bukan Cuma mikir positif tapi tidak usaha, ya sia-sia. Bukankah kita diperintahkan untuk berusaha terlebih dahulu baru ikhtiar?


Membentak anak? Jangan deh

Membentak anak? Jangan deh

View Article




Membentak dan Memarahi Anak....


Yang lagi baca tulisan ini, sudah berstatus orang tua atau masih anak? Yang pasti, kalau yang orang tua sudah pernah jadi anak, dan yang anak akan menjadi orang tua. Dan ini penting bagi semua, yang orag tua sudah pengalaman menjadi anak, jadi harus tau bagaimana cara mendidik anak! Yang anak masih mau jadi orang tua, jadi harus paham betul-betul cara apa yang bisa mendidik anak-anaknya besok, dengan melihat sisi status kalian, dan sisi bagaimana perilaku orang tua kalian.


Saya punya adek, yang kalau lagi nakal atau nggak nurut kelabakan saya bentak, hasilnya dia makin ngelunjak, makin menjadi-jadi nakalnya, bahkan pernah ia bilang, “Mbak uul, jahat”. Iya, dia bercanda sebenarnya bilang begitu, tapi kok bikin nyess gitu ke hati. Adek saya kalau lagi nangis, lalu saya bentak, bukan berhenti tapi makin nangis, coba di lembutin dikit, dibelay dikit, berhenti dia.


Kalau anak nakal, lembutin. Nakal lagi, lembutin lagi, nakal lagi, lembutin lagi. Nakal lagi, ya hempas aja! Ahaha bercanda-bercanda. Udah dilembutin kok malah makin ngelunjak? Makin nakal? Jadi sesekali boleh dimarahi tapi usahakan jangan dibentak. Anggap saja sebuah peringatan, sebagai pancingan agar anak takut untuk berbuat nakal lagi.


Di buku mas ippho, beliau memaparkan ada penelitan bahwa membentak anak akan menggugurkan sel otak. Kan ngeri? Sudah dikatakan ya boleh marah, sesekali jangan marah terus wkwk. tapi usahakan jangan membentak, atau pakai suara yang keras. Pernah dengar ngga? Kalau masyarakat pesisir itu suaranya keras-keras? Lantang banget gitu? Nah, saya kan tinggal di pesisir, kebanyakan memang seperti itu, di keluarga sendiri pun, dan saya pun ahaha. Udah punya suara kerasa begitu jangan tambah dikerasin dong kalau mau marah! Cukup segitu, udah bikin anak kaget bin takut.


Kalau marah-marah terus juga, nanti anaknya membatin, “Emmak ini marah-marah terus”, muncul ketidaksukaan, kalau sudah tidak suka males ngobrol, renggang jadinya hubungan deh. Bicara baik-baik, nasehati dengan lembut, kalau belum nurut ya marahi! Nguras kesabaran juga ini ahaha.


Jadi seimbangkan ya, marah-marah buat anak agar semakin disiplin boleh, tapi jangan keseringan. Apalagi sampai matanya melotot mau keluar wkwk.


Kalau kalian boleh pilih, dimarahi atau dideemi? Kalau saya sih nggak mau kedua-duanya ahaha. Tapi kalau memang disuruh milih saya lebih milih dimarahi sih, tapi sudah dibilang jangan keseringan wkwk nggak enak juga. Kenapa saya milih didiemi? Karena kalau saya lagi  cekcok sama orang tua, kek beda pendapat tuh, lalu orang tua ngediemi saya, bahkan karena hal itu, saya malu buat ke dapur, mau makan! Hasilnya ditahan ahaha. Terus mikir, astaghfirullah, nggak enak banget sih didiemi orang tua, pokoknya harus berubah deh jangan lagi begini. nah kalau dimarahi respon dari saya beda, huh, gini aja marah, emang dulu dia nggak gitu? Emang dia nggak pernah salah, harusnya ya ngerti, harusnya ya gini, ya gitu. Kek nggak ada pemikiran buat intropeksi, malah makin menyalahkan. Kalau saya sih begitu ya, nggak tau kalau kalian. Dimarahi juga bikin kita sering nangis ya? Tapi kek ada dendam gitu. Beda kalau didiemi, mikir keras apa kesalahan yang diperbuat, kenapa sampai begini. begitu.


Jadi buat mamah-mamah, bapak-bapak, seimbangi ya. Harus tau tempat, kapan waktunya marah, kapan waktunya dinasehati, kapan waktunya dikacangi. Karena karakter dan sifat per anak itu beda, dan saya pastikan orang tua lah yang sangat paham akan hal itu, jadi pastikan kalian tidak salah bertindak ya. Jangan sampai menyesal dikemudian hari! Ahaha salam hangat dari sulfaini wkwkw


Jomblo itu Mematikan?

Jomblo itu Mematikan?

View Article



Jomblo mematikan? Benarkah?


Dikutip dari buku mas ippho, dengan  judul “Enteng jodoh enteng rezeki”, disana banyak sekali membahas tentang hubungan erat antara jodoh dan rezeki. Sampai di bab, “benarkah jomblo mematikan?” kaget dong saya ahaha tapI by the way ngga kaget-kaget banget sih, wonk saya sudah pernah baca buku ini, jadi sedikit tidaknya saya ingat-ingat lah. Biar tulisan ini berwarna dan hidup ahaha.


Kok bisa sih? Di dalam bukunya, mas ippho menyertakan beberapa riset, saya colek dikit ya mas. Menurut Katie clift dari queensland university, Australia, “Pasien kanker yang tidak memiliki pasangan, baik pria dan wanita, akan meninggal lebih cepat dibandingkan dengan pasien lainnya yang sudah menikah atau memiliki pasangan. Hal ini berlaku untuk seluruh penyakit kanker”. Tidak setuju? Coba sono ke Australia dan temui mereka ahaha.


Jomblo itu hidup sendirian, sedangkan menikah berdua. Lebih nyaman mana hayo? Sedangkan manusia itu memang makhluk sosial kan ya? Jadi lebih nyaman yang mana? Jika orang waras pasti jawab lebih nyaman berdua! Dih, yang nulis jomblo, tapi bilang nyaman berdua. Ya kan ini Cuma pertanyaan, yang pastinya harus dijawab dengan nyaman dan benar ahaha.


Coba bandingkan, anda punya rumah sendiri nih, didalam rumah itu, anda sendirian, asli. Makan, makan sendiri, minum, minum sendiri, nyuci baju sendiri, tidur pun sendiri (nyanyi dong;v) kalau awal-awal sih ya biasa aja, coba lama-lama, capek, lelah, lesu!. Terus bayangkan anda punya rumah, isinya anda dan istri atau suami lah. Nyapu istri, ngepel suami. Masak istri, nyuci suami. Gimana? Lebih enak yang berdua kan? Iya lah!


Jomblo itu sendiri, nggak ada yang peduli, nggak ada yang perhatian, nggak ada yang mengingatkan makan, kelaparan akhirnya mati, eh naudzubillah wkwk. Coba kalau udah menikah! Telat makan sedikit diingetin, sakit disuapin, jalan-jalan ditemani, halo jomblo apa kabar? Ahaha


Terus si jomblo ngga terima, “emang harus pasangan? Saya punya banyak teman, keluarga yang bisa menggantikan pasangan” iya, iya mblo paham. Tapi kalian pernah merasa nggak? Apalagi yang lagi pacaran nih, eh yang udah nikah nih. Lebih nyaman mana sih? Kalian jalan-jalan sama teman-teman kalian, atau pasangan kalian? Lebih nyaman mana sih, kalian nelfon sama teman, atau pasangan? Kalau saya sih, jujur pasangan ya ahaha. Belum punya pasangan udah sok bilang nyaman sama pasangan, nggak bisa di percaya! Oke, kalian boleh nggak percaya sama saya, tapi saya juga pernah ada di posisi itu. Eh wkwk tapi nggak udah tobat kok. Oke saya kasih contoh yang bisa bikin kalian percaya.


Contoh orang pacaran nih. Betapa banyak mereka yang lebih memilih pacar daripada teman? Cekcok dengan teman hanya karena pacar, bahkan bisa bertengkar, saling musuhan! Padahal? Kalau dilihat dari jangka lama nggaknya, kita lebih lama bersama teman daripada pacar. Right?


Contoh lagi, pasangan suami istri, ini saya melihat dari keseharian orang tua saya ahaha semoga mereka ngga baca. Jadi, mereka tuh lebih nyaman jalan berdua sama suami atau istri, daripada sama saudaranya. Bahkan, kadang mereka ingin punya qualitytime hanya berdua, bukan dengan anaknya! Ahaha. 


Percaya? Begitulah. Tapi ya tapi, jangan dimakan mentah-mentah hal ini. nanti banyak yang demo ke saya wkwkwk. “Katanya jomblo mematikan, ya udah saya pacaran aja” eh, jangan karena saya kasih contoh orang pacaran lalu kalian mencontoh nya. itu cuma sebagai gambaran, bukan untuk dicontoh, oke? Berjanjilah sama saya wkwkw. Jangan sangkut pautkan antara yang hak dan yang bathil ya. Pacaran itu tidak boleh, yang boleh itu pacaran setelah halal. Jadi, kalau belum siap pacaran setelah halal, jomblo aja dulu! Sambil memantaskan diri, semoga jodohnya sesuai kriteria.


Selamat Umur Sebulan Blogku hihi

Selamat Umur Sebulan Blogku hihi

View Article

penasulfa.com


Selamat! Umur blognya sudah genap satu bulan.
 

Mau nulis apa? Entah, saya hanya ingin mengikuti jari yang tak berhenti menekan-nekan tombol di laptop, dengan ide dalam pikiran, ingin membuat tulisan bertepatan genap satu bulannya umur blog ini sebagai kenangan yang bisa dibaca kemudian hari. Eh btw, bukan genap sih, lebih dua hari, harusnya kemarin saya nulis ini, tapi banyak kendalanya atau lebih dominan malas wkwk.

Kenapa sih buat blog? Entah, ngalir aja gitu wkwk. sebenarnya saya baru sadar, bahwa sejak kecil saya punya hobby nulis sekalipun hanya diary, saya juga hobby membaca sekalipun hanya baca cerita-cerita dan novel. Dan mungkin jika diasah dan ditekuni sangat bagus sekali ya hehe.

Dari dulu hanya ngalir aja gitu. Nulis hanya di buku-buku kecil, di lembaran-lembaran kertas, karena memang yang saya bisa tulis hanya curhatan-curhatan ngga jelas gitu, jadi ngga kepikiran kalau saya bisa jadi penulis. Membaca juga begitu, hanya bisa membaca karya orang lain tanpa pernah ada keinginan membuat karya sendiri, astagfirullah sekali ngga si? Hehe.

Nah, selepas saya umur 20th. Banyak sekali pemikiran negative, seperti, “Ah, Cuma saya yang ngga sukses di usia segini”, “kek ngga ada guna hidup 20th tanpa prestasi”, “saya harus punya penghasilan sendiri”, “malu kalau selalu minta sama orang tua” dan sebagainya. Yang sudah umur 20th sudah merasakan seperti saya tidak? Yang belum, siap-siap ya wkwk.

Gegaya nulis beginian, memang anda sudah sukses apa? Kalau ada yang nanya gini, saya jawab tidak. Saya belum sukses, belum ada prestasi, belum ada penghasilan sendiri (pernah jualan online si), dan masih minta sama orang tua. Kenapa saya berani nulis gini? Tidak ada yang tau bukan, apa yang akan terjadi besok sama kita? Semoga saja esok saya sukses menjadi penulis, dan tulisan receh ini bisa jadi saksi dan buat kenangan sebagai bahan senyuman wkwk. ini saya pernah belajar pada kak ilham, ig beliau @ilhamsangjuara. Beliau mengajarkan bahwa ayo bangkit, jangan malu post proses kalian dari bawah, agar saat kita sukses kenangan itu tidak akan hilang dan bisa jadi saksi, terimakasih kak

Kembali lagi kenapa saya nulis blog ini. Setelah umur 20th, pikiran-pikiran negative itu menguasai jiwa saya, dada sangat nyesek kalau ingat mah. Sekarang pun masih, tapi lumayanlah karena adanya blog ini wkwk.

Saya mencari beberapa orang yang bisa mengasih saya solusi. Saya kebingungan dong, saya tidak punya bakat apa-apa, bagaimana cara nya sukses? Bagaimana caranya punya prestasi? Saya hanya punya andalan, saya humoris, bahkan saya pernah menuliskan mimpi saya saat ada kuliah tamu bahwa saya ingin menjadi salah satu orang yang bisa membuat orang-orang tertawa wkwk. dan hal itu masih menjadi keinginan saya sebetulnya tapi ah biar ngalir aja dulu wkwk.

“Iya hobby mu apa? Coba asah.” Banyak sekali orang yang bilang begitu saat saya bilang kalau saya ingin berprestasi atau setidaknya saya bisa sukses dalam satu bidang saja. saat itu juga kalau ditanya hobby saya masih kebingungan mau jawab apa ,  kebayang ga si? Anak kuliah loh ah wkkw. Balesan saya Cuma, dari dulu saya suka nulis, dan baca saja, dan itu hanya nulis diary, ya masa bisa dijadiin prestasi? Nah tu pikiran astagfirullah sekali wkwk.

Orang yang paling menyemangati saya bahwa saya harus nulis, nulis dan nulis. “Kan hobby mu nulis? Coba asah. Intinya setiap hari nulis de”. Begitu kata mbak senior saya plus satu kontrakan saya, Bak muallifah, akrab disapa ifa. Apa tanggapan saya? Jujur ya, kesel. Apa yang mau ditulis coba? Bagaimana cara nuli si? Mau nulis apa ini? Bak ifa ngga pernah nyuruh saya harus nulis ini, harus nulis itu, perintahnya Cuma nulis. Siapa yang ngga kesel coba ya kan? Dan karena itu beberapa hari saya ngga minta pendapatnya lagi wkwk, bak ifa kalau baca ini jangan dulu sakit hati ya wkwk masih ada kelanjutannya ini wkwk.

Lanjut kembali mencari orang, karena saya orangnya pemalu, saya ngga bisa berdiskusi langsung apalagi sama orang yang tidak dikenal, dan alhamdulillahnya, virus corona ini memberikan jalan, semuanya seperti online dan ini memudahkan saya untuk bisa curhat ngga jelas, nanya-nanya ngga jelas di chat, hobby saya ini mah wkwk. Nah, saya coba menghubungi salah satu dosen untuk berdiskusi atau lebih tepatnya dimintai pendapat tentang saya. Dan sayangnya tidak ada respon baik.

Tidak menyerah, saya kembali mencari dosen yang punya banyak bahan pengetahuan tentang bakat seseorang, psikologi dan sebagainya, jatuhlah pada dosen semester dua saya, Dosen orin. Kebetulan kemaren beliau mengisi seminar di grup yang saya ikuti tentang bakat. Dan Alhamdulillah respon baik dari beliau. Banyak sekali yang saya tanyakan, bahkan saya juga test kepribadian. Dan beliau lah pertama kali menyuruh saya membangun blog, karena menurut beliau tepat sekali hobby yang dipunya. Jazakillah khair ibu

Sejak itu, saya kembali menghubungi bak Ifa wkwk. tetap saja saya disuruh nulis tanpa dikasih tau harus nulis apa. Oke rasa keselnya udah mendingan. Saya mencoba membuka laptop, tanpa ide apa-apa. Menneng aja saya di depan laptop dong, ini mau nulis apa si? Tapi alhamdulillahnya dapat hasil! Saya bisa nulis dua paragraph! Ya lumayanlah.

Sadar ngga? Bahwa ini sudah menjadi tulisan sekalipun ngga jelas? Nulis saja apa yang ada difikiranmu, begitu kira-kira ilmu yang saya dapat saat pernah ikut kelas online menulis, saya terapkan deh. Dan sebenarnya ini sangat berkesinambungan sama perintah bak ifa yang hanya suruh nulis, nulis dan nulis tanpa membuatkan tema.

Kepikiran dengan blog, saya mencari tau dan tekerjut saya dong! Kalau nge blog bisa menghasilkan uang! Uwuuuu, ini nih kelemahan saya wkwk, selalu ingin menghasilkan uang wkwk.

 

Lalu saya banyak bergabung dengan grup-grup di facebook, tentang blog. Semakin menarik, semakin ingin cepat-cepat pula saya ingin membuat blog, hingga suatu hari, saya coba berani menanyakan di grup yang berkaitan dengan blog. Dan Alhamdulillah, banyak sekali orang baik : yopie_popoy , Author dan adminnya : www.sastrasukasuka.us  dan  www.cobamoveon.com . Beliau bersedia mengajari saya dari nol, ikut andil dalam proses nge blog, sampai detik ini. Semoga Allah membalas lebih kebaikanmu bang, maafkan sulfa udah banyak bikin kesel wkwk.

Setelah beberapa hari ngeblog, ngga tau mau nulis apa di blog. Tulisan pertama adalah puisi yang sebenarnya sudah saya tulis beberapa bulan yang lalu, sebagai percobaan, saya update itu saja. dan, saya tak sengaja membaca “lomba” yang berkaitan dengan blog dan hadiahnya domain gratis! Saya ngga paham domain ini apa, tapi karena masih semangat-semangatnya nulis. Saya coba ikut! dan masyaa Allah sekali, saya menang dan dapat domain gratis yang harganya lebih 100an. Ajaib sekali alur MU Rabb. Terimakasih untuk keluarga maheswara;)

Tak cukup dari itu, saya banyak masuk grup wa seminar tentang kepenulisan. Dan juga grup wa “BSSB” wajib membaca buku yang bisa membantu saya berkomitmen. Dan di sana saya banyak menemukan ilmu baru, dan yang paling saya suka, mereview buku itu asyik dan asyiknya jadi bookstagrammer. Dari situlah, tingkat membaca dan menulis saya semakin tinggi, semangatnya loh wkwk

Boleh cek ig saya sulfainilf dan FB suLfaini Lf wkwk. disana ada review buku yang sudah saya baca yang sebenarnya sudah saya uploud di blog si, tapi ngga papalah, lihat versi instagram wkwk.

Apa sih maksud saya nulis beginian? Mau bilang kalau sudah sukses? Sudah saya katakan saya belum sukses. Hanya saja saya ingin menulis tepat blog ini umur sebulan! Biar bisa dikenang, dan dalam pikiran saya, berbagi pengalaman ini.

Memang ini pengalama yang harus dicontoh? Kenapa harus dilihat banyak orang? Jujur saja ya, selepas saya menekuni hobby saya; membaca dan menulis. Mengikuti banyak kelas online tentang menulis, dan membangun blog ini. Perasaan saya agak lega. Saya bangga sudah mempunyai impian yang nyata sekalipun belum terwujud. Saya bangga punya hobby menulis dan membaca, membagi tulisan saya pada banyak khalayak yang mungkin banyak sekali yang mencuekinya. Tidak apa-apa. Saya tidak mecari kepopuleran itu. Dan saya bangga, saya bisa menimalisir perbuatan yang sia-sia, dengan menulis dan membaca. Intinya, saya bangga sudah ada di posisi ini gitu, bukan maksud sombong ah.

Banyak sekali impian saya, terutama menjadi penulis hebat yang bermanfaat, penulis lepas, penulis buku, penulis majalah dan sebagainya. semoga yang terbaik, Allah kabulkan, Aamiin.

Buat kalian yang sudah baca cerita ini sampai akhir, terimakasih. Semoga kalian sukses dengan impian masing-masing.

Saya sangat senang sekali berbagi cerita, boleh berteman akrab dengan saya kunjungi instagram atau facebook saya ya. Silahkan DM! saya pastikan dibalas wkwk saya tidak cuek kok hehe.


SALAM SUKSES!  YAKIN SAJA! SEMOGA KITA BISA SUKSES!



Ah, Aku Ngga Mau Dijdodohkan

Ah, Aku Ngga Mau Dijdodohkan

View Article
Ah, Aku Ngga Mau Dijdodohkan

Ah, Aku Ngga Mau Dijdodohkan...

Oke, siapa yang sering bilang begini? wkwk. Masalah pernikahan memang suatu hal yang tak mau dianggap enteng bagi setiap orang, dianggap hal sakral yang hanya di lakukan sekali untuk seumur hidup. Tak mau salah orang, tak mau salah pilih, dan tak mau di pilihkan wkwk. “Bukan zamannya siti nurbaya lagi deh, tak usah lah main jodoh-jodoh an,  seperti tidak laku aja anaknya”, Protes mereka.


Orang yang dahulu, dulu sekali, sebelum saya lahir pastinya dong wkwk, lumrahnya semua anak pasti dijodohkan sama orang tuanya, mau perempuan mau laki-laki terserah orang tuanya. Mereka hanya akan mengangguk dan mengiyakan saja, biar tidak kualat seperti maling kundang. Orang dulu banyak yang putus pendidikannya hanya karena ikut orang tuanya bekerja, hanya karena dijidohkan oleh orang tuanya, siap tidak siap harus siap, iya atau tidak, harus iya. Tak perlu jauh-jauh, takdir orang tua saya pun tak luput dari perjodohan. 


Perjodohan diistilahkan dengan hidup sama orang yang tidak di cintai ya kan? hehe. Padahal dulunya tidak kenal, eh malah mau tidak mau harus hidup bersama selama-lamanya, atas keinginan orang tua pula. Perjodohan terkenal dengan pemaksaan, padahal sudah punya do’i, eh malah orang tua tidak setuju dan disandingkan dengan pilihannya. Perjodohan identik dengan tidak bahagia, bagaimana tidak? Orang tua dengan se enaknya memerintah anaknya untuk hidup sama orang yang tidak kita suka. Dan banyak sekali persepsi lain tentang jodoh.


Nah, saya punya cerita, tapi namanya di skip ya hehe, jangan jadikan ini sebagai gunjingan, tapi pelajaran. Seseorang pernah cerita sama saya, bahwa dia sudah bertunangan saat MA, dan menikah setelahnya, tentunya dengan pilihan orang tua, bukan kemauannya dan dia tidak suka itu. Di masa tunangan, calonnya itu sering kali ikut keluarga dia ketika mengunjungi ke pondok, dan dia biasanya tidak mau ketemu wkwk, tapi ketika calonnya pamit pulang dan mengasihnya angpau, baru dia mengambilnya, ah dasar hehe. Setelah menikah,  hidup rukun dengan satu anak, pernah melahirkan dua kali tetapi sayang anaknya tidak punya kesempatan untuk menglihat dunia ini, innalillahi, alfatihah untuk mereka. Ah, usut punya usut ternyata dia ada main dengan laki-laki lain, alasan klasiknya bisa jadi karena dulu dia tidak suka dijodohkan, karena tidak bisa menyuarakan haknya dan tidak berdaya,  dia bales dendam mungkin, kemanalah pikirannya. Lagi, lagi persepsi negatif tentang perjodohan, memang tidak ada sisi positifnya apa?

Siapa bilang perjodohan tidak ada sisi positif, dimana-mana mah suatu hal itu pasti ada sisi positif dan negatifnya, termasuk perjodohan ini. Bahkan, saya pun pernah ingin menikah karena dijodohkan wkwk, sampai-sampai sama temen saya di tegur, “dih, mbak ul mikir apa sih” “otakmu  kau taruh mana nak?” Ish, tanya dulu dong kenapa ada pemikiran begitu.

Baik, Saya mau cerita singkat tentang kisah perjodohan orang tua saya. Ibu saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara, punya abang dan juga adek, sempurna kali ya hehe. Sama seperti ibu, semua saudara ibu nikah karena dijodohkan, diurut dari yang paling tua, pamali katanya kalau ngelangkahi kakak kandung wkwk dan paling mirisnya dengan orang yang masih ada hubungan darah, sekampung pula, et dah tak ada kampung lain apa wkwk. Nah, anggap si kakak sudah nikah, sekarang giliran ibu yang dinikahkan. Singkat cerita, namanya juga pernikahan pasti ada bumbu-bumbu penyedap rasa, eh iya maksudnya pertengkaran, cekcok, beda pendapat dan sebagainya, apalagi dijodohkan tidak tau asal muasal calonnya, sifat dan sikap calonnya, ya bagaimana tidak bertengkar wkwk. tapi, berita baiknya, si ibu dan si bapak bisa melewatinya, ah tu kan so sweet. 
Nah, ketika aku beranjak dewasa, sudah paham tentang virus merah muda, aku sadar betapa so sweet nya mereka, betapa mesranya mereka, bahkan melebihi tetangga ku yang nikah dengan pilihannya sendiri, ah sabar mblo wkwk. dari situlah aku sempat mikir, enak kali ya kalau aku nikah karena dijodohkan, nanti endingnya seperti mereka wkwk.

Nah sekarang, coba kalian yang punya orang tua, nenek kakek yang masih ada, tanyakan pada mereka, mereka nikah karena dijodohkan atau dengan pilihannya sendiri? Kalau orang yang nikah dibawah tahun 90-80an biasanya nikah karena dijodohkan. Lalu coba tanya, apakah untuk pertama kalinya mereka langsung merasakan cinta? Tentu tidak, proses dong bro. tapi coba lihat, mereka tetap berdiri tegak berdua, saling mengasihi dan menyayangi, buktinya dengan adanya kamu sendiri, bukankah ini hasil dari sebuah cinta? 

So, tidak semua ending dari perjodohan adalah kesengsaraan! Dahulu, sedikit sekali perceraian, padahal dahulu 80% semuanya nikah karena dijodohkan. Coba lihat sekarang? Perceraian semakin membeludak, padahal hasil dari pilihannya sendiri. Lalu bagaimana? Sampai sini paham?


Semua orang pasti memiliki pendapat yang tentunya berbeda-beda, bukan?
Pintar-pintar saring saja oke?
Salam santuy dari saya hehe...
Qoute patah hati

Qoute patah hati

View Article


Halo... Bagaimana kabarnya nih? Sudah pada qurban kan? Sapi, kambing, atau mantan nih? Wkwk jangan kejam-kejam ya sama mantan, ingat dulu, bahagiamu karenanya hihi. Sudah sudah, lupakan mantan, karena sekarang masih dalam lingkup hari raya idul adha, saya pribadi mohon maaf ya kalau ada salah kata hehe.
Ah iya, jangan lupa minta maaf sesama mantan wkwk.

Sekarang, saya ingin share qoute tentang cinta yang pasti ada bumbu-bumbu mantan hehe... Jangan dulu beranjak, siapkan secangkir kopi, kertas dan bolpoin (siapa tau cocok buat tambahan koleksi qoute wkwk) dan terpenting siapkan hati yaaa...


"Hai... Apa kabar?"
Yah, mungkin menurut mereka, itu kata biasa, tapi bagiku itu adalah kata teristimewa jika terlontar dari bibir indah mu. Iya sayang, kamu. Tapi, sepertinya itu mustahil iya kan? Haha mana mau kamu nanya kabar aku, ngasih kabar saja sudah nggak ya kan? Haha miris.
_

Aku tahu, aku bukan lagi prioritas mu. Aku tahu, aku bukan lagi teman ceritamu. Aku pun tahu, rasa sayangmu sudah pudar. Tapi, salahkah aku jika masih mengharap semuanya kembali ke semula? Aku terlanjur sayang kamu, dan untuk menghentikannya, aku tidak punya cara.
_

Kamu tau apa yang terlintas difikiran ku saat kamu menceritakan semua masalahmu? Kamu nyaman sama aku. Tapi nyatanya, aku bukan satu-satunya orang yang mendengar kisah perih mu, bahkan aku dalam urut terbelakang setelah mereka. Hanya mau cerita, tidak lebih, begitu kan sayang? Sayangnya aku salah mengartikan.
_

Aku pergi, Bukan tak mau peduli. Aku pergi karena sadar diri. Aku sudah kau campakkan bersama kenangan. Tapi, jangan khawatir, ini aku yang tak akan pernah berhenti mencintaimu.
_

Boleh malam ini kamu hadir dalam mimpi ku? Aku sangat rindu, serius. Tidak, aku tak perlu lama, cukup 5 menit saja, aku janji. Setelah itu kamu boleh pergi.
_

Kamu boleh berkelana kemana saja, kamu juga boleh pulang kapan saja. Apakah kebebasan begini belum cukup untuk membuatmu sadar? Itu hanya kiasan, iya benar kiasan. Tak paham kah dengan niat terselipku? Ah, ternyata aku salah cara. Kamu semakin hilang entah kemana.
_

Hehem... Sekarang lagi dekat dengan siapa? Aku terlupakan kah? Padahal kopi mu sudah kubuatkan, sesuai seleramu. Tapi, nyatanya kopi di warung sana lebih menarik mu untuk pergi dari rumah ini.


Hehee gimana gimana? Bacanya sambil ngebayangin mantan gak? Perlu di garis bawahi ya teman-teman, saya buat ini hanya iseng saja dan di mohon dengan sangat jangan pakai kata-kata ini untuk hal yang tidak baik, ups. 
Semoga bermanfaat ehehe, berikan hanya pada kekasih halal ya gaes:)
Aku dan Sepeda Ontelku

Aku dan Sepeda Ontelku

View Article
Ilustrasi




Hai.. kali ini aku mau cerita pengalaman lucu dengan sepeda Ontelku wkwk... Cekidot ke bawah yaa..

Waktu naik kelas 4 SD, Aku di belikan sepeda ontel, kembaran dengan sepupuku. Warnanya biru dongker, ada keranjang di depan dan kursi di belakang. Aku tak pernah putus asa belajar pun ayahku tak pernah menyerah menuntunku menjadi pandai. Aku belajar di belakang rumah yang kebetulan ada lapangan bola yang lumayan luas.

Beberapa bulan kemudian, aku sangat pandai bermain sepeda, dari mengayuh menggunakan satu kaki, melepas tangan ketika menyetir, dan meletetakkan kedua kaki di setir. Dan semua itu di luar pengawasan ayah ibu, kalau ketahuan bisa di rampas nanti sepedaku hehe.

Di sekolah madrasah ku, Aku dan teman-temanku berencana bermain sepeda saat pulang sekolah di lapangan bola dekat rumahku. Aku, Ula, Ris, Wid dan sepedaku sudah berada di lapangan. Hanya Aku yang mempunyai sepeda saat itu, jadi kita akan bergantian menaikinya. Lapangan bola yang lumayan luas dan tidak rata (sedikit tanjakan) itu sedang ada permainan, jadi kita bermain di pinggir lapangan. Saat giliranku, aku unjukkan kepandaian ku menaikinya. Mengayuh dengan cepat kemudian melepas kedua tanganku, ganti dengan gaya lain yaitu mengayuh dengan cepat dan meletakkan kaki ku di atas setir. Aku merasa hebat.

Merasa bosan bersepeda sendirian, Aku mengusulkan bermain berdua dengan memanfaatkan kursi di belakang. Aku dengan Ula, dan Wid dengan Ris. Aku yang menyetir, Ula yang berbonceng dengan dua putaran. Putaran pertama aku masih menyetir biasa, lalu putaran kedua, Aku izin pada Ula bermain dengan cara hebatku, Ula tidak mau tapi aku paksa dan meyakinkannya. Mengayuh dengan cepat, meletakkan kaki ke atas setir, dan tangan di lepas, ula memegang erat-erat bajuku. 

Dan… Guubbrraaakkkk… kita jatuh mengenaskan, eh lebih tepatnya memalukan. Bagaimana tidak? Di lapangan itu ada orang yang bermain bola dan berpuluh-puluh orang menontonnya. bayangkan! Ula berada di posisi paling bawah, Aku kedua, dan sepedaku yang ketiga. Dengan keadaan keranjang sepeda yang patah, alat pengayuh nya juga patah, dan beberapa pelor yang keluar dari tempat asalnya.
Permainan bola berhenti dan semua berlari menghampiri kita. Aku cepat-cepat bangun karena Ula sudah merintih kesakitan, maklum dia ditindih dua benda wkwk. Aku sangat ingat ada orang Bangladesh yang sudah lama tinggal di desaku membantu membawakan sepedaku ke rumah.

Beberapa hari kemudian, aku bermain lagi. Kali ini bukan di lapangan, tetapi di tempat yang tanjakannya lumayan tinggi. Aku, Wid dan Fara bergantian bermain memakai sepedaku. Beberapa kali masih aman, hingga kembali aku mendapat giliran, aku percepat mengayuhnya pelan-pelan melepas kedua tangan. Karena mungkin terlalu cepat dan tanjakan yang lumayan tinggi, aku kehilangan kendali, dan lagi lagi aku jatuh, dengan menabrak pohon asam. Aku meringis kesakitan, sedangkan teman-temanku ketawa ngakak di atas sana.

Kelas 5 SD, Aku dibelikan sepeda baru, lebih besar daripada sepeda lamaku, warna pink muda, keranjang besi, dan kursi di belakang. Beberapa temanku juga sudah punya sepeda, jadi setiap sekolah kita membawanya. Kita akan bermain waktu istirahat tiba, mengelilingi lapangan sekolah yang sedikit lebar.

Suatu hari, Ula sakit, dan temanku mau menjenguknya. Entah kenapa, aku males ikut dan memilih bermain sepeda bersama teman-teman yang lain. Ustadz dan anak-anak sekolah lainnya hanya maenjadi penonton. putaran ke tiga kalinya, aku berboncengan dengan Iim, Iim mengayuh dengan santai tapi tak memperhatikan objek di depan. Dari arah berlawanan ada Risal, ia mengayuh dengan ogal-ogal an. Akhirnya, kami bertubrukan, beradu depan. Ah, sakit sih tidak, tapi malunya subhanaAllah sekali. Dengan posisi kepala di bawah kaki di atas dan sepeda yang masih berdiri tegak dengan Iim disana, dan puluhan mata yang menyaksikan. Teragisnya, tidak ada pertolongan, hanya ada gelakan tawa yang bersahut-sahutan. Aku tak punya muka woy, sad

Aku sama sekali tidak jera bermain sepeda, setiap hari, saat berangkat sekolah, pulang sekolah, tak luput dengan sepeda ku. Malam jum’at tepatnya, aku kembali bermain dengan teman-temanku, masih dengan teman yang sama yaitu Ula, Ris, Wid dan Fara. Bermain di gang-gang rumah sampai ke pantai. Tidak ada aksi nekat, kita bermain santai. Saat lagi sendirian dengan posisi teman-teman yang masih jauh, sebuah ide bodoh muncul. Aku berpura-pura jatuh, dengan posisi sepeda dengan orangnya jauh, biar terkesan wow hehe. Aku meletakkan sepeda dengan posisi tidur, dan aku pergi beberapa meter dari sepeda, di sana ada tumpukan batu bata, aku tengkurap agar tidak ketahuan mereka.

Temaan-teman belum muncul, aku sudah tidak enak berada di balik batu bata ini. Beberapa menit kemudian, aku mencium aroma tidak sedap, tidak enak, bau dan Ah segala macam. Semakin lama semakin lekat baunya. Aku menyerah, aku bangun dari tempat itu dan… Astaghfirullahal 'adzim! Benda kotor itu ternyata ada di tangan, dan beberapa di lengan pakaian. Bisa di tebak itu apa? KOTORAN MANUSIA WOY. Ieuh, seketika aku pengen muntah. Tak lama dari itu, teman-teman datang, Ah kemana aja mereka, batinku. Mereke ketawa dengan nyaring, ya aku bisanya cuma nyengir, toh ini real perbuatan bodohku.

Tak habis pikir, bagaimana aku bisa tengkurap di balik batu bata yang ada kotoran itu. Iya mana tau, pertama kali aku ke sana aku tidak melihatnya dan tidak mencuim baunya! Ah nasib!. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Baiklah, sekian dari kisah ini. Ambil manfaatnya ya teman-teman! Tapi jangan tertawakan! Ini kisah teragis yang bikin badan meringis dan hati teriris tapi saat di kenang bikin terkikik-kikik wkwkwk.