Label

Tampilkan postingan dengan label Odop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Odop. Tampilkan semua postingan
Opini Mahasiswa

Opini Mahasiswa

View Article

Opini: suka duka kuliah di tengah pandemi










Penyebaran covid 19 yang semakin hari semakin meningkat membuat menteri pendidikan dan kebudayaan (Nadiem makarim) mengeluarkan kebijakan belajar dirumah saja untuk menimalisir penyebaran covid 19 plus sebagai cara untuk mencegahnya. Aku yang sedang menyandang gelar mahasiswi, eh wkwk harus juga menaati kebijakan dari kemendikbud. 


Terhitung delapan bulan aku melaksanakan kuliah secara daring, padahal menurutku tidak akan selama itu, jika sudah semester depan aku masuk seperti biasa, eh ternyata tidak. Selama delapan bulan itu banyak sekali kesan suka pun duka ketika kuliah daring. Bukankah setiap sesuatu yang terjadi itu pasti ada hikmahnya? Adanya pandemi yang tidak kita bayangkan sebelumnya memporak-porandakan rencana yang sudah menjadi to do list dan segala macam rencana lainnya, namun juga sangat bisa kita ambil hikmahnya, sekalipun memang yang terlihat nyata hanyalah duka.


Bisa pulang kampung


Yah, sekalipun kuliah masih di kota kelahiran sendiri, bukan berarti aku tinggal di rumah selama kuliah karena jarak yang masih terpantau jauh, keterbatasan kemampuan mengendarai kendaraan dan beberapa macam resiko jika terus-terusan PP (Pulang pergi),  membuat aku memilih mengontrak di dekat kampus bersama teman-teman lainnya yang berasal dari macam-macam kota. Dengan adanya covid 19 ini dan diturunkannya kebijakan kuliah daring maka aku bisa pulang ke rumah dengan tenang dan lama disana. Dan ini adalah sesuatu yang patut di syukuri.


Banyak waktu untuk melakukan hal produktif


di awal-awal kuliah daring memang ada rasa senangnya karena kita bisa berleha-leha sekalipun ada jam kuliah, kita masih bisa melakukan sesuatu sekalipun sudah waktunya kuliah (makan sambil kuliah), beda halnya jika kuliah luring, 30 menit sebelum itu haruslah siap-siap. Tetapi lama kelamaan, aku merasa jenuh sendiri hanya guling-guling tidak jelas di kasur, hingga akhirnya aku mencari ‘sesuatu’ yang bisa membunuh kejenuhan ku di tengah belajar online ini. dan finally, aku menggeluti di bidang tulis menulis yang memang hobby ku sejak dulu tapi tidak kusadari.


Nah, bersyukur adanya kebijakan kuliah di rumah saja membuat aku bisa melakukan hal produktif dan bisa menggeluti hobby yang semoga berubah menjadi potensi. Mungkin saja jika tetap kuliah offline dengan kesibukan kuliah bolak balik kampus, rapat sana sini tidak mempunyai waktu luang untuk melakukan hal produktif seperti ini. kesan baik kan?


Mendapat bantuan keringanan


Beralih ke semester selanjutnya, ada beberapa keringanan yang diberikan oleh kampus, yakni penurunan UKT dan pemberian paket data (10 GB). Sekalipun aku tidak kebagian penurunan UKT tersebut, tapi bersyukur karena masih bisa mendapat paket data dari kampus. Hal ini bisa sedikit membantu meringankan beban orang tua selama sebulan tanpa membeli paket data.


Kemudian beberapa kesan yang bisa dibilang kurang enak ketika kuliah di masa pandemi diantaranya ialah


Pengeluaran  meningkat


Kuliah secara daring memang pasti memboroskan kouta, apalagi di awal-awal kebijakan kuliah di rumah saja, beberapa dosen memerintah mendownload aplikasi yang MB nya agak besar seperti zoom, edmodo, google mate dan sebagainya, yang bukan hanya memberatkan hp tapi juga memboroskan paket sehingga pengeluaran membeli data menigkat dari biasanya.jika tidak bisa mengisi maka tidak akan mengikuti pelajaran.


Bukan hanya paket, aku yang notabenenya anak kontrakan juga masih harus membayar uang sewa, yang menurutku agak sia-sia, karena sekalipun aku membayarnya aku tidak tinggal disana, paling hanya dua hari tiga hari jika ada keperluan itu pun tidak terlalu sering.


Sulit memahami pelajaran


Jika dilihat dari pandangan aku sebagai seseorang yang lebih paham di jelasin langsung oleh dosen melalui tatap muka, dengan adanya kebijakan kuliah dirumah saja, aku kesulitan menangkap pelajaran yang sudah dibawakan dosen ataupun dibawakan mahasiswa (metode diskusi). Bahkan, masih ada beberapa dosen yang hanya memberi materi tanpa penjelasan, memberi tugas tanpa adanya penjelasan tentang tugas itu atau pun dosen yang acuh tak acuh terhadap pemberian materinya, hanya menyuruh absen lalu menghilang begitu saja. sehingga banyak mahasiswa yang mengeluh, “kuliah semester ini hanya banyak dapat tugas, paket data yang cepat habis tapi tidak dapat ilmu apa-apa”. yah, aku antara setuju dan tidak setuju dengan pernyataan itu, setuju karena memang aku lebih banyak tidak pahamnya terhadap materi pelajaran, tidak setuju karena masi ada sedikit-sedikit materi yang bisa kutangkap di semester ini.


Metode dalam penyampain materi pun masih terkesan kaku, belum ada cara kreatif-kreatif yang bisa meningkatkan motivasi belajar siswa. Paling-paling hanya satu dua dosen yang menggunakan metode baru.


Apalagi jika ada tugas praktik atau wawancara, selain sulit keluar karena kebijakan masih dirumah saja juga keterbatasan penjelasan dosen dan kekompakan mahasiswa yang dimana juga tidak bisa lagi berkumpul tatap muka untuk mendiskusikan tugas.


Adanya pandemi ini tidaklah hanya bisa kita sesali, tetapi juga bisa syukuri dan semakin giat dalam berpikir kritis dan kreatif agar tidak terlalu kudet dalam menanggapi zaman yang teknologinya semakin canggih ini. kebijakan tentang kuliah dirumah saja juga bukanlah hal yang salah, karena dengan kita tidak berkumpul dengan orang banyak maka juga menimalisir penyebaran virus corona ini dan ini adalah hal terbaik untuk kita semua. Right? Percayalah segala hal yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah. Masih meragukan Allah? Oh jangan. Ayok balek!


Sumber: 

www.kompas.com

www.cnbcindonesia.com

Nasional.kompas.com

#ODOP

#OneDayOnePost

#Tantangan9


Mengulas Cerpen

Mengulas Cerpen

View Article

 Mengulas unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen


Oleh: Anisa Sustianing


“Mbak ... minta sedekahnya,  Mbak ....” 


Kuangkat kepala dan menghapus tetesan air dari pipi. Sedikit terkejut menyadari lelaki paruh baya berbaju dekil dan menggunakan tongkat sudah berada di hadapanku. Tanpa menunggu lama, kubuka saku depan tas. Selembar pecahan dua ribuan kuulurkan ke tangannya. 


“Terima kasih, Mbak.”


Lelaki tersebut tampak heran melihat mata sembabku, namun tak kuhiraukan tatapannya. Seperti halnya tak kuhiraukan tatapan orang yang berlalu lalang di terminal ini.  Kulihat jam di layar ponsel, sepuluh menit lagi bus yang akan kutumpangi berangkat. Sudah kubulatkan tekad untuk pergi. Pergi ke mana pun asal hilang dari pandangan mereka yang mengenalku. 


Ayah ... Ibu ... maafkan Mira. Tak terasa air mata kembali menggenang. Sedih, galau, takut, bercampur menjadi satu. Aku tak tahu apakah yang kulakukan benar atau salah. Yang kupikirkan sekarang hanya ingin orangtuaku tidak mengetahui apa yang telah terjadi.  


Bayangan peristiwa dua tahun lalu yang menimpa Tuti, tetanggaku, kembali melintas. Saat itu aku begitu ketakutan melihat keributan yang terjadi. Tuti diamuk dan ditampar sekuat tenaga oleh ayahnya karena hamil di luar nikah. Tuti yang masih terhitung saudaraku hamil karena pergaulan yang sangat bebas. Bahkan, ibunya sendiri bangga karena anaknya memiliki banyak teman. 


“Kamu jangan kayak Tuti, ya, Nak.  Biarlah kamu dikatakan kuper, pergaulan di luar sana sangat berbahaya kalau nggak pandai jaga diri.” Masih terngiang nasihat Ibu kala kami mendengar keributan itu. Aku tahu Ibu pun sangat terkejut dengan apa yang terjadi. 


“Iya, Bu,” jawabku singkat. 


“Kalau sampai kamu hamil di luar nikah, itu sama saja kamu menimpakan kotoran ke muka Ibu,” kata Ibu kemudian. 


Sungguh, kalimat yang selalu terngiang. Aku yang kala itu merasa benar-benar menjadi anak rumahan tidak terlalu terbebani dengan pesan ibuku. Hal yang pasti bisa kuhindari, karena berteman dekat dengan laki-laki pun tidak. Apalagi sampai melakukan pergaulan bebas.  


Ah, tapi itu dulu. Kini semuanya telah berubah ketika aku mulai bekerja selepas SMA. Ijazah SMA yang kupunyai hanya bisa mengantarkanku bekerja di sebuah pabrik, sebuah industri kecil di kota kecamatan. Perjalanan pulang pergi ke tempat kerja membuatku sering berinteraksi dengan banyak orang. Termasuk seorang lelaki yang cukup sering kutemui di lingkungan tempat kerja. Hingga hubungan itu tercipta ....


“Ayo naik! Naik! Naik ...!” Lengkingan suara kondektur bus menghentikan lamunan.  


Segera kuberanjak dari bangku kayu yang sedari tadi kududuki. Kulangkahkan kaki menuju armada bus AKDP kelas ekonomi yang baru pertama kali kunaiki ini. Beberapa orang yang masih sibuk membeli penganan di warung makan buru-buru menyelesaikan transaksinya. Ada pula yang baru selesai mendapatkan tiketnya dan segera mengisi bangku kosong di angkutan ini. Suasana khas terminal yang sebenarnya sangat asing bagiku, namun kali ini terpaksa kujejakkan kaki di tempat ini. 


Perlahan bus meluncur meninggalkan terminal. Aku harap dengan menaikinya aku bisa meninggalkan semuanya. Semua hal yang tak ingin kuhadapi.  


Kupejamkan mata berusaha menguatkan diri. Bayangan Ayah, Ibu, dan semua keluarga membuat dadaku kembali sesak. Apakah mereka akan mencariku? Aku sang putri kesayangan yang mereka anggap gadis kuper telah melakukan dosa besar. Perbuatan yang mungkin membuat mereka tidak akan percaya jika aku telah melakukannya.


Cih, kemana laki-laki itu? Kemana dia yang telah menanamkan benih di rahimku?


Marah, benci, dan dendam seketika memenuhi jiwaku mengingat wajah lelaki itu. Dia yang selalu mendekatiku ketika jam istirahat kerja. Begitu lihainya dia melakukan berbagai cara untuk mengakrabkan diri. Hingga kebiasaan bertemu membuatku sedikit luluh. Perasaan yang awalnya sebal menjadi terbiasa dengan kehadirannya. Hatiku pun sedikit memiliki rasa simpati kepadanya.


Dua tahun terbiasa bertemu membuatku bergantung kepadanya. Dia yang selalu ada ketika aku membutuhkan bantuan. Dia bagaikan malaikat penolong yang selalu bisa diandalkan. Aku terperdaya rayuannya, padahal aku tahu dia lelaki beristri.  Kami menjalin hubungan terlarang, hingga suatu hari aku menyerahkan mahkota paling berhargaku. Tetapi, untuk meminta pertanggungjawabannya, aku tak sanggup. Aku tak mau merusak rumah tangga orang lain karena kebodohanku ... bermain api. 


“Mau kemana, Dek?” Wanita di sebelahku membuka percakapan.


“Ke rumah saudara, Bu,” jawabku asal. Ah, lagi pula saudara siapa? Aku bahkan tak tahu harus kemana.


“Rumah saudaranya di mana?” lanjutnya kemudian.


“Di ... di ....” Aku tak kuasa melanjutkan ucapan. Kembali perasaan sedih, galau, dan takut menyerangku. 


“Sepertinya kamu sakit, Dek. Wajahmu pucat.” 


Sebuah senyum kucoba gariskan untuk menyembunyikan air mata yang hendak menetes kembali. Dalam hati aku pun lega karena tidak perlu mengarang jawaban kepadanya. 


Bus terus saja meluncur membelah jalanan. Berbagai pemandangan telah silih berganti dilalui. Persawahan, rumah penduduk, pasar, perkebunan kelapa, hingga area pemakaman. Beberapa kali terhenti ketika para penumpang turun di tempat tujuan mereka. Ah, sial. Rasanya penyakit lamaku kambuh. Panas dingin melanda tubuh, keringat mengucur dengan deras, air liur terasa asam, dan sepeti ada yang hendak keluar dari perutku.


“Bang! Aku turun di sini!” Aku bangkit berdiri dan setengah berteriak memberi instruksi kepada kernet bus. 


“Nggak salah, Neng? Di sini mana ada rumah?” 


“Nggak, Bang. Bener, aku mau turun di sini.”


Kernet bus pun memberi isyarat kepada supir untuk menghentikan laju bus. Aku segera melompat dari bus. Seketika kumutahkan segala isi perut, menuntaskan mabuk perjalanan yang melanda. Hingga tak kusadari di mana kini berada. Kuedarkan pandang ke sekeliling, hanya ada pepohonan yang berputar. Terus berputar, dan akhirnya, hanya gelap yang kulihat.


***


“Kamu sudah sadar?”


Sayup-sayup kedengar suara di sampingku. Siapa yang menyapaku? Susah payah kucoba menstabilkan posisiku, mengingat-ingat apa yang terjadi. Perlahan kubuka mata dan menoleh ke sumber suara. Sepertinya aku pernah melihatnya.


“Aku orang yang duduk di sampingmu ketika di bus tadi.” Wanita itu seperti tahu apa yang kupikirkan.


“Oh, Ibu. Kenapa aku bisa ada di sini?” tanyaku, “Dan kenapa Ibu ....”


“Ini rumahku, dan aku yang membawamu ke sini.” 


Aku tak bisa melanjutkan kata-kata. Kurasakan tubuhku sangat lemah. Wanita di depanku bangkit berdiri. Diambilnya satu strip obat dari sebuah lemari di sudut ruangan, dan segelas air dari dispenser di samping lemari. Tak berapa lama, ia berjalan ke arahku dan memberi isyarat agar meminumnya. 


Sedikit ragu aku menerima, namun tak segera meminumnya.


“Kenapa? Kamu dehidrasi dan wajahmu sangat pucat. Atau ada hal lain yang kamu rasakan?” tanyanya melihat reaksiku, “Jangan khawatir, aku ini dokter.”


Kupandangi ruangan yang berwarna serba putih ini. Nampaknya benar dia seorang dokter, ruangan tempatku berada adalah ruangan praktiknya di rumah. Darinya kutahu kalau aku pingsan di pinggir jalan setelah mabuk. Dia mengikutiku turun, beberapa meter setelah aku turun dari bus.


“Namaku Sarah, siapa namamu?” lanjutnya.


“Mira.”


“Nah, Mira, istirahatlah sebentar, aku ada urusan sebentar.”


Kucoba untuk duduk. Dalam hati aku bersyukur, ada orang baik yang peduli padaku. Apa jadinya jika tidak ada yang menolongku. Bodohnya aku tidak berpikir panjang, hanya ingin melompat dari bus saat mabuk perjalanan tadi. Perlahan aku beringsut ke pinggir ranjang, mencoba turun, dan berjalan untuk ke luar ruangan. 


Dengan hati-hati kubuka gagang pintu. Rupanya aku berada di sebuah klinik mungil yang terpisah dari rumah utama. Antara rumah dengan klinik hanya berjarak sebuah taman kecil. Aku sama sekali tak mengenal tempat ini, rasanya sudah terlalu jauh aku pergi dari tempat asalku. 


Ayah ... Ibu ... nyata sudah Mira pergi jauh. Tak kukira, kekhilafanku berbuah kesengsaraan. Seandainya saja aku tidak hamil, aku tidak perlu kabur dari rumah seperti ini, terpisah dari orangtua. Padahal, aku ada adalah si bungsu yang paling disayang oleh mereka. Aku tak bisa membayangkan reaksi Ibu kini, menyadari aku telah pergi dari rumah.


***


Dua minggu sudah aku berada di rumah Bu Sarah. Rumah yang tidak terlalu besar, namun lengkap dengan fasilitas. Bu Sarah hanya tinggal bersama dua orang anaknya dan seorang pembantu rumah tangga. Wanita yang masih terlihat cantik sekalipun tidak lagi muda itu selalu berangkat bekerja dan hanya berada di rumah saat malam. Sedangkan anak-anaknya tidak berbeda jauh darinya, berangkat pagi dan pulang di sore hari karena sibuk les tambahan. 


Bu Sarah orang yang sangat baik, rendah hati, dan lowprofile. Padanya kuceritakan keadaanku, dan dia bersedia menerimaku hingga semuanya kondusif. Sejauh ini aku belum melihat suaminya. Menurut penuturan pembantu, suaminya mengurusi kerja sama bisnis di luar kota. Biasanya dua minggu sekali pulang ke rumah. Aku sendiri tak mau tahu, karena itu bukan urussanku.


Pintu gerbang terbuka saat aku sedang berada di halaman rumah bersama Bu Sarah, menikmati suasana sore. Sebuah mobil yang tak pernah kulihat berada di rumah ini, bergerak memasuki halaman.  


“Eh, itu Papa udah pulang.” Bu Sarah terlihat riang menyambut kedatangannya. 


Seorang lelaki keluar dari dalam mobil. Kurasakan jantung berdebar melihat sesosok tubuh itu. Hanya beberapa detik kemudian, wajahnya dapat kulihat. Dunia seakan berhenti berputar ketika pandangan mata kami bertemu. Dia, orang yang sama yang membuatku pergi dari rumah. 


Selanjutnya,  hanya gelap yang bisa kulihat. 


Tuhan ... kemanakah aku harus pergi lagi?  


**


Mengulas unsur intrinsic dan ektrinsik dari cerpen di atas


1. Unsur intrinsik


Tema: 

Selingkuh itu tidak baik


Tokoh atau penokohan

  • Mira: Tokoh Utama
  • Orang tua kita: Tokoh pembantu
  • Bu sarah: Protagonis
  • Suaminya Bu sarah: antagonis
  • Pengemis: tokoh pembantu
  • Supir: tokoh pembantu

Alur:

Maju mundur


Cerpen di atas menggunakan alur maju mundur, sebab tokoh mira mengingat-ngingat kejadian empat tahun silam berasa nyata. Dan tokoh mira mengingat-ngingat hubungannya dengan cowok itu.

Latar:

  • Tempat: Terminal, Bis, Rumah Bu sarah
  • Suasana: Menegangkan, Sedih.

Sudut pandang: 

Orang pertama pelaku utama


cerpen di atas menggunakan sudut pandang pertama. Penulis menceritakan kisah mira dengan menggunakan kata "aku".


Gaya bahasa:

Tidak ada majas, tetapi tetap asyik.

Amanat:

  • Jangan terlalu dekat dengan laki-laki yang bukan mahrom
  • Pertebal iman agar tidak tergoda setan
  • Turuti kata ibu
  • Jangan selingkuh

2. Unsur ektrinsik


Latar belakang penulis:


Anisa Sustianing anggota ODOP Batch 7 tinggal di Pemalang, Jawa Tengah


Nilai yang terkandung:


Jangan terlalu dekat dengan lelaki yang bukan mahrom agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan, pertebal juga iman agar tidak tergoda oleh setan. Jangan pernah selingkuh jika tidak ingin mempunyai masalah, syukuri apa yang ada.



#ODOP
#OneDayOnePost
#ODOPChallange6
Diary Rumah Sakit

Diary Rumah Sakit

View Article

Pelajaran terbaik ketika di rumah sakit




Hari ini aku mengetik di sambi menjaga nenek yang sakit di rumah sakit. Do’akan yah, semoga segala penyakitnya lekas di angkat, aku agak tidak betah tinggal di sini, untuk mengetik dan mengerjakan tugas pun sulit. Tapi, ini bukan tentang bagaimana keadaanku di sini, tapi bagaimana banyak sekali pelajaran yang aku dapat saat di sini. Semoga dengan kisah ini, kalian bisa mencomot pelajarannya juga.


Niat


Adanya corona, membuat aku lebih banyak menjalani hari hanya di rumah saja. entah kuliah, entah saat mengerjakan tugas, bahkan, sudah tidak ada lagi jalan-jalan. Nenek yang sedang sakit dan kebetulan akan di bawa ke rumah sakit hari itu, membuat aku sumringah, semangat bilang, “aku ikut” hanya untuk sekedar menghilangkan bosan di rumah. Astaghfirullah sekali aku kan?


Niat awalnya yang hanya di periksa, berubah menjadi harus di rawat bahkan sempat masuk IGD. Akibat kekurangan darah. Lagi, lagi aku ingin menginap, bukan dengan niat menjaga, tapi untuk kabur dari ocehan-ocehan ayah ibu. Di point ini sebenarnya aku dapat tamparan, agar tidak salah dala berniat sehingga yang niat awal hanya periksa menjadi di rawat. Tapi, aku tidak peka. 


Setelah semalam aku tinggal di sini, rasanya aku betah. Niat yang awalnya mau pulang, aku urungkan, kembali menelpon meminta baju dan peralatan lainnya. bahkan, tugas yang bejibun tidak mengurungkan niatku. Lagi, lagi bukan niat menjaga nenek, tapi ada satu hal yang aku rasa, aku nyaman tanpa kekang dan ocehan.


Allah sepertinya kembali menamparku, kamar inap yang biasanya berisi hanya keluargaku, hari ini, di tambah pasien. Siapa yang suka? Sempit, tidak leluasa, bahkan ini lebih dari sengsara dari mendengar ocehan ayah ibu. Tapi, apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur. Terimakasih Tuhan.


Perjuangan suami


Sebenarnya nenek pernah ber cerai, Alhamdulillah dengan usia yang masih terbilang muda untuk menjadi janda, ia menikah lagi. Dengan suami yang menurutku sangat baik, bahkan terlanjur baik. Ia tidak pernah marah, saat nenek marah-marah Karena harus di rawat. Ia tidak mengeluh saat nenek membangunkannya hanya untuk ke kamar mandi. Bahkan, pagi-pagi buta sekali, ia harus pergi untuk mencari darah, dari satu kota ke kota lain. Tanpa mengisi perut dahulu, sampai ia kembali.


Sudah mendapat pelajaran bukan? Yah, si suami sayang nenek, dia rela berkorban demi dia. Dan si nenek, patut untuk mengendalikan emosinya.


Jangan sepelekan penyakit


Sebenarnya, nenek aku sakit sejak kemarin-kemarin, bahkan beberapa bulan lalu. Tapi dia tidak pernah mau kalau di suruh periksa, dan tetap bilang, “aku tidak sakit apa-apa, aku baik-baik saja”.


Padahal, dia sakit. Terbilang parah. Wajahnya pucat, karena memang kekurangan darah. Tapi tetap saja dia bilang baik-baik saja.


Dia sakit, kepala sering pusing, haid tidak lancar dan segala macam, tapi tetap dia bilang baik-baik saja. keluarga yang ada di rumah menyerah mengajaknya.


Dan apa yang terjadi? Setelah sehari dia bagi-bagi tajhin (makanan khas bulan saffar) pada tetangga, ia jatuh sakit, dan mau tidak mau keluarga kembali memaksa, dan untungnya dia mau. Sampai di rumah sakit, dokter bilang, “dia lemah, kekurangan banyak darah. Untung tidak telat di bawa kesini. Kalau saja telat, nyawa tidak tertolong”. Nah, loh? Jangan pernah menyepelekan yah.


Jangan jauh dari orang tua


Nenek aku hanya punya dua anak, anak pertama perempuan, kedua laki-laki dengan suami yang sudah bercerai. Yang perempuan sudah menikah, sedangkan satunya tidak. Tapi, mereka semuanya merantau, katanya mencari uang, buat emmak. Mereka bekerja ke Malaysia.


Dengan pandemi seperti saat ini, tentunya sulit sekali untuk pulang. Niat memang, tapi apa boleh buat? Jadilah mereka hanya bisa mendoakan.


Pelajaran nya? lebih dekat mana si orang tua dengan anaknya atau ponakannya? Atau saudaranya? Pasti anak kan. Nah, kalau keadaan seperti ini Bagaimana? Aku saja merasa bahwa nenek aku canggung, iya sangat. Untuk minta anter ke kamar mandi pun, agak gimana.


Pun, bagaimana dengan si anak? Kepikiran? Tentu. Khawatir? Pasti. Apalagi nangis, bukan lagi!. So, sebisa mungkin jangan jauh² kerja nya, atau salah satunya. Sesekali pulang, liat keadaan orang tua. Semoga aku juga tidak begini hihi.


Jaga pola makan


Kaget ngga, nenek aku kebiasaan makan bubuk kopi. Dokter aja kaget, apalagi kamu wkwk. Beberapa bulan terakhir memang dibiasakan, bahkan kadang sampe tiga kali, sedangkan nasi jarang.


Kemudian, kata dokter, kurangi, atau lebih baik di ganti dengan susu. Kalau terus-terusan begitu, juga bahaya. Bukannya memang, kalau yang berlebihan itu tidak boleh?


Sebenarnya masih ada beberapa pelajaran lagi, tapi ah udah dulu mungkin, urusan ku bukan hanya ini wkwkw.


#ODOP



Awal Oktober ku

Awal Oktober ku

View Article




Cerita Oktober ku


Ceritanya lagi ngga nemu ide daripada ngutang mending nulis cerita absurd, siapa tau jadi inspirasi (ngarep) tapi kata kakak-kakak odop, jangan remehin tulisan kita sendiri, siapa tau yang menurut kita ngga bagus, malah menjadi inspirasi banyak orang. Oke cekidot.


Nah pas awal-awal oktober, banyak sekali hal baru yang aku dapat, salah satunya;


Meja belajar baru


Apa istimewanya? Ya mungkin bagi kalian biasa aja, tapi menurutku luar biasa. Ketika SD aku di belikan meja belajar, yang sampai sekarag utuh dong, tapi agak rusak. Nah, kan ngga bagus kalau rumah baru tapi isinya jelek (eh wkwk) jadi, aku minta ayah perbaiki tuh, terus karena aku udah punya banyak buku, maka aku minta tambahan rak. Setelah jadi, aku pakaikan baju dong (di kertas kado in) warna biru, warna favoritnya aku. Dah, semakin betah di kamar.


Hubungan baik dengan teman


Yang kemarin-kemarinnya hubungannya biasa-biasa aja, sekarang agak luar biasa wkwk. yang biasanya wa hanya rame dengan grup, sekarang beberapa nambah teman. Yang dulu-dulu merasa canggung, sekarang bisa cerita ngalor ngidul. Seneng? Iya. Aku tidak bosan, tidak boring, dan tidak kesepian. Maklum, aku emang hanya suka bacot online saja wkwk


Mendapat tugas yang memecahkan kepala


Yah, katanya smt 5 adalah masa males-malesnya kuliah. aku setuju, tapi nggak juga wkwk. Bagaimana pun, kalau tidak kuliah, seperti tidak ada pekerjaan. kuliah, terlalu banyak tugas wkwk.


Minggu ini, aku persentasi berkelompok (2 kelompok), dan aku sanggup ngedit makalah dua itu. Kemudian, di satu makul, harus buat video, kembali aku yang ngedit. Ternyata itu belum kelar, ada tugas wawancara dan bikin RPP. Masih juga harus mikir, mau ngisi konten apa hari ini? 



Sebenarnya biasa aja kalau dibaca, kalau dilaksanakan? Wuih! Tidur siang tergadaikan, tidur malam terlantarkan heeem. Dahlah, bagusnya punya pengalaman, dan berasa 'seneng' kalau sudah selesai. Iya kagak?


Membantu teman


Yah, sebenarnya aku orangnya tidak enakan, jadi kadang semua kata, aku iyakan. Tapi tidak dengan merasa menyesal, malah aku merasa spesial. Seru kalau bantu temen, ada seneng nya kalau keberadaan kita bermanfaat. Walaupun tugas diri sendiri belum terlunaskan, tetapi membantu teman sampai selesai itu melegakan. Seriusan.



Bahkan, ketika aku lagi pusing² garap tugas, ada teman yang meminta bantuan sambil menghibur. Yang tadinya aku stress, kini terhibur. Timbullah niat saling kerja sama. Jadinya, ya mantap wkwkw. Bukan kerja sama, jawaban sama loh ya. Kita saling mikir gitu wkwk. Semoga dia ngga baca wkwk


Mendapat reward #RMTMChallange


Awalnya ngga yakin, karena baru pertama kali ikutan. Ternyata saat lagi nugas bikin video, Ig ku dapat notif. Dan tadaaaaa... Aku menang. Segera ku kirim alamat lengkap, no hp dll. Dan tadiii paket udah sampai dong. Dan please ini hadiah suprise banget di awal Oktober. Dapat 3 buku, dapat senter, dapat aksesoris bertulis #RMTM, dapat notebook, dapat gantungan yang bisa di buat kalung Daan ah ntah, baru kali ini dapat hadiah absurd tapi seneng. Hadiahnya unik cuy. Sumpah, mood langsung baiik, sekalipun saat itu lingkungan lagi ngga baik.


Setengah bisa menimalisir rasa suka


Awokwow, udah di bilang ini cerita absurd bin ngga jelas wkwk. Jadi, seminggu itu dengan hubungan lancar bareng teman, tugas yang menumpuk dan sebagainya membuat aku ngga ada waktu buat mikirin dia. Seneng dong sehari ngga mikirin. Loh? Kok suka begitu? Wkwk ya ngapain mikirin orang yang belum tentu mikirin kita? Cinta bertepuk sebelah tangan gaes. Please wkwkw.


Biasanya ya mikirin Mulu, kemaren ngga. Semoga sampai akhir begitu wkwkw. Doakan cepat bisa move on wkwkw.


Dahlah. Yang udah baca udah ngga usah baper. Cerita ngga jelas gitu kok di baperin wkwkw.  


Keadaan saat menulis ini: mata panas, mengantuk, capek, lagi nyimak kelas online.


#ODOP

#OneDayOnePost





Dua Cinta di Satu Gedung

Dua Cinta di Satu Gedung

View Article

 Fiksi Mini- Dua Cinta di Satu Gedung


Aini melihat takjub pernikahan Risa, dengan dekorasi simple bertemakan bunga melati, dan dua angsa membentuk love di tengah-tengah panggung. Dan… wah Risa sangat beda dari aslinya, mengenakan kebaya warna putih dengan beberapa hiasan bunga melati, make up yang tidak kelihatan tebal mampu mengubah Risa yang aslinya hitam manis. "Ini bisa masuk list saat pernikahan aku nanti nih," batin Aini.


Risal, mantan Risa dulu kini sedang berada di sampingnya, tak beda jauh dari Risa, Risal yang memang tampan sejak dulu semakin tampan dengan tambahan make up itu, dan sangat maco ketika  menggunakan celana putih, dan jas putih berdasi biru. Ah benar-benar pasangan serasi.


Aini memalingkan tatapannya pada undangan yang datang, ternyata ini acara besar, sekitar 300 orang yang hadir. Ia meneliti satu per satu orang yang ada di sana, siapa tau teman-temannya sudah datang. Dan benar, mereka sedang berkumpul di satu meja. saat Aini melangkahkan kakinya untuk kesana, ia terhenti, matanya menelisik satu pria yang sangat di kenalinya, Firman. Cepat-cepat Aini pergi, jangan sampai ia bertemu Firman hari ini, ia tidak siap.


Aini memutuskan naik sendirian ke panggung untuk sekedar mengucapkan selamat pada dua mempelai.


“Masyaa Allah, ternyata beneran datang,” Ujar Risa sambil ber cipika cipiki.

Hehehe Aku penasaran sama kalian berdua kenapa bisa sampai ke pelaminan, makanya bela-bela in datang,” mereka bertiga tertawa.


Eh, sudah berhijab ya Ai?” tanya risal


Eh, iya deng, kenapa aku ngga nyadar wkwk,”  sahut Risa, yang hanya dibalas senyum oleh Aini.


Di tempat lain, dimana teman-teman SMA nya lagi ngumpul, ada Firman, Riyan, Yayan, Faisol, Meilinda, Widia, Angel, dan yang lainnya. Mereka sedang nostalgia mengenang masa SMA nya. Meilinda yang matanya tak sengaja melihat ke arah panggung membungkam mulutnya, kemudian menepuk pundak Widia yang ada di sebelahnya.


Itu Aini bukan?” tanya Meilinda pada Widia.

Firman yang mendengar nama Aini di sebut langsung secepat kilat melihat ke arah yang ditunjuk meilinda, dan benar saja Aini nya sedang berbincang hangat sama pengantinnya. Ia takjub melihat penampilan Aini yang sekarang, Gamis maroon dengan perpaduan hitam yang sedikit lebar di padukan dengan jilbab hitam gaya simple tapi menutup dada. Riasan make up yang tidak begitu tebal tetap membuat si empu terlihat cantik bagi siapa yang memandangnya.


Melihat Aini dengan pelan beranjak pergi dari sana, Firman berlari menghampirinya, ada banyak tanya yang hinggap di kepalanya.


Kurang lima langkah untuk sampai, Firman memanggil, “Ai… tunggu.


Kaki Aini terhenti, pikirannya berkecamuk, entah melanjutkan langkahnya atau membalikkan badannya.


Firman melanjutkan kata-katanya tanpa mendekat lagi “Ai… aku ngga tau kamu masih menganggap aku sahabatmu atau tidak, aku juga ngga tau kenapa kamu pergi begitu saja tanpa pamit, 3 tahun aku mencari keberadaan mu tapi tidak kunjung ketemu, kamu sangat pandai menyembunyikan semua itu. Hari ini, kamu berada tepat di depan ku, dan aku ngga mau kehilangan mu untuk kedua kalinya, please! Lihat aku.” 


Dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya, Aini menundukkan kepala kemudian membalikkan badannya. Ia tak berani menatap Firman.


Mendapat respon baik dari lawan bicaranya, Firman menyunggingkan bibirnya. Ia melangkah pelan menghampiri sahabatnya, rindu yang memuncak, marah, senang, sakit hati semua bercampur aduk. Ketika tepat berada di depannya, Firman tak kuasa menahan air matanya, ia rengkuh Aini dengan tangan kekarnya, memeluk erat seakan tidak mau kehilangannya, sambil berbisik pelan di telinganya, “I L0VE YOU


Tubuh Aini menegang, air mata yang sedari tadi menggenang kini lolos keluar, dengan separuh kesadaran, Aini mendorong tubuh Firman, lalu pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Antara haru dan senang, mendengar kenyataan bahwa sahabatnya ini juga mencintainya, artinya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. 


#OneDayOnePost
#ODOP
#OdopChallenge5



Males Baca Buku? Ini dia Tips nya!

Males Baca Buku? Ini dia Tips nya!

View Article

Cara Ampuh Agar Tidak Bosan Membaca Buku




Siapa nih yang suka membaca buku?


Siapa juga yang sering males membaca buku? 


Mungkin kalau yang suka buku, udah  bisa ngatasin rasa males membaca yang tiba-tiba ya. Nah, untuk yang memang males sejak awal, harus lakukan tips nih biar ngga ada kata males lagi. Membaca itu mengasyikkan loh, yakin dilewati? Yuk lakukan tips berikut


1. Baca Buku yang Bergenre Ringan / Tidak Berat


Rasa males muncul biasanya karena jenis buku atau genre yang kita baca berat atau tidak sesuai sama favorit kita. 


Kalau kamu tidak suka sejarah, maka jangan dulu membacanya. pasti endingnya, “ah, ini apa sih!”, “maksudnya apa sih!”, “heuh, banyak banget, ngga ada gambarnya sama sekali” lalu? di tutuplah bukunya, nggak jadi baca deh, o ow


Untuk pembaca yang baru juga jangan langsung membaca buku yang bergenre berat, kita baca buku yang sesuai dengan favorit kita. Biasanya, enaknya ya baca kisah-kisah gitu, macam cerpen, novel, dan sebagainya. sesuaikan dengan selera kita. 


Aku suka novel, bukan berarti kamu harus suka novel, bisa jadi malah sejarah yakan? Jadi, selagi buku itu tidak memberatkan bagi kamu, bacalah, biar rasa males hilang.


2. Mencari Suasana yang Baru


Nah, kalau biasa baca buku di kamar, coba sesekali keluar. Baca buku di luar rumah sambil nyemil dan nge teh (yok yang nggak suka kopi kumpul wkwk). mencari suasana yang adem dan damai, sambil menikmati desiran angin dan pemandangan langit yang indah atau pergi ke suatu tempat entah pantai, pengunungan ataupun kafe. Semuanya sah-sah saja, yang penting kamu tetap baca buku ahaha


3. Mendengarkan Musik


Ada yang kaget? Hehe dulu aku juga kaget. Tapi setelah mencobanya, ternyata memang bisa loh! Nah pentingnya, tidak semua music bisa kita dengarkan, tidak semua lagu bisa kita putar, harus dipilah pilih. Yakali nyetel jazz? Atau DJ? Atau dangdutan! Weh tidak lagi ngelirik buku endingnya.


Jadi apa nih? Iya alunan music yang lembut, entah piano, gitar, biola atau bisa juga lagu tapi liriknya yang nyambung dengan suasana, baru bisa.


4. Miliki Teman Se Visi


Penting juga nih. Saat kita lagi malas baca, saat lagi tidak semangat, tentunya yang kita butuhkan adalah penyemangat dong? Dahlah, jangan mikir penyemangat kita Cuma doi, please lah sesekali buang tuh doi wkwkw (bagi yang ngga halal saja ya, yang halal mah puas-puasin sono wkwk).


Kita butuh penyemangat saat kita tidak semangat. Kita butuh dirangkul saat kita lemah. Kita butuh sandaran saat kita rapuh (et dah lebay wkwk). jadi, ketika kita lagi malas baca buku atau lagi tidak semangat, kita butuh teman se visi untuk kembali semangat, kita butuh wejangannya, rangkulan tangannya, boleh jadi rekomendasi buku dari mereka yang bikin kamu kembali semangat.


Kalau tidak nemu teman sekitar, banyak teman jauh. Oh ayola, zaman udah canggih, pasti banyak teman online kan? nah, jangan hanya mencari teman online abal-abal, tapi cari yang se visi. Atau grup literasi banyak berserakan, silahkan join. Gampang kok.


5. Random


Loh apa lagi ini? hehe tenang. Kalau cara yang satu ini, aku kira tidak semua pembaca menyetujuinya, tapi untuk ku ini juga cara ampuh bikin penasaran dan cepat-cepat ingin menghabiskan.


Random gimana maksudnya? Jadi, jangan membaca seperti biasa, jangan monoton, sesekali cobain hal baru. Kalau baca seperti biasa ya dari awal sampai akhir kan ya? Nah yang ini, yang akhir dulu, atau tengah dulu baru awal. Namanya juga random toh?


Aku sering begini sih, apalagi novel. Baca ending dulu, lalu balik ke awal. "Nanti ngga penasaran dong?" Kata siapa? Malah, kalau aku makin penasaran dan pengen cepat-cepat menamatkan. Coba saja dulu, belum dicoba udah bilang nggak nyaman, nggak enak. Hallah!


6. Baca Buku Lebih Dari Satu


Jangan monoton, sesekali coba hal baru. Iya tidak? Hihi. 


Jadi, biar tidak bosan kala membaca, coba hal baru. Seperti cara yang diatas, atau cara yang ini. baca buku lebih dari satu. Tapi, pilah pilih juga.


Seperti pagi ini kita baca buku non fiksi, siangnya novel. Biar tidak jenuh toh otak. Sesekali refresh dengan membaca cerita fiksi wkwk


Pilah pilih, jangan asal comot. Pagi baca buku parenting karya ini, siangnya beda penulisnya. Kan mantap? Punya banyak referensi. Yok silahkan dicoba, nikmati sensasinya


Dan tidak ketinggalan, seperti pagi hari baca buku fisik tentang romance, siangnya baca buku versi digital tentang agama. Kan enak toh?


7. Menganggap Buku Sebagai Teman


Kalau kita lagi sepi, biasanya apa yang di cari? Teman. Nah, kalau kita menganggap buku sebagai teman, maka secara reflex jika kita butuh teman akan membaca buku. membaca mengusir kebosanan, membaca menghilangkan stress dan sebagainya, jadi jangan lupa, anggaplah sebagai teman, sentuh tiap hari. Jangan lupa juga, sesekali refresh otaknya, kita juga makhluk sosial, butuh teman yang bernyawa. Jadi selaraskan.


8. Review Buku


Aku baru dua bulan ini yang mereview, dulu-dulu ya dibiarin. Baca buku taun lampau itu, kadang membuat kita lupa yakan? Nah, solusinya buatlah ulasan biar tidak lupa. Mereview buku juga membantu orang lain menemukan buku yang dicari, atau menambah pengetahuan orang lain atau dijadikan ‘kesempatan’ bagi penulis agar orang lain merasa penasaran dengan buku itu.


Mereview itu asyik, serius. Coba saja, sekali saja buku yang sekarang sedang kau baca setelah selesai review, pasti ketagihan. Percaya deh! Temen aku buktinya. Aku juga buktinya wkwk


Mungkin. Untuk review pertama masih kikuk atau menurut kita nggak bagus, nah kalau kita sering review, istilahnya latihan, maka hasilnya? usaha tidak pernah menghianati hasil.


Dahlah, serius. coba saja, sekali, dua kali, pasti ketagihan. Kalau sudah ketagihan mereview, mana ada muncul rasa malas membaca buku yakan? Secara, untuk mereview kita harus menamatkan buku itu.


Cara di atas saya dapatkan dari buku nya mas adji dan pengalamanku sendiri. jadi, setelah membaca buku dari mas adji aku coba mensurvei diri aku sendiri mana sih cara yang paling ampuh? Dan itulah jawabannya, selamat mencoba kawan. Ingat, bacalah buku sesibuk apapun hihi.


Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Buku

Kelebihan dan kekurangan ebook

Cara mengatasi badmood


#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOPBatch8

#TantanganPekan4



Ini Aku yang Membakar Prestasi Sendiri

Ini Aku yang Membakar Prestasi Sendiri

View Article

Ini Aku yang Pernah Berprestasi tapi dengan bodohnya ku Bakar Sendiri






Aku terpaksa menulis tulisan ini. demi tugas ‘ODOP’ yang suci dan mulia (nyanyi hiah) mau tidak mau harus nulis, autobiografi (?). Oh ayola, aku belum punya pencapaian yang menurut publik adalah hal luar biasa, tidak seperti teman-teman ODOP lainnya yang ‘sepertinya’ gampang menulis hal ini. mengingat hal unik apa yang aku punya (?), aku teringat bahwa menulis adalah obat, ting! mari jujur dengan keadaan, ceritakan dengan polos semoga menjadi bahan semangat! Cekidot!


Aku baru dapat ilham menulis hal demikian saat aku bertanya pada salah satu temanku, “Kamu tau passion aku dimana nggak si?”, “Aku sudah berprestasi nggak si?”, “sungguh, aku tidak menemukan pencapain yang luar biasa dalam hidup kecuali dulu, aku tak tau dimana passion ku, aku tidak tau aku bertalenta dimana.


Lalu dia menjawab, “kamu sudah berprestasi sul, passion kamu di menulis.


Aku kembali menyanggah, “Ah, aku baru saja masuk ke dunia literasi, masih di tahap hobby bukan pretasi


Dia berkata tenang, “Di banding denganku yang tak pernah melakukan hal produktif ditengah banyaknya waktu, kamu sebaliknya. Kamu berprestasi kok, tetap semangat.


Kemudian aku berfikir, ah iya, tidak semua orang bisa bangkit dari keterpurukan, tidak semua orang ingin mengakhiri hubungan dengan ke putus asa-an, dengan keadaanku saat ini, ini sudah prestasi yang luar biasa, cukup pahami lalu kembangkan.


Mengenal Aku


Haloha, sini jabat tangan dulu hihi. Aku Sulfaini, lahir ditanggal cantik, 06-06-2000, bertempat tinggal di sebuah desa terpencil dari Madura, dengan posisi rumah dekat pantai dan rumah dikelilingi pohon-pohon indah nan hijau.


Aku anak sulung, dari dua bersaudara. Mohammad noval ibrohim; Adek satu-satunya, yang menurutku lebih dominan mirip ibu, sedangkan aku lebih dominan mirip bapak. Aku ter cap orang yang berbadan tinggi dan mirip laki-laki (?) hihi 


Aku sebenarnya tidak punya pelajaran favorit ketika sekolah, aku akan berkata ‘gampang’ jika mengerti, dan ‘sulit’, jika tak mengerti. Tapi, sepertinya, pelajaran agama sangat berarti untuk dikorek lebih dalam, dari sinilah, aku coba meyakinkan diri, aku suka pelajaran agama, dan saat ini sedang kuliah semester lima (udah tua ya?) dengan prodi PAI.


Pernah Berprestasi di Masanya


Sejak kecil, TK, SD aku dikenal ‘budak pandai’ entah dilingkungan keluarga atau di desaku. Sejak SD, kelas satu sampai kelas enam, aku tak pernah dapat peringkat 2 atau 3 dan dibawahnya, selalu peringkat satu. Ibu aku selalu tersenyum bangga ketika pembagian raport, sedang bapak ntah bagaimana perasaannya, karena beliau jarang sekali berada dirumah; kerja ke Malaysia.


Masa SD, aku beberapa kali juga mengikuti lomba, perwakilan sekolah, tidak juara memang, tapi ini pengalaman wow banget menurutku. Aku harus mengisi presensi dengan tanda tangan, dan itu pertama kalinya aku buat tanda tangan (aku bingung banget waktu itu, mana gurunya nungguin).


Paling berkesan juga, aku dan teman-teman lainnya, menjadi perwakilan mengikuti lomba ‘tari ronding’, yang Alhamdulillah juara 3 se kabupaten dan akhirnya beberapa kali diundang di acara-acara, paling spesialnya, pernah tampil dengan banyak orang sukses saat ulang tahun kabupaten ‘pamekasan’ di arek lancor. Hal yang tak pernah aku lupa.


Di MI pun begitu, ketika ada imtihan, aku selalu dapat juara pertama, pernah mendapat piala bergelar bintang tauladan, dan bintang pelajar, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?


Semakin tinggi aku sekolah, kok semakin merosot prestasiku? Turun ke juara dua, ke tiga, empat dan tidak sama sekali. Ah, sebenarnya point ini tak mau ku kupas kembali, tapi sepertinya, dibuat pelajaran, bagus. Ingat ya, jangan pernah sombong dengan pencapaian mu, sifat sombong tanpa rasa kasihan menggerogoti sifat baik (rajin, baik dll). Hingga akhirnya, sifat yang dominan adalah sombong, dengan segala temannya (males, riya’ dll). Dan jadilah, prestasi hangus. Please cukup aku yang mengalami, kalian jangan.


Putus asa adalah Teman Akrabku


Jleb! Hangusnya prestasi, membuat aku tak terkenal seperti dulu lagi. Tak ada lagi guru yang kenal, tak ada lagi pujian ‘terbang’, dan pancaran bahagia khususnya orang tua dan keluarga (aku berdosa banget Ya Allah)


Aku putus asa mengejar prestasi yang hangus, dan bahkan debunya pun sudah tertiup angin; tak akan bisa dirakit kembali. Sekolah ya sekolah, belajar ya hanya sekedar belajar. tak punya impian “aku harus juara satu lagi, atau setidaknya sepuluh besar”, nggak ada. Aku terlalu tak percaya diri, semangat ku benar-benar hangus. Stagnan, tak berkembang. Belajar kala ada ujian, belajar kala ada teman, dan ah! Perjuangkan ku, terkesan biasa.


Orang tua sebenarnya mungkin masih berharap banyak aku juara lagi, saat menerima rapor, kebiasaan mengecek peringkat dan nilai tetap dilakukan, tapi apalah daya, tak ada juara yang tertera, bahkan nilai ku biasa aja. Aku merasa bersalah, ketika mengingat ekspresi ibu yang sudah beberapa kali ku kecewakan dengan raport kosong di kolom juara. Tapi mau bagaimana lagi? Semangatku sudah benar-benar hangus, hatiku mati.


Aku mulai Bangkit


Mungkin, jika aku masih berteman dengan ke putus asa-an, tak ada ceritanya aku menulis cerita ini, tak ada ceritanya aku bisa menulis di platform blog ini, tak ada ceritanya aku mengikuti komunitas yang memang dasarnya pasti membuatku semakin berkembang. Dengan adanya tulisan ini, adalah bukti, aku sudah bangkit, aku sudah semangat lagi, aku sudah bangun dari keterpurukan, aku sudah putus hubungan dengan ke putus asa-an.


Dulu, aku terlalu menutup mata, melihat tidak ada orang yang memotivasi dan mungkin hanya tatapan kecewa lantaran tak kembali juara. Hari ini aku sadar, dulu banyak sekali teman yang selalu ada saat aku mengalami gagal ‘dalam belajar’, dan bukankah tatapan kecewa bisa kujadikan sebagai motivasi? Aku sayang mereka, aku tak mau mereka kecewa, harusnya aku bangkit iya kan? ha! Menyesal.


Genap umur 20 tahun, aku memikirkan banyak sekali hal. Bukan lagi masalah asmara, tapi lebih ke masa depan yang cerah nan terarah. Bagaimana cara aku sukses? Bagaimana aku bisa menghasilkan uang sendiri? bagaimana caranya aku sudahi kekecewaan orang tua? Dan sekelumit pertanyaan yang bikin sesak dada.


Aku pernah mencoba jual online, Alhamdulillah. Dapat untung, dapat rugi pula. Aku yang notabenenya mempunyai sifat kurang teliti, sering kecolongan mencatat uang modal, pengeluaran dan juga pemasukan. Oke sudah, mungkin ini bukan passion ku. Eh, sebenarnya kalau diusahakan bisa, tapi nurani tidak mengijinkan, aku tidak terlalu suka.


Bertanya sana sini, meminta pendapat sana sini, banyak yang menyarankan, ‘nulis’. Astaghfirullah! Aku baru sadar. Aku yang sejak kecil suka curhat ke buku (diary), suka baca buku pun sampai sekarang, kenapa tidak berpikir ini bisa dikembangkan? Menjadi potensi yang pastinya aku menikmati proses itu dengan senang hati, seperti sekarang ini.


Aku mulai menyusun rencana, aku mulai merajut mimpi, okey ayok bangkit.


Mencari komunitas dunia literasi, banyak sekali. Salah satunya bersyukur sekali ketemu ODOP, jika boleh ku bilang, selama dua pekan bersama, aku lebih banyak mendapat hal baru yang tentu makin memotivasi, pas banget dengan aku yang membangun blog masih seumur jagung, yang tak kudapatkan di komunitas lain (eh, promosi).


Mencari info event menulis, lomba puisi, lomba cerpen, seminar online dan kelas online gratis menghasilkan buku (masih 20 lembar hihi><). Kuliah yang belum aktif, membuatku sangat bersemangat menghabiskan hari dengan membaca, mengikuti seminar dan beberapa kali mengikuti event. Alhamdulillah, lebih dari 40 sertifikat kudapatkan, dan sudah dua buku antologi bersama teman online yang sudah terbit.


Mungkin, ini pencapaian yang biasa aja menurut publik, begitu pula kalian yang sedang membacanya. tapi menurutku, ini luar biasa dari pencapain ku dulu; sering juara kelas. Kalian tidak tau bagaimana aku berperang dengan segala nafsu untuk bangkit kembali, menghapus segala ke putus asa-an, yang hadir kapan saja, bahkan hari ini.


Aku juga ingin menunjukkan pada orang tua bahwa berprestasi itu tidak melulu mendapat gelar juara, tapi lebih baik dari yang kemarin dan tetap melakukan hal produktif itu sudah berprestasi. 


Tulisanku selalu ku share di snap sosmed dan beberapa orang bilang, “wah, tulisannya bagus”, “semangat nulis kakak, aku suka” dan sebagainya. bahkan ada beberapa yang ikut meng share-nya. Ini sungguh hal luar biasa; Kepuasan batin.


Ini aku; Sulfaini yang pernah berprestasi, lalu dengan bodohnya membakarnya dengan api yang diciptakan sendiri. Dan sekarang, ini aku; Sulfaini yang berusaha kembali bangkit, meski gelar juara kelas tak bisa ku raih lagi, akan ku modifikasi menjadi sebuah prestasi yang tak pernah hangus ditelan masa. Aku ingin menjadi penulis yang bermanfaat, masa hidup menjadi teman curhat, masa tiada menjadi penyemangat (melalui tulisan yang abadi). Aku ingin mendekap erat mereka yang jauh melalui tulisan, tanpa harus tau aku siapa.


keterangan; termasuk artikel kah? Hihi><


#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPChallenge3


Film Tilik dan Film Cream wajib di tonton!

Film Tilik dan Film Cream wajib di tonton!

View Article

2 Film pendek yang sangat menggambarkan kehidupan nyata. Rugi kalau tidak ditonton!


1. FILM TILIK


Hasil screenshot Film Tilik


Film tilik ini sebenarnya sudah rilis tahun 2018 namun viral di tahun ini. Karya dari agung prasetyo, film pendek yang berdurasi 32 menit ini berhasil memenangkan piala maya untuk kategori film cerita pendek terpilih di tahun 2018. Menurut beberapa artikel yang aku baca, mas agung tidak percaya bahwa film tilik ini akan se viral sekarang ini. 


Sinopsis


Bahasa tilik berasal dari bahasa jawa yang berarti menjenguk. Yu ning (Nama asli; Briliana desy) yang mendengar kabar dari dian (Nama asli; Lully syahkurani) bahwa bu lurah sedang sakit dan dirawat dirumah sakit. Tilik adalah tradisi orang jawa dimana jika ada orang sakit, maka akan rombongan (bersama-sama) menjenguknya—desa aku juga begitu ahaha. Disepanjang perjalanan menumpang truk, ibu-ibu sangat asyik  mengobrol tentang dian; yang katanya anak nakal. Di mulai dengan Bu tejo (Nama asli; Siti fauziah) membawa berita yang di dapat dari sosial media (facebook) tentang bagaimana nakalnya dian; pergi ke hotel bareng cowok. Dalam kehidupan nyata pun, banyak kali berita yang tersebar (belum tentu benar) tentang perilaku dian; bersama om-om, muntah-muntah, godain suami orang. Ditambah dengan Bu tri (Agelia Rizky) yang selalu mengompori pembicaraan tersebut mulai panas.


Yu ning yang notabenenya masih saudara dengan dian tidak terima dengan segala berita yang dibawa bu tejo. Dia juga selalu berkata, bahwa jangan menelan mentah-mentah informasi yang di dapat dari sosial media, atau dari mulut ke mulut. Ah, intinya banyak sekali adegan saling cekcok antar emak-emak yang bikin ketawa dan gemas.


Sepertinya  kalau aku cerita sampai ending, nggak bagus deh ahaha, nanti spoiler wkwk. yang intinya, endingnya bakal mengejutkan, rugi banget si kalau nggak nonton; Cuma ngandelin review ini doang—ahaha.


Review


Ada banyak kejadian lucu yang tersemat dalam film pendek tersebut, yang paling lucu menurut aku saat si truk ditilang karena melanggar aturan, si ibu-ibu kompak mendemo pak polisi hingga bisa kembali bebas dan melanjutkan perjalanan, dan ketika truk mati dan harus didorong si ibu-ibu mendorong dengan semangat, the power of emak-emak banget wkwkwk


Film ini sangat menggambarkan kehidupan nyata. Dimana, jika berkumpul-kumpul maka pasti akan ghibah-membicarakan orang lain.


Menyebar dan menelan mentah-mentah berita yang tersebar di sosial media dan berita yang didapat dari mulut ke mulut. 


Menjenguk orang sakit, yang katanya ini adalah tradisi yang kental sekali di jawa. Desa kalian begini kah? Kalau aku iya, tapi aku bukan jawa asli, Cuma provinsi jawa timur—ahaha. Emak-emak yang biasa mengetuai hal begini, akan semangat dan mengajak emak-emak lain untuk ikut menjenguk, selagi tempat tersebut bisa dijangkau. Ya. Aku mengalaminya juga.


Dan, ada hal unik yang aku dapat dari sebuah artikel tapi lupa namanya apa—maaf. Tentang streotipe perempuan. Daripada laki-laki, perempuan lebih banyak di bicarakan. Iya tidak? Dimulai dari tamat SMA, biasanya kalau melihat keluarganya yang tidak mampu, lalu si perempuan ini memilih terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, pasti jadi bahan gunjingan—orang tuanya miskin kek gitu, kok masih kuliah, kenapa nggak kerja aja sih?


Tamat sma, lalu langsung nikah. "Nggak sayang apa sama pendidikannya, kok langsung nikah? Paling dia hamil di luar nikah."

Tamat SMA, lalu kuliah. "Ngapain sih sekolah lagi? Toh endingnya nanti hanya jadi ibu rumah tangga, di dapur, di kasur dan disumur. Dan sebagainya.


Oh ayolaaa… mereka punya tujuan yang tidak sama denganmu, mereka punya cara sendiri untuk menikmati hidup. Kalian yang suka begitu, begitu ya caranya menikmati hidup?—eh maaf. Ahaha. Sudahlah, jalani hidup masing-masing, tidak akan semakin wow hidup anda jika hanya menjaga dan mengomentari hidup orang lain.


Lalu, apa pesan moralnya?

Menonton sesuatu itu jangan hanya mendapat jenakanya, fantasinya, alurnya, endingnya, bagusnya, deg-degkannya, dan lain-lain. Tapi, apa sih pesan yang didapat dari menonton sesuatu itu? Pelajaran apa sih? Hal penting apa sih?


Jangan menelan atau meyebar mentah-mentah berita (sosial media – mulut ke mulut)


Hoax, yang akhir-akhir ini banyak kali tersebar, apalagi di zaman yang sangat mudah mengalirkan informasi ini di manfaatkan oleh oknum-oknum untuk menyebar hoax. Bukankah kita pastinya menyadari? Betapa banyaknya hoax yang tersebar di sosial media, entah wa, fb, ig dan sebagainya. sayangnya, acap kali mereka yang mendapat info tersebut langsung memakannya, diterimanya bahkan ikut menyebarkannya. Tidak dibuktikan dulu apakah hal itu benar atau tidak—right? Semoga kita tidak termasuk.


Kemudian berita yang dibawa dari mulut ke mulut, hal biasa yang terjadi di masyarakat sekitar, apalagi emak-emak yang jago sekali nge gosip. 

Jadi, bijaklah meyaring berita yaaa….


Jangan ghibah


Sepanjang film ini, hal yang menonjol adalah menggosip, dari mulai awal cerita sampai akhir cerita. Bu tejo dengan karakter khas nya tak pernah berhenti membiacarakan dian, bu sam yang iya-iya saja dengan hal itu, bu tri yang mengompori dan alhamdulillahnya ada yu ning yang nggak suka ghibah, dia sering kali menyela obrolan bu tejo dan ibu-ibu lainnya. Belajar jadi yu Ning ya, tapi harus tau tempat cara menegurnya


2. FILM CREAM




Sinopsis


Seorang professor mampu menciptakan produk ‘cream’ yang sangat hebat sekali. Cream layaknya obat yang menyembuhkan segala penyakit, bukan hanya penyakit biasa, melainkan penyakit luar biasa yang tak akan bisa berhasil menurut kita; menghidupkan orang mati, membuat yang bisu jadi bisa bicara, yang tidak punya mata, tangan, atau kaki jadi punya, segala kekurangan yang dimiliki seseorang akan musnah dengan cream. Tidak hanya pada penyakit, cream juga bisa menciptakan barang-barang (yang ada di film emas). 


Melihat cream melejit menjadi booming dan terkenal, beberapa orang pun banyak tidak suka dan melakukan sesuatu. Penasaran? Tonton aja, nggak baik spoiler tuh ahaha.


Review


Dikemas dengan menggunakan bahasa inggris, saya agak kewalahan mengartikannya, namun alhamdulillahnya masuk di komunitas yang member-membernya baik-baik mereka saling membantu menterjemahkan dan menceritakan sesuai pendapat mereka. 


Durasinya yang hanya 12 menit lebih itu dengan penyuguhan layaknya kartun (bukan dilakoni orang) membuat penonton (saya sendiri) merasa asyik dan sangat menikmatinya, sekalipun berbahasa inggris, tapi masih bisa aku menebak nya (sambil dijelaskan teman-teman lain :D)


Sama halnya dengan film tilik, film cream ini juga menggambarkan kehidupan nyata. Dimana banyak sekali orang iri terhadap kesuksesan seseorang. Dan, sebagai manusia yang fana, maka ciptaan manusia pun akan fana, tidak ada yang abadi kecuali Dia sang Ilahi. Cream yang dulunya melejit, dipuja, menjadikan banyak sekali manusia bergantung padanya kini layaknya kapal yang terbalik, cream dibuang dan tidak dipercaya lagi.


Jika cream tetap ada, maka semua masalah akan musnah, tidak ada masalah, tidak ada perjuangan mengatasinya, tidak ada perjuangan, hidup akan hambar dan stagnan.  Pun, yang sukses hanyalah satu orang (pembuat cream), manusia lainnya tidak ada kenaikan pangkat—stagnan.


Lalu apa pesan moralnya?


Jangan pernah iri terhadap kesuksesan seseorang dan yang sukes jangan lah sombong. Iri dan balas dendam yang diperbolehkan adalah dalam hal kebaikan, jika kita iri lalu kita ingin bales dendam dengan niat ingin lebih sukses dari dia dengan cara baik maka itu sangat diperbolehkan. Beda dengan film cream ini.


Kemudian, jangan terlalu bergantung pada orang atau benda. Sebagai makhluk sosial, fitrahnya kita membutuhkan orang lain atau benda. Namun, jangan terlalu bergantung. Kita juga harus berusaha sendiri dan mencoba sendiri sebagai alat ukur sampai mana kita bisa? Toh, seharusnya kita bergantung pada Allah yang menciptakan kita, bukan bergantung pada ciptaan yang setara dengan kita.


Di dunia ini tidak ada yang abadi, tidak ada yang sempurna, hanya Allah yang Maha abadi dan Maha sempurna. Manusia dan segala yang ada di bumi adalah hal fana, maka memang sepantasnya kesuksesan itu fana, pantas saja ciptaan manusia itu fana. Jika Allah berkata ‘kun’ hal semustahil apapun akan terjadi. Jadi, jangan sampai Allah murka dan ‘membalikkan’ kapalmu.



Sudut pandang orang beda-beda, jadi jangan bergantung pada apa yang sudah ditulis saya diatas, karena naluriah kita beda. Bandingkan dengan review mereka yang lain, lalu pakailah intuisi dan feeling mu, kemudian tulislah pendapatmu. (sharing mengasah insting penulis, oleg gus irwan)


Semangat berkarya:)


#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPChallenge2


Lulus ODOP? Gampang!

Lulus ODOP? Gampang!

View Article


Strategi lulus odop dan menikmati programnya


Setelah melihat postingan kak jihan yang berisi tentang dibukanya batch 8 odop, saya langsung membatin, “kok sepertinya ini cocok buat saya ya”, langsung buka ig odop, membaca persyaratannya, membatin lagi, “ngga abal-abal keknya nih komunitas, secara persyaratannya muantep banget, bikin opini!” sudah itu bukan langsung mendaftar, melainkan masih mikir dan takut, “bisa ngga ya? Nulis tiap hari bisa ngga ya? Ngarang opini kek gini bisa ngga ya” lalu saya berfikir keras, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Coba, semangat! Karena kalau saya sendiri, motivasi se wow apapun itu kecil bagi saya untuk tetap konsisten, pasti akan banyak sederet alasan untuk berkilah dan tidak melakukannya. Baru kalau ada gertakan, tugas yang harus diselesaikan, ngebut! Garis bawahi, ini tidak kesemua bidang saya ya ahaha


Sepertinya saya harus bikin artikel baru untuk bercerita panjang kali lebar tentang odop dan perjalanan menulis saya, next tim insyaa Allah ya ahaha, mari sekarang fokus ke bagaimana strategi saya agar lulus odop dan menikmati segala programnya.


Strategi lulus odop

Nah, kalau sudah sampai disini, pastinya tahap awal masuk odop sudah saya lewati, Alhamdulillah! Sekarang bagaimana agar lulus odop bahkan  harus dengan banyak sekali mengumpulkan point melebihi target!

Menyelesaikan tugas

Kenapa? Karena odop menerapkan sistem kumpul point. Jadi, setiap program yang diadakan odop ada pointnya, seperti posting tiap hari, dapat point, bertanya saat ada kelas, dapat point, mengerjakan tugas, dapat poit dan sebagainya, nah setiap pekannya point di jumlah, yang tidak sampai pada point yang ditentukan, maka akan ditendang! Kalau sudah ditendang, berarti nggak lulus. Paham anak-anak? (eh wkwk canda)

Mengikuti aturan

Ya, gampangnya kita lagi sekolah, sekolah pasti mempunyai aturan yang harus diterapkan. Jika tidak, bisa ditendang sekalipun rajin mengerjakan tugas. Begitu pula dengan odop, mungkin tidak ditendang, tapi bisa mengurangi point atau image kita menjadi jelek. Di odop terbagi 3 grup kecil, ada squadran blog, squadran ig, dan squadran fb. Pastinya di setiap grup kecil ada aturan. Seperti di squadron blog, jika bertanya harus menyertakan hastag, atau tidak boleh mengshare link web agar tidak bercampur aduk dengan link BW.

Jangan berhutang

Loh kok? Tenang,bukan hutang duit, tapi hutang postingan. Satu hari satu post, berarti kalau tidak post dianggap hutang. Kalau sudah tertumpuk bukan hanya akan mengurangi banyak point tapi bikin klenger apalagi nggak kebiasaan! Mampus pusing!


Sepertinya strategi nya itu saja ya ahaha, yang penting konsisten, ikhtiar dan berdoa, insyaa Allah lulus!


Mungkin untuk teman-teman odop lainnya mengerjakan tugas wajib ini singkat, dan jelas ya, tapi untuk saya tidak. Saya membagi cara antara strategi dengan cara menikmati segala program odop. “Loh? Kenapa? Bukannya sama saja?” menurut saya tidak, lulus odop bukan berarti 100% persen menikmati. Contoh kecil, orang tua kita memaksa kita harus membersihkan rumah dengan waktu hanya 15 menit, nah cara agar cepat dan tetap bersih sudah orang tua jelaskan, kita mencatat (dengan berat hati), lalu Alhamdulillah, selesai! cara yang diberikan memang semuanya diterapkan, tapi tetap hati kecil kita jengkel (bisa karena males tapi nggak kuasa nolak perintah orang tua), hasilnya? tugas selesai, tapi tidak menikmati, sepanjang kegiatan kita terus menggerutu, mengeluh dan sebagainya. Ngga enak juga toh? Sama halnya dengan mengikuti odop ini. sudah tak usah panjang lebar ahaha


 Oke, yang strategi udah, sekarang bagaimana cara  menikmatinya. Seruput dulu kopinya, biar saya seruput air dingin saja, tidak terlalu suka dengan kopi, pahit! 

Okey lanjut!


Karena ini pengalaman dari saya sendiri, mengikuti sebuah program belum tentu kita menikmati, melainkan merasa terbebani, apalagi dengan adanya tugas dan segudang peraturan. Jadi, bagaimana caranya supaya bisa menikmatinya? Cekidot!


Jangan diambil ruwet, santai

Ini masih di minggu pertama, bahkan masih berjalan tiga hari, dan tadi malem serius saya hampir stress, kenapa? Belum nemu tema buat besok, sudah beberapa kali nulis pun saya tidak puas dengan tulisan saya, ah tulisan apa  ini? hapus lagi, nulis lagi, hapus lagi, sampai baterai habis. Ditambah dengan saya harus konsisten membaca buku sehari lebih dari 100 halaman, ditambah lagi kuliah. Heuh ruwet! Lalu apa pesan moralnya? Santai! Jangan ambil ruwet! Mikir kesana kesini, pikiran berkecamuk, ngeluh. Bukan dapat solusi, malah nambah pusing! Jadi, ambil santai saja ya, hari ini saya coba berpikir jernih, al hasil dapat solusi, dan hampir bisa nulis dua artikel sehari. Mantap!

Nulis tiap hari, jangan pernah ngutang!

Usahakan nulis tiap hari, atur jadwal nulis. Kalau ada kesempatan, silahkan nulis. Tabung tulisan buat berjaga-jaga. Ikut odop biar apa? biar komitmen nulis kan? jadi ayo nulis tiap hari. Ah iya, materi kemarin tentang menulis adalah obat, bisa banget nih sebagai acuan dan motivasi agar lebih semangat.


Apalagi sampai punya hutang. Karena hari ini sibuk, “gapapa deh, hutang satu kali aja”, besoknya ada perjalanan mendadak sampai sehari, “gapapa ngutang lagi deh, besok janji bayar sama hari ini, sekaligus buat besok, nanti begadang”. Eh, tau-taunya karena capek ketiduran! Esoknya, ternyata kuliah, lagi diskusi, nggak mungkin juga nulis artikel. Sudah berapa kali ngutang hayo? Stress atuh kalau ditumpuk! Seriusan!

Tentukan tema buat besok

Nah! Sudah baca cerita absurd saya di atas? Jadi, persiapkan tema buat besok, biar besok tidak ruwet lagi dan tinggal nulis. Santuy, nikmati hidup okey?

Fokus saat kelas berlangsung

Nah, fokus saat kelas berlangsung ini juga perlu. Heuh apalagi grupnya sampai dikacangin. Pertanyaan bejibun, jawabannya pun kalau ditumpuk jadi males dibaca. Hasilnya, ngga dapat ilmu. Bukan kah malam hari kita lebih banyak bersantai?


Menikmati program itu juga ada  langkah-langkahnya, dan menurut saya seperti yang diatas. Coba kalau kita tidak santai mengikuti program ini, maka kita tidak akan menikmati, begitu pula dengan yang lain.


Nah, membaca strategi diatas, butuh pengorbanan, otak harus mikir tiap hari, waktu yang terkuras, dan sebagainya. kalau sudah berkorban, tentu itu hal penting. Ada banyak harap dibalik pengorbanan.


Apa sih harapan saya ikut odop?


Masuk di komunitas dengan visi misi yang sama, akan banyak mendapat manfaat, salah satunya teman, dan motivasi. Mempunyai teman sefrekuensi, pembahasannya nyambung, banyak menyelipkan motivasi dan informasi yang sangat berguna. 


Bisa menambah banyak jaringan, untuk yang ingin mendapat penghasilan. biasanya pasti ada beberapa yang sudah punya pengalaman, atau banyak teman yang mempunyai informasi bagaimana cara mendapat cuan, kadang pun diarahkan pada orang yang menyediakan lapangan pekerjaan. Saya sudah banyak membuktikannya.


Dan harapan utamanya, tulisan menjadi semakin bagus, cantik, tertata rapi, kosa katanya mantap menjadi candu bagi pembaca, bermanfaat sehingga saya bisa melangkah ke tingkat selanjutnya, menulis buku, mencetak kemudian memasarkannya, pun sukses dalam dunia blogger. Dengan mempunyai image menulis yang bagus sebelumnya, maka akan lebih mudah menarik pembeli. Tentunya, banyak senior odop yang sudah begini? nah, menurut saya tepat sekali saya masuk kesini. Semoga tercapai Aamiin.