Label

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Pria berjaket abu-abu

Pria berjaket abu-abu

View Article


Pria berjaket abu-abu

















Gemercik hujan membuat bising jalanan

Sedikit kendaraan yang berlalu lalang

Sebagian orang mencari tempat teduh

Sebagian tetap melanjutkan perjalanan


Aku di sini

Sendiri

Berteduh di pohon yang agak besar namun beberapa rintik hujan tetap mengenai tubuhku

Aku tak bisa beranjak, hujan nya lebat

Beruntung tidak ada petir

Hanya gemuruh-gemuruh yang saling bersahut-sahutan


Hingga kemudian, engkau datang

Tersenyum tipis sekali

Membuka jaket berwarna abu-abu

Lalu di pakaikan kepadaku

Kemudian berlalu

Bahkan menerobos derasnya hujan hanya dengan payung kecil itu


Ah, siapa dirimu?

Meninggalkan ku dengan jaket yang sudah bertengger di tubuhku

Tanpa memberi tahu nama

Tanpa mengucap sepatah kata


Ku balikkan kemana jaket ini?

Akan ku cari kemana dirimu?

Aku tak pernah mengenalmu

Bahkan aku sudah agak lupa pada wajahmu

Rambut yang menutup dahi itu 

Semakin membuat diriku tak bisa teringat wajahmu


Wahai pria asing

Berjaket abu-abu dan berpayung kuning

Dimanakah dirimu?

Terimakasih kuucapkan

Akan aku simpan baik-baik jaket ini

Semoga suatu hari engkau menjemputnya

Dan memberi tahu alasan kau menolongku hari itu

Sungguh, terimakasih.





I Love My parents

I Love My parents

View Article


I Love My parents






Aku yang tak pernah kalian pandang

Aku yang tak pernah kalian timang

Sekarang sudah tumbuh besar

Sudah tumbuh menjadi jagoan


Aku sudah dewasa tanpa peluh mu bapak

Aku sudah dewasa tanpa peluk mu ibu

Ah, aku pun tak tau kalian siapa

Hidungku yang mancung, mirip siapa? Bapak atau Ibu kah?

Mataku antara sipit dan lebar, mirip siapa bapak kah? Atau ibu?

Badanku yang tinggi dan agak kurus ini mirip siapakah? 

Ah sungguh, aku rindu kalian


Akuu tak peduli terhadap cemoohan orang-orang 

Aku yang katanya bodoh karena tetap sayang kalian

Aku yang katanya nggak punya otak masih mau mencari kalian

Mereka mana paham sama rasa rinduku!


Aku sayang bapak yang setia berada di samping ibu kala melahirkan ku

Aku sayang ibu yang korban nyawa demi aku lahir ke dunia

Sekalipun aku dibuang setelah itu, aku tidak apa-apa

Aku tetap sayang kalian

Aka tetap sayang orang tuaku

Sekalipun sampai detik ini, aku tidak tau siapa.

I Love my parents





Puisi: Aku pergi

Puisi: Aku pergi

View Article


Aku pergi

Aku pamit

Tak sanggup menghadapi keadaan pahit

Dirimu yang kadang berlagak sangat manis

Kemudian acuh tak acuh berubah drastis


Memangnya kau anggap aku apa?

Layaknya televisi yang dinyalakan ketika gabut saja?

Layaknya tisu yang dibuang dan dilupakan setelah digunakan?

Serendah itukah?


Aku memang menyukaimu

Pun menyayangimu

Tapi bukan berarti kau bisa semudah itu mempermainkan ku

Bukan segampang itu menggores luka di hatiku

Aku tidak selugu itu


Sudahlah, aku pamit

Jika jodoh, aku yakin akan ada alasan aku kembali

Jika jodoh, aku yakin dirimu tak kan seperti dulu lagi

Jika jodoh, Aku dan kau tak kan berpisah lagi





Antara marah dan pasrah

Antara marah dan pasrah

View Article


Antara patah yang menginginkan marah dan patah yang mengharuskan pasrah




Tugas yang tak kunjung usai

Harapan yang tak sesuai

Membuat kepala pening

Ingin menyerah sekalipun penting



Lingkungan yang tak paham

Akan keadaan saya yang muram

Semakin menambah persoalan

Semakin ruwet permasalahan



Kecewa rasanya

Sakit hati jadinya

Tapi aku harus bagaimana?

Mau marah, marah kesiapa?

Egois rasanya menginginkan semua orang prihatin terhadap saya

Tak patut rasanya jika takdir Tuhan tidak saya terima



Yah, solusi akhir nya pasrah

Menghilangkan kepulan amarah


Ah, tentu saja memang itu lebih baik

Marah hanya akan menambah masalah

Pasrah akan lebih meringankan masalah


Sudah dewasa

Berperilaku bijaklah!

Ini perasaan apa?

Ini perasaan apa?

View Article

Ini perasaan apa?













Perihal rasa, aku tak bisa membohongi

Mendengar namamu saja, hati tidak terkontrol

Apalagi sampai mendengar kamu menanyai kabar

Rasanya tak karuan


Padahal berulang kali meyakinkan diri

Bahwa sudah tidak ada rasa istimewa lagi

Berulang kali juga merasa patah hati

Tapi kenapa rasa ini tidak mati?


Lalu, aku harus bagaimana?

Aku bingung

Antara tetap yakin atau tidak

Antara ini termasuk dalam permainanmu atau tidak

Terlalu bodoh kah aku?


Ah, rasanya aku tak bisa menerka hal buruk padamu

Membenci pun aku tak mampu

Kecewa, apa lagi.

Hilang sendiri

Musnah sendiri

Jangan tanya kok bisa, aku juga tak paham.


Terimakasih masih peduli

Terimakasih masih sempat menanyai

Meski itu hal biasa menurut mu

Namun, luar biasa menurut ku

Eh?


Ah, rumit!





Perjuangan

Perjuangan

View Article

Tunggu aku, kekasih





Rindu yang memuncak tetapi tak bisa kutanjak

Terseok-seok menuju pertemuan

Sendirian

Tanpa dirimu


Langit pun semakin gelap

Menyisakan kicau burung yang kembali pada sangkarnya

Dinginnya malam mulai tak bisa tertahan

Namun disini aku akan tetap bertahan

Menggapai mu

Menuju mahligai cinta mu


Tak apa hari ini dirimu tak memandangku

Merasa jijik pun tak masalah

Lepas ini akan aku buktikan

Tulusnya cintaku akan menghapus segala kebencian mu


Tunggu aku, kekasih

Sekejap lagi

Aku masih menyingkirkan batu

Agar tak ada luka yang kau lihat ketika aku datang

Aku hanya ingin dipandang bukan orang yang lemah

Aku kuat

Menuju mahligai cintamu






Puisi antara hujan dan kenangan

Puisi antara hujan dan kenangan

View Article



Hujan dan kenangan

 



 

Hujan pun tak kunjung reda

Dingin menyelinap masuk pada rongga-rongga

Membawa hawa kenangan tentangnya

Mengganggu pikiran ku yang kini tak ada pembatasnya


Katanya

Aku tak akan pernah meninggalkan mu 

Aku tetap selalu mencintaimu

Aku disini menunggu kehadiranmu

Nging...

Terus terngiang di telingaku

Janji manis yang habis dimakan ulat bulu

Terkikis

Kemudian habis


Aku yang datang dengan sejuta kasih sayang

Terseok-seok melewati hutan belukar di tanah Abang

Kau kejutkan aku dengan perbuatan tak senonoh mu dengan dia yang katanya kau sayang

Lalu, aku kau anggap apa, sayang?


Layaknya dihujam dengan pisau tajam

Layaknya dilempar batu besar

Ditampar ribuan kali tamparan

Kau anggap aku apa, sayang?

Sia-sia kah perjuangan ku selama ini?

Tak terhitung kah pengorbanan ku sejauh ini?


Pikiran ku melayang tak karuan

Antara bunyi hujan

Dan bunyi janji bualan

Antara dingin menyelinap

Dan rasa yang masih mengharap

Antara air dari langit berjatuhan

Dan air mata yang keluar bersahut-sahutan


Cengeng memang

Sok kekanakan memang

Ah!





Puisi kemerdekaan

Puisi kemerdekaan

View Article

 Suarakan kemerdekaan




Kerasak kerusuk isu corona

Membekukan harap ribuan mata

Mematikan semangat pemuda indonesia

Mengkibarkan bendera di hari merdeka.


Oh pemuda…

Tak bisakah kalian bangkit?

Terbang jauh pada masa silam yang sulit

Pahlawan-pahlawan tak gentar menahan sakit

Melawan penjajah dengan rasa pahit


Oh pemuda…

Hari ini indonesia sudah merdeka

Terhindar dari penjajah-penjajah asing Negara

Mudah sekali mengkibarkan bendera

Dirhagayu republic indonesia


Oh pemuda…

Harapan indonesia ada di genggaman tangan kalian

Majunya indonesia tergantung pemikiran kritis kalian

Nikmat rayakan kemerdekaan bagian penting usaha kalian

Tidak maukah kalian melihat arwah pahlawan menyunggingkan senyuman?


Pandemi ini membuat keadaan melarat

Mengumpulkan rakyat untuk memberi hormat

Tapi jangan padamkan semangat

Menjelajah otak mendapat ide yang hebat


Bagaimana pun keadaannya, kita tetap harus rayakan kemerdekaan indonesia!

Dimana pun tempatnya, kita harus tetap hormat pada pahlawan tanpa jasa

Jangan berhenti melangitkan harap pada sang Maha kuasa

Semoga corona lenyap sebelum kalender 2020 kadaluarsa


Salam semangat dari pemuda indonesia

By: sulfaini


Indonesia butuh pemuda!

Indonesia butuh pemuda!

View Article

Puisi










Dulu bangsa asing datang menghantam negeri

Memperbudak rakyat kecil

Merampas kebahagiaan

Bahkan membunuh harapan



Namun pemuda saat itu sangat tangguh

Membuat jiwa yang rapuh kembali utuh

Mengaung marah pada penjajah

Membentuk fondasi kuat mencari celah

Bambu runcing dijadikan senjata

Semangat berapi kekuatannya

Hanya untuk memerdekakan Indonesia



Saat ini memang sudah merdeka

Pembacaan proklamasi sudah terlewat berabad-abad lamanya

Namun kenapa aku masih merasakan hal yang tak serupa?

Merdeka tapi koruptor dimana-mana

Merdeka tetapi masih ada pengemis datang meminta-minta

Keadilan yang tak merata

Semakin menindas rakyat jelata

Menjunjung tinggi penguasa



Dimanakah kamu wahai pemuda?

Negeri ini sedang tidak baik-baik saja

Mari rapatkan barisan

Kepalkan tangan

Tindas kesalahan, kejahatan dan junjung keadilan

Semangat memperbaiki masa depan!

Negeri ini butuh pemuda yang mapan!


By: Sulfaini 💐


#ODOP

#OneDayOnePost

#ODOPChallenge8

#Tantanganpekan8

#ODOPBatch8


Selamat Tinggal

Selamat Tinggal

View Article
Empat mata saling menatap nanar

Tak ada kata sepatah pun keluar

Seolah terkunci

Terisolasi



Pikiranku berkecamuk

Hati satunya remuk

Kisah asmara kini telah usai

Menyisakan harap yang tak kan pernah tercapai



Siapa yang mau seperti ini? Tidak ada

Entah aku, atau dia.

Ah, nyatanya semesta tidak merestui kita

Mencabik-cabik perasaan 

Meluluh lantahkan semua harapan.



Hening

Tetap sunyi

Begitu menyeramkan cerita yang ku bawa

Bahkan aku pun masih tidak percaya

Orang tua yang dulu sangat bangga padanya

Kini berbalik tidak merestuinya

Alasan yang sama sekali tidak masuk akal

Tak bisa ku cerna

Tapi apa boleh buat? 

Restu orang tua bagiku segalanya.



Selamat tinggal senja ku.














Tanpa Judul

Tanpa Judul

View Article


Tanpa Judul


Hatiku tak tenang jiwaku ambyar

Luka-luka menganga lebar

Tak berdarah, tapi perih menjalar


Tuhan... apakah ini sebuah bencana?

Apakah Engkau tengah murka?

Ataukah ini adalah karma?


Kau pecahkan dukaku

Kau lindungku sukaku

Kau hiburku dalam lara

Namun sementara


Terlebihnya


Kau goyahkan keyakinanku

Kau ingatkan aku kembali dengannya

Kau putar kembali saat aku bersamanya

Kau biarkan aku berkutat dalam nostalgia


Aku menyakitinya secara sengaja

Aku mencabik-cabik hatinya layak orang gila

Aku menghempasnya dalam jurang nestapa


Inikah karma darinya Tuhan?

Engkau pun berada di pihaknya

Menyudutkan diriku yang kini tak berdaya


Aku menyesal.

Sungguh, sangat menyesal.


Maafkan aku Tuhan

Maafkan aku wahai sayang

Sajak Cinta Untuk Teman Istimewa

Sajak Cinta Untuk Teman Istimewa

View Article

 Untukmu, Teman Istimewaku

Photo by pixabay




Duniaku berubah karena mu

Aku yang sering merasa sepi, kemarin tidak lagi

Kala duniaku berkabut, kau terangi dengan senyummu

Aku menemukan teman berbagi


Duniaku berubah karena mu

Aku introvert, kau introvert 

Tapi tidak ketika kita bersama

Aku pendiam

Kau pun pendiam 

Tapi akan jadi periang ketika berdua

aku dengan polos ku, kau dengan lugu mu 

tertawa bahkan pada kejadian yang nggak lucu


Duniaku kini benar-benar berubah

Dengan bayangmu, aku berhalu

Memimpikan segala kemustahilan

Menyelam mencari kehidupan

Aku terjebak

Tersesat dalam hatimu

Dimana pintu keluarnya?

Kemanakah dirimu?


Duniaku berubah

Cangkar cintaku ku labuhkan padamu

Bahkan, ketika kau tetap menganggap ku hanya teman biasa mu

Segala peduliku hanya untukmu

Bahkan, ketika kau tetap menganggap ku hanya teman berbagi mu


Aku terjebak

Terlalu menganggap peduli mu karena cintamu

Terlalu menganggap tawamu karena nyaman mu

Terlalu menganggap kamu menyaingi ku

Bukan sebagai teman, tetapi dambaan


Hatiku kini bergetar hebat kala bersamamu

Menimbulkan desiran aneh kala kau menyentuh ku

Aku terjebak

Duniaku berubah

Tak ada lagi kata teman biasa

Melainkan teman istimewa

Maaf


Madura, 28 September 2020

Sulfaini💐

Sajak Cinta

Sajak Cinta

View Article

 AKU MENCINTAIMU




Kamu yang  tertawa dengannya

Memakan es krim vanilla rasa cinta

Sambil berpose ria


Kamu yang sering memeluknya mesra

Perhatian sepenuhnya kau beri padanya

Bahkan, kamu akan jadi pahlawan pertama ketika ada yang mengganggunya


Dengannya, kamu tumpahkan segala rasa

Menceritakan segala resah yang bikin sesak dada

Kemudian tatapan lembutnya, membuat kamu kembali semangat

Sarannya layaknya nyanyian yang mengalun mesra


Aku disini

Dengan segala rasa cemburu menyesakkan

Aku disini

Menatap nanar adegan keromantisan

Aku disini

Dengan rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan


Aku tak pernah kau anggap

Aku tak pernah kau tatap

Tapi aku tetap menjadikanmu tumpuan harap


Jika suatu saat kamu tersakiti

Jika suatu saat cintamu tak direstui

Lihatlah kebelakang…

Disini ada aku yang siap kau jadikan pelampiasan

Aku tidak apa-apa kau jadikan pelarian

Bahkan, jika dengan gila kau kembali lagi padanya

Aku ikhlas, melepas mu

Memberi seluruh  rasa cintaku

Agar dirimu tak pernah kehabisan rasa


Aku mencintaimu

Tanpa atau bersamamu

Kadar cintaku tak pernah semu


Pergilah, silahkan kau berkelana

Aku tetap disini, menunggumu

Walaupun datang mu adalah sebuah kemustahilan

Aku tetap bangga sudah mencintaimu

Aku tetap akan berdiri kuat disini

Ada atau tanpa dirimu

Kadar cintaku tak pernah semu

Ada atau tanpa dirimu

Camkan, cintaku tak pernah semu


Madura, 25 September 2020

Sulfaini💐

Kita Terpisah dan Aku ingin Sendiri.

Kita Terpisah dan Aku ingin Sendiri.

View Article

Puisi Kita Terpisah dan Aku Ingin Sendiri


Haloha... Kali ini mau bawa dua puisi yang sebenarnya bertolak belakang tapi berkesinambungan. Iya tidak? Ehe aku sebenarnya tidak tau ini puisi atau sekedar sekelumit kata tanpa makna, yang intinya aku mengecap sendiri ini adalah puisi, kalau kamu tidak, iya terserah ahaha.



 KITA TERPISAH





Separuh perjalan berhasil dilewati

Perjanjian perjanjian berhasil ditepati

Layaknya kisah romeo dan Juliet, romantis


Saling merangkul tak perlu ditanya

Bersifat bijak menghadapi masalah bersama

Tak ada lagi rahasia, kita sama-sama terbuka


Hingga suatu hari...

Aku terluka, tak sengaja menginjak paku

Kau pun terluka, tak sengaja terlempar batu

Gandengan tangan kita lepas

Sibuk mengobati luka, menghansaplast


Luka tak kian sembuh

Menganga…

Berdarah…

Kau pergi mengobati tanpaku

Aku pergi mengobati tanpamu

Kita berpisah


Aku tak bisa mencari mu

Apakah kau juga?

Mungkin…

Karena sampai saat ini

Bayanganmu tak pernah terlihat sama sekali.


Madura, 23 September 2020

Sulfaini💐



AKU INGIN SENDIRI





Aku ingin sendiri

Mengistirahatkan hati dari cinta laki-laki

Aku ingin sendiri

Tanpa menunggu kabar dari pujaan hati

Aku ingin sendiri

Tanpa merasa sesak di dada lantaran dia tak sengaja menyakiti


Aku lelah

Dengan cinta yang dimulai dengan cara salah

Aku lelah

Menjalin hubungan yang tak tau arah

Aku lelah

Aku yang tersakiti namun harus pasrah


Aku ingin kedamaian, Tanpa adanya perjanjian

Aku ingin ketentraman, tanpa adanya kekangan

Aku ingin ketenangan, tanpa adanya percekcokan


Aku belum siap mengarungi bahtera

Aku belum siap berlayar berdua

Aku belum siap mendapat ujian bersama


Aku ingin sendiri

Tolonglah, mengerti.


Madura, 23 September 2020
Sulfaini💐

Puisi Anak

Puisi Anak

View Article




Hai... Kali ini saya pengen ber puisi wkwk. Diperentukkan buat kalian yang sedang down karena orang tua tak mengerti kalian. Diperuntukkan buat kalian yang sedang sedih karena orang tua pilih kasih. Di peruntukkan buat kalian yang membenci orang tua hanya karena sering marah dan kasar. Pun, diperentukkan buat orang tua yang sering kasar dalam mendidik anak-anaknya. 

Percayalah, tidak ada orang tua yang membenci anak kandungnya. Hanya saja, mereka belum tau cara baik untuk mengasihi kalian, atau bisa jadi, kalian yang tidak mengerti mereka. Dan juga, percayalah didikan kasar pada anak, bentakan kasar pada anak bukan solusi yang baik untuk menanamkan sifat baik pada anak. berlemah lembut lah, perbanyak sabar jika anak bandel hehe Baiklah, puisinya cuma sedikit saja ya...     


  Caramu tetap ku sayang 

Bentakan yang kerap kali ku dengar 
Tak pernah ku anggap mereka kasar 
Cacian yang berebut keluar 
Ku gantikan dengan perbanyak istighfar

Menahan sesak di dada 
Aku menangis tanpa suara
Tak pernah terlintas untuk membencinya
Apalagi memalingkan muka untuk tidak mempedulikannya 

Peluh yang menetes setiap hari 
Aku jadikan bukti bahwa mereka peduli 
Semua fasilitas yang ada
Itu tanda sayang dari mereka 

Mereka pasti cinta 
Hanya cara baiknya belum terbaca 
Mereka pasti sayang 
Namun kasihnya masih menjadi bayang 

Tak apa, aku baik-baik saja 
Tak apa, aku tetap cinta 
Tak apa, aku tak kan benci mereka 



Madura, 24 Juli 2020
Puisi kenang

Puisi kenang

View Article
https://sullfaini.blogspot.com/
Ilustrasi




Puisi kenang



Obrolan lama ku buka kembali
Barang pemberiannya ku geledah lagi
Ini bukan soal ingin kembali
Hanya mengenang dia yang singgah di hati

Tangis ku tak tercipta
Benci ku telah terkubur lama
Hanya haru yang kurasa
Selucu ini takdir mempermainkan kita.
Bukan menyalahkan
Menyesali pun tak terpikirkan
Sebatas heran, mengapa mimpi ku tak ter indahkan?

Menuai kembali cerita lama hanya menjadi hayalan
Bercumbu kembali dengannya tak pernah terlintas dalam pikiran
Hanya rindu yang tak bisa ku padamkan
Namun, aku tetap dalam usaha melupakan
Mengenangnya dan perlahan melepaskan

By: Sulfaini