Label

Review buku, "kau, aku dan sepucuk angpau merah" karya Tere liye

Review buku, "kau, aku dan sepucuk angpau merah" karya Tere liye

View Article




Identitas buku

Penulis: tere liye

Penerbit: PT Gramedia pustaka utama

Tahun terbit: cetakan keempat belas; 2016

Jumlah halaman: 512 halaman

Pengulas: Sulfaini


Akhirnya setelah sekian lama menunggu antrian, sampai juga pada giliran. Buku kau, aku dan sepucuk angpau merah ini sebenarnya setahun sebelumnya sudah ku baca, tuntas. Namun, karena belum ku review ku baca lagi, sebab sayang kalau cuma aku yang menikmati buku ini.


Borno, tokoh utama dalam buku ini. seorang yang ditinggal mati bapaknya, hanya tamat SMA, bekerja serabutan (kebun karet, penjaga SPBU, penjaga karcis dermaga pelampung, supir sepit dan sebagainya) hingga akhirnya bisa sukses memiliki bengkel yang sudah bercabang dua, padahal sebelum itu, Borno tidak kuliah.


Borno adalah seorang bujang berhati baik sepanjang Kapuas (kata mei). Ia selalu di suruh-suruh oleh cik tulani, koh acong, bang togar dan tentu ibunya. Borno mempunyai tempat penasihat terbaik, kata-kata nya dalam dan tak pernah keliru, kalau pun keliru berarti kebenarannya datang terlambat (Borno said); dia adalah pak tua, bernama asli hidir, seorang yang berperan penting dalam hidup Borno, apalagi tentang cinta  pertamanya.


Buku ini tentu menceritakan soal cinta, cinta pertama Borno. Pengemudi sepit itu berjumpa dengan gadis berwajah sendu menawan di dermaga kayu; gadis berbaju kuning itu menumpang sepit Borno. lantas kemudian, petugas timer menemukan surat bersampul merah nan rapi tertinggal di sepit Borno; pojokan sepit. Setelah berusaha mengingat, gadis sendu menawan berbaju kuning lah yang duduk disana dan kemungkinan besar pemilik surat sampul merah itu.


‘Abang mau terima angpau juga?” suara merdu itu menyapa.

Aku menoleh, “Eh? Kau memanggilku?”

“Iya, Abang borno, mau angpau?”

Tubuhku membeku seketika (hal 95)


Borno pikir, angpau berwarna merah itu penting, ternyata hanya angpau biasa yang berisi "uang".


Kisah cinta ini pun dimulai.


Malu-malu, perjuangan, beranikan diri, kisah indah yang sekejap, janji tak ditepati, satpam galak, tau diri, kejutan cinta, cinta sejati. Ah, banyak sekali pelajarannya. Alur yang tak bisa ditebak, semakin menyelam semakin seru. Benar, ini bukan soal cinta pada umumnya; sederhana namun penuh makna.


Tentu ending dalam ceritanya tak tertebak, sok menerka-nerka akhirnya salah.


Kau, aku dan sepucuk angpau merah mengajarkan cinta sejati


Aku sering tergelak-gelak dengan hubungan antara Borno dan mei, apa yang mereka banyak khawatirkan, banyak perjuangkan, padahal tidak punya hubungan spesial ahaha. Tapi begitulah sederhana nya cinta sejati.


Membaca setiap patah kata, “eh”, “kau” dan yang lain sebenarnya mengingatkanku pada seseorang, dia sangat suka sekali karya bang tere mungkin kebiasaan yang bang tere tulis juga menjadi kebiasaannya dia (kenapa harus bahas dia hm?)


Borno yang belum pernah sekali merasakan cinta sungguh kebingungan dengan perasaannya, ingin menyapa, bertanya banyak hal namun setelah keduanya bertemu, tak ada satu patah pun ia lontarkan, hanya menjawab sekenanya dengan wajah grogi. Pertemuan mereka selalu tak terduga (ini lain soal dengan si Borno yang selalu mengantri urut 13 agar Mei menjadi penumpang sepit Borno).


Jika dia memilih menjauh itu berarti sudah saatnya kau memulai kesempatan baru. Percayalah, jika dia memang cinta sejati kau, mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus dilalui, dia tetap akan bersama kau kelak, suatu saat nanti. Langit selalu punya skenario terbaik. Saat itu belum terjadi, bersabarlah. Isi hari-hari dengan kesempatan baru. Lanjutkan hidup dengan segenap perasaan riang. (Pak tua)

 

Bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang persahabatan sejati dan solidaritas penghuni gang Kapuas


Yeah, salah satu kelebihan novel berjudul kau, aku dan sepucuk angpau merah bukan hanya membahas soal cinta belaka, kau dan aku saja, angpau merah, namun lebih dari itu. berulang kali aku berdecak kagum sama kisah ini.


Pertama, persahabatan antara Borno dan Andi. Teman sekolah yang tamat sma bersama itu kompak tidak melanjutkan pendidikannya lagi; bukan karena perjanjian bodoh tapi keadaan. Sudah berapa kali Borno dan Andi sama-sama saling mengerjai, kesal, marah tapi tentu dalam persahabatan hal itu tak akan bertahan lama. Saling menolong, bercerita, menyanyi, mungkin Pontianak sudah banyak kali merekamnya. dari yang hanya bekerja di bengkel sempit, jelek dan tanpa alat memadai sampai kini bengkelnya besar nan bercabang, mereka berdua berjuang bersama.


“Rasa sedih melihat teman baik menangis ternyata bisa berubah menjadi semangat menggebu tiada tara. Rasa pilu melihat teman teraniaya, bahkan konon bisa mengubah seorang pengecut menjadi panglima perang.” (hal 362)


Kedua, solidaritas tinggi penghuni gang Kapuas. Bertempat tinggal di sungai Kapuas, rumah-rumah mengapung, berkolong sungai. Bukan mobil bagus nan mewah kendaraannya, tetapi sepit; semacam perahu. Tak berhenti aku mendecak kagum solidaritas warga disana, mulai dari pengemudi-pengemudi sepit di dermaga kayu, warga-warga yang setempat tinggal di gang-gang sungai Kapuas, apalagi pada bang togar.


Mau-maunya mereka sering bermusyawarah tentang kehidupan borno apalagi sampai membelikan sepit baru; hasil sumbangan seluruh warga Kapuas. Tak pernah lelah mereka bercanda di dermaga Kapuas; bahkan di suatu persoalan mereka lebih memilih menunggu Borno yang akan bertemu dengan gadis sendu itu daripada menarik sepit (kalau dipikir, apa untungnya bukan?). lagi, lagi mereka sungguh sangat baik sekali, tolong menolong, sirat kekhawatiran saat pak tua ditemukan pingsan. Ah, kagum benar aku.


Begitu sedikit cuplikan dari buku kau, aku dan sepucuk angpau merah. Cocok sekali dibaca oleh remaja yang sedang marak-maraknya sok bercinta-cinta. Namun tidak ada salahnya dibaca oleh semua orang. Ini buku, eh novel yang recommend sekali, sudah pasti kenal dengan bang Tere Liye kan? Yah, karyanya sudah nggak bisa diragukan lagi.


Baca karya bang Tere yang sudah ku review yuk;

Review novel pergi

Review novel negeri pada badebah

Review novel dikatakan atau tidak di katakan itu tetap cinta

Review novel daun yang jatuh tak pernah membenci angin


Rugi tidak bergabung dengan odop blogger squad, ini manfaatnya!

Rugi tidak bergabung dengan odop blogger squad, ini manfaatnya!

View Article

 

ODOP blogger squad menampung banyak -blogger-blogger dari pemula, setengah pemula dan suhu-suhu yang ilmunya udah nggak bisa di ragukan lagi, sering banget menang lomba-lomba blog. Benar-benar tidak rugi bukan bergabung dengan orang yang sudah sukses?



Ketika ODOP blogger squad membuka pendaftaran, aku nggak ragu-ragu langsung bergabung, namun kemudian setelah admin memaparkan hanya sedikit saja yang masih tersisa di sana, aku merasa takut, mengingat aku sangat newbie meskipun sudah mempunyai blog selama 7 bulan. Apalagi sistem nya disana bikin merinding, setelah materi dibagikan kita langsung diberi tugas dengan tenggat waktu tertentu, setelah sampai pada waktunya namun kita masih nggak mengerjakan, alasan kek apapun tetap auto tendang dong. Alhamdulillah, masih bisa bertahan sampai hari ini, semoga sampai kapan pun tetap disana.


Ini dia Manfaat bergabung dengan ODOP blogger squad




Ilmu yang diberikan benar-benar dari 0


Aku pribadi adalah orang yang paling nggak tau mau bertanya apa sebelum materi disampaikan makanya kondisi seperti ini sangat membutuhkan komunitas dan suhu-suhu yang sudah pandai. Setelah membaca teliti barulah pertanyaan-pertanyaan itu muncul, kalian seperti ini juga, tidak?


Menurutku juga ilmu yang di transfer benar-benar dari awal-pertama tapi tetap daging dong! Materi yang paling berkesan di aku adalah, apa big why, kenapa kamu ngeblog? Materi ini tamparan buat kita semua jika kita sok bangun blog tapi hanya sekedar membangun, tidak punya impian akan di apakan, mungkin juga tidak akan tau se-bermanfaat apa membangunnya. Lagi pula, kalau tidak tau alasannya maka akan lebih cepat longsor! Eh kenapa bahas ini sih? Ya sudah, yang penasaran sama alasan ku kenapa ngeblog, boleh ceki-ceki disini yaa


Setiap PJ memberi tahu bahwa malam nanti akan ada materi, aku ketar ketir, merasa takut tidak paham, tidak punya waktu, tidak bisa mengerjakan tugas dan auto tendang pastinya. Namun Alhamdulillah sekali, selain sabar menjawab pertanyaan berkelit-kelit dan sepele ku, aku selalu tuntas mengerjakan tugas, dan menurutku masih bisa dibilang gampang ahaha, cari ide yang masih agak kesulitan kalau udah dapat mah asik benar nih jari-jari menari di keyboard.


Teman semakin banyak dan ramah tamah


Ah, sudah di berapa konten aku isi dengan begitu bahagianya mendapat teman baru karena memang aku sangat suka berteman di online, sok kenal, sok akrab begitu lah aku, tapi jangan tanya kalau di nyata bagaimana, diem seribu bahasa kalau ketemu orang baru!


Mungkin bagi orang manfaat ini terkesan sepele, tapi bagi aku tidak. Coba bayangkan, jika guru-guru yang ngajar kalian sangat galak, nggak pernah senyum, marah terus, berani nggak ngebacot nanya ini itu? aku mah langsung kicep.


Beruntung sekali bergabung dengan ODOP blogger squad ini, hari-hari diisi dengan candaan, apalagi yang paling dominan disana adalah emak-emak yang produktif, sudah punya anak masih saja meluangkan waktunya untuk menyimak materi, mengerjakan tugas dan sebagainya, salut benar akutu. Yah pasti paham lah bagaimana sifat emak-emak kalau sudah membahas suatu persoalan, sekalipun aku jarang nimbrung (karena aku malu ahaha) aku tetap menikmati solidaritas teman-teman disana.


Apalagi untuk para suhu yang sudah sukses, mau-maunya mereka mengajari gratis untuk aku yang benar-benar buta tentang blog, sabar banget menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele ku. Dulu mah, yang penting nge post, sekarang harus mikir keras dulu dong biar yang di tulis muncul di halaman utama google, apalagi jadi page on. Uh manteep.


Sukses lebih cepat


Pernah dengar kata pepatah tidak? Ah aku lupa isi sebenarnya tapi intinya, membaca buku tanpa guru itu akan lebih berdampak sesat. Betul tidak? Iya sekalipun nggak semuanya tapi menurutku guru tetap penting memang. Otak atik sendiri sih ya boleh saja, tapi kalau berurusan dengan ini alamak, takut. Pernah dulu, sebelum masuk ODOP blogger squad ada orang yang baik sangat mengotak atik blog ku, sampai template premium ia kasih gratis buatku. Setelah aku disuruh buat ini itu aku salah langkah dong, ewuh! Marah besar dia mah, bilang kalau kesalahan ku kali ini fatal! Eu,, semoga itu berlaku satu kali saja.


Hm, kembali ke pembahasan awal.


Bergabung dengan squad itu membuat aku lebih banyak dan gampang mendapatkan ilmu, daripada suruh nyari sendiri wkwk. apalagi sekali dapat materi langsung praktek, gimana nggak bisa sukses? Setelah coba-coba cek, Alhamdulillah sekali salah satu artikel ku berada di halaman utama google! Meski belum page on, nggak papa lah, ini sangat membahagiakan. Alhamdulillah.


Baru-baru masuk, blog kita di tuntut untuk berdomain, aku yang notabenenya memang sudah berdomain santai-santai saja, beda dengan beberapa orang yang belum, histeris wkwk tapi ini memang untuk kebaikan kita kan?


Setelah itu kita langsung di suguhi materi SEO ON PAGE (sebuah langkah untuk mengoptimasi artikel agar mudah dibaca pembaca dan memperoleh posisi terbaik di google), membuat GA (Google analytic) dan membuat beberapa akun sosmed kemudian menanam link disana. Benar-benar bermanfaat.


Ini masih baru-baru bergabung dengan ODOP blogger squad materinya daging bener dan traffic blog juga lumayan wkwk. apalagi kalau tetap disana sampai kapan pun, ah bismillah terbayar lah nanti perpanjangan domain ku tanpa merogoh saku wkwk. Rugi benar nggak masuk, serius!


Baca juga 

Lulus ODOP

Review buku The alpha girl's guide oleh penasulfa – penulis om piring

Review buku The alpha girl's guide oleh penasulfa – penulis om piring

View Article


 Judul buku: The alpha girl's giude, menjadi cewek smart, independen dan anti galau

Penulis: Henry manampiring

Penerbit: gagas media

Tahun  terbit: cetakan ketiga, 2015

Jumlah halaman: 253

Pengulas: Sulfaini


Ebook ini pemberian dari mbak ifa cantik nan baik, seorang yang boleh di bilang sang motivator ku, berperan banyak sampai aku bisa di tahap ini, meski sampai di tahap ini masih terkesan remeh dan nggak ada artinya, aku sangat bersyukur karena dia aku agak lebih sedikit produktif meski lebih banyak melakukan hal yang sia-sia, ahaha. Tepuk tangan buat mbak ifa.


Buku ini adalah buku yang paling lama aku selesaikan bacanya, meski dengan hanya jumlah halaman 200an. Bukan maksud tidak suka atau lebih di kata nggak menghargai pemberian, tetapi karena aku merasa nggak pantes sama sekali membaca buku ini, istilah kerennya, ‘bukan gue banget’. Isinya sangat bagus sekali mendorong aku terus-terus an ingin membacanya, namun masih ada rasa ‘insecure’ terhadap buku ini, rasanya tuh sedang berhadapan langsung dengan para alpha female yang sekalipun raut wajahnya ramah sekali, namun tetap saja pikiran buruk nggak pernah enyah; nggak pantes, malu dan sebagainya.


Sempat kaget juga dengan sang penulis, yang ternyata dia adalah seorang laki-laki, yang dimana biasanya sedikit sekali akan meluangkan waktunya hanya untuk menulis kelebihan dan membangkitkan semangat perempuan; lawan jenisnya. Logikanya, ngapain aku nulis buat makhluk yang paling cerewet dan akan berkata dia selalu benar ahaha. Tetapi mas henry; yang kerap dipanggil om itu sangat memberantas kata demikian, seolah juga beliau adalah seorang perempuan yang tersulap menjadi  seorang lelaki, ah iya jangan salah, beliau juga termasuk alpha male yang muantep pisan euy.


Penyampaian nya juga terkesan santai dan mengandung banyak humor, apalagi dibubuhi dengan ilustrasi-ilustrasi yang seperti komik, bukan hanya gambar gitu, tapi ada bacaan yang singkat juga. baguslah.


Baiklah, lapangkan lah dada wahai pembaca sekalian jika ada kalimat yang aku tulis terkesan ‘sok-sok an’ padahal aslinya ngga banget, mohon maap nggeh, ini Cuma sebagai review dari aku pun juga semoga dengan ini semangat untuk meraih bintang berkobar lebih besar lagi.


Buku alpha girls bukan semata menyulap semua wanita menjadi alpha girls





Alpha female awalnya sebuah justifikasi terhadap seekor hewan, hewan yang terpandang dan menjadi pemimpin itu disebut sebagai alpha male (jantan) dan alpha female (betina), lalu kemudian beralih pada sekelompok manusia.


Alpha female adalah perempuan-perempuan yang berada di puncak karena prestasi dan attitude nya, mereka dihormati dan disegani, baik oleh perempuan maupun pria. Mereka percaya diri mengoptimalkan potensinya. Menjadi seorang alpha female dewasa bisa dimulai sejak dini dengan menjadi alpha girl (hal 52)


Mas henry memaparkan, menjadi alpha girl bukanlah suatu hal yang bisa dimiliki semua wanita. Jika semua wanita menjadi seorang alpha gilrs atau female, maka serasa semua wanita sama, tidak ada kelebihan yang dipunya, karena toh, semua wanita mempunyai kelebihan seperti itu, terkesan nggak ada yang menakjubkan. 


Alpha itu identik sebagai seorang pemimpin, seorang yang disegani, seorang yang berani menegur dan memerintah dalam suatu kelompok dan bisa dipastikan dalam kelompok hanya akan ada satu atau dua orang saja yang menjadi demikian, tentu berarti memang benar, tidak semua wanita menjadi alpha female.


Namun dengan tidaknya semua wanita menjadi alpha female bukan berarti membawa rasa ‘down’ membaca buku ini, apalagi berpikiran seperti aku, ‘bukan gue banget’. Mas henry berkata dengan membaca buku ini pembaca akan lebih bisa membuka pikiran terlebih untuk seorang wanita mengenai apa yang bisa dilakukannya di masa remaja ini. Aku nangkepnya, jika wanita tidak menjadi seorang alpha female yang kegiatannya sangat produktif sekali, minimal seorang wanita tidak menyia-nyiakannya waktunya untuk suatu hal yang mubah; boleh dilakukan tapi tidak mendapatkan apa-apa. Minimal seorang wanita tetap melakukan hal produktif meski belum diakui di kelompok atau masyarakat itu, siapa tau bukan dewasa nanti bisa menjadi seorang alpha female?


Kalau kamu berusaha meraih bintang, kamu mungkin tidak akan mendapat satu bintang pun. Namun, minimal kamu juga tidak akan berakhir dengan hanya lumpur di tangan. (Mendiang Lo Burnett)


Buku alpha girl's mengupas tuntas segala hal tentang perempuan




Yah, menurutku tuntas. Mas henry membahas tentang perempuan dari menjadi siswa sekolah sampai mejadi seorang pekerja. Bahkan nilai pointnya, mas henry memasukkan isi wawancara yang ia lakukan dengan sang alpha female yang wow; Alanda kariza dan najwa shihab. Setiap kalimat yang mereka paparkan sangat sangat istimewa sekali. Yang paling menyentuh, dibalik kesuksesan mereka ada keluarga yang sangat mendukung. Ini sangat menyentuh sekali, sangat.


Pernah suatu ketika saat aku membaca buku ini yang kebetulan sampai di pembahasan alpha love, ada teman yang curhat tentang kisah cintanya yang kandas; dia habis menangis semaleman, suaranya serak. Cintanya kandas sebab cowok menikah dengan orang lain tanpa kabar. Sambil lalu aku nasehati, aku mengutip paparan yang mas henry tulis tentang bagaimana seharunya alpha girl menyikapi percintaan. Kemudian, dia bilang, ‘yeah, kok bener banget sih buku ini’.


Segi penampilan juga salah satu pembahasan yang menampar. Bagaimana aku yang bodoamat akan baju yang dipakai, membersihkan wajah agar tidak kusam dan sebagainya adalah sebuah tamparan. Seorang yang penampilannya baik itu akan indah dilihat, meski tidak cantik, aura yang keluar memancarkan suatu cahaya. Seorang alpha female saja dituntut untuk menjaga penampilan supaya menarik, apalagi aku yang nggak di cap sebagai seorang alpha! Sudah nggak ada prestasi, masa penampilan juga kumel, apa yang mau dilihat lagi!


Ah, padahal sejak kemarin nggak berfikir akan menulis review sebanyak ini, sampai mau spoiler ahaha. Buku alpha girl ini wajib menjadi bacaan semua perempuan, baik dia seorang alpha atau bukan. Seorang perempuan yang baik akan juga mengangkat dan menolong perempuan lainnya untuk juga maju.

Ingin jadi istri dan ibu shalehah? Buku calon umi shalehah cocok untuk dibaca

Ingin jadi istri dan ibu shalehah? Buku calon umi shalehah cocok untuk dibaca

View Article







Penulis: La ode munafar & dwi suci apriani  (sepasang suami istri)

Penerbit: Gaul fresh

Penyunting: Andhika dwijayanto

Desain sampul:     Heni pratiwi

Tahun cetak: 2016

Jumlah halaman: 168 hal

Pengulas: Sulfaini


Aku dapat tantangan dari #RCO untuk membaca buku fisik yang berada di  rak kamar genre bebas. Bingung, mau baca apa padahal buku yang belum tersentuh dan terbaca sekitar 7 buku. awalnya pilih sebuah novel biar cepet selesai bacanya, eh kok bahasanya njelimet ya? Udah baca 40 halaman auto ganti buku lain dong hm. Takdir lah, buku calon umi shalehah menjadi pilihan selanjutnya.


Buku itu aku dapat dari hadiah #rmtmchallenge bulan September lalu, tapi emang nggak aku baca karena merasa belum saatnya dong ahaha. Setelah baca di bab pertama, ternyata oh ternyata aku suka sekali, bahasanya  ringan, enak dibaca, nggak seperti menggurui malah lebih berasa aku berhadapan langsung dengan kedua penulis tersebut.


Dalam bukunya juga ada sebuah kisah yang dikemas seperti cerpen, sehingga tidak membuat pembaca jenuh ketika hanya membaca nasihat-nasihat belaka. Oh iya, kurangnya buku ini ada beberapa kata yang masih typo.


Buku calon umi shalehah dibaca sebelum menjadi istri dan ibu




(Namanya juga calon yek, ya pasti sebelum lah), iya iya, tapi kan mana tau punya pikiran kek aku kemaren, nggak mau dibaca karena merasa belum saatnya wkwk.


Buku calon umi shalehah bukan juga hanya dibaca sebulan sebelum menikah, atau setelah tunangan baru baca, bukan ya. Buku ini cocoknya dibaca saat usia udah remaja atau boleh sangat ketika udah punya perasaan ingin menikah ahaha.


Menjadi umi shalehah bukanlah pekerjaan instan yang akan bisa dilakukan hanya dengan kursus sejam dua jam. Menjadi umi shaleha tidaklah mudah seperti film-film yang ketika ditimpa musibah, langsung berubah menjadi sosok wanita yang sangat baik dan shaleha, tidak. Tetapi, menjadi umi shaleha haruslah dicoba dan belajar dari sekarang.


Apalagi kalau kejadian mendadak terjadi, tiba-tiba saja ada kejadian yang mengharuskan kamu menikah, padahal sebelumnya nggak pernah terlintas untuk menikah, nah ini gunanya belajar menjad umi shaleha. Kak Ode dalam bukunya menyampaikan beberapa kisah mendadak yang mengharuskan seorang wanita menjadi istri walaupun sebelumnya nggak ada niatan sama sekali.


Setiap wanita haruslah menjadi umi yang shaleha 




“Wanita dalam islam sangat berharga, tidak murahan dengan dinilai hanya fisik saja. wanita punya potensi besar luar-dalam, yang jika digunakan untuk melaksanakan tugas sebagai umi shalehah, Allah akan menganggkat derajatnya dan memberi pahala berkali-kali lipat.” (hal 42)


Yah, membaca buku ini membuat aku menjadi lebih paham bahwa Allah tidak sembarang menjadikan wanita sebagai ibu dan istri; umi shaleha. Perbedaaan mendasar antara wanita dan laki-laki sangat gamblang dijelaskan di bukunya. Bukan maksud merendahkan laki-laki, tapi memberikan pengertian bahwa rencana Allah tidaklah salah. Wanita menjadi umi shaleha memang sudah di ranah yang tepat. Salah satu perbedaan mendasarnya dalam penjelasan buku tersebut adalah menurut survey, rata-rata wanita membutuhkan berbicara sebanyak 16-20 ribu kata perhari, sedangkan laki-laki hanya 6-7 ribu perhari. Kalau saja kebalik, bagaimana seorang ibu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol dari anak? Mengajari anak? Dan sebagainya.


Tugas wanita pula bukanlah hanya menjadi sekedar ‘ibu rumah tangga’ yang hanya memasak, menyapu, mencuci, memandikan anak dan sebagainya, tetapi juga harus menjadi ibu rumah tangga yang shalehah wkwk. bagaimana harusnya melayani suami dengan baik, bagaimana harusnya mengajari anak dengan baik dan bagaimana seharusnya tetap bisa menjadi hamba dengan baik, bukankah begitu?


Persamaan wanita dan laki-laki salah satunya, sama-sama diperintah untuk berdakwah, iya berdakwah. Tentu jika kita; wanita sudah membaca dan mempelajari menjadi umi shaleha sudah pasti paham harus berdakwah bagaimana, ya kalau tidak bisa diluar, di dalam rumah juga bisa, mendakwahi keluarga misal.


Seperti kak Ode dan istrinya kak Dwi, mereka adalah sepasang suami istri yang menurutku jalan dakwahnya sangat baik. Kak ode pun menyeret cerita bagaimana kak ode dan istrinya bertemu; di tempat dakwah. Setelah menjadi suami istri pun keduanya tidak berhenti berdakwah, bahkan gerakan besar yang ada di indonesia #Indonesiatanpapacaran penggagasnya adalah kak Ode, dan kak Dwi juga mempunyai tugas di gerakan itu. sungguh, aku begitu kagum.


“Dunia ini adalah perhiasan. Dan sebaik-baiknya perhiasan ialah istri shalehah”


Teruntuk calon-calon umi yang shaleha, kurang rasanya jika belum membaca buku calon umi shaleha ini sebelum benar-benar menjadi umi shaleha. Ingat, menjadi umi shaleha bukanlah pekerjaan instan, mari baca buku calon umi shaleha sekarang juga, biar tidak menyesal kemudian.

 

 

Curhat tentang My Big Why, kenapa ngeblog?

Curhat tentang My Big Why, kenapa ngeblog?

View Article



Hm, sebenarnya ini tugas sih, bukan dari hati banget. Maksudnya, aku nggak pernah dapat ide buat nulis big why, kenapa ngeblog di sini (hayo pada suuzon), tapi karena memang aku adalah pribadi yang jarang sekali nulis masalah mimpi, paling sering dan bahkan setiap hari adalah curhat pasal hati wkwk.


Kata orang, menulis mimpi di kertas atau di mana saja itu akan lebih mudah digapai, tapi kalau aku pribadi, memang iya ada pengaruhnya, tapi sedikit. Aku lebih semangat lagi, bangkit lagi kalau ada banyak orang yang mendukung, ada banyak kata semangat yang aku dengar. Aneh ya? Terkadang juga, tanpa dorongan orang lain aku bangkit, tapi itu pasti tidak bertahan lama.


Jadi curhat kan? karena aku memang suka curhat, bahkan kalau balas chat teman-teman, aku jarang balas singkat. Alhamdulillah, akhirnya aku di nobatkan jadi seorang yang suka spam ahaha.


Baiklah, kembali ke laptop.


Big why, kenapa ngeblog.




Kalau ditulis disini semua sih, banyak ya. Sudah paham kan kalau aku suka curhat? Nanti kalian bosan kalau isinya curhat mulu. Cekidoot.. kalau kebablasan curhat lagi, maafkan saya ya wkwk


Hobi dan cita-cita


Yeah, pastinya alasan awal kenapa aku ngeblog ya karena aku suka nulis dan suka sekali curhat (sudah bilang berulang kali loh hm). Aku sudah punya diary sejak aku sekolah dasar, Bapak yang mungkin paham dengan hobi ku, membelikan ku buku diary yang lucu. Isinya mah ya curhat nggak jelas gitu pastinya wkwk. sampai hari  ini pun, aku masih curhat, kadang ditulis di buku, kadang di WhatsApp (sengaja punya dua WhatsApp biar bisa ngirim curhat tanpa dilirik orang).


Aku telat menyadari jika “aku suka nulis maka aku bisa jadi penulis”. Hal itu terlintas baru-baru ini ketika aku sudah berumur 20an, di usia dimana banyak manusia stress mencari jati diri, mikir kapan sukses, mikir bagaimana dapat uang sendiri. galau cuy. Hati-hati saja.


Menyadari itu, aku langsung nanya ini itu ke teman, dosen dan cari tau sendiri. Alhamdullah, respon mereka membuat ku semangat untuk menulis cita-cita baru, penulis bermanfaat. Iya benar, baru-baru ini.


Dosen yang menjadi tempat curhat dadakan ku memberi saran untuk terus mengasah tulisanku, beliau juga menyarankan untuk memulai nulis di blog. Yah, inilah awal mula kenapa menulis di blog, Jazakillah khair Ibu.


Oh iya, di blog juga kita bisa bebas nulis sampai beribu² kata yakan? Beda kalau kita nulis di sosmed-sosmed, nggak boleh banyak-banyak, ada batasannya ahaha. Namun, aku nggak mengenyampingkan sosmed loh, aku juga nge-share tulisan yang sudah aku post di blog ini, tapi cuma separoo, biar mereka yang baca penasaran apa lanjutannya, jadilah buka linknya ahaha


Baca juga

Curhat saat blog berumur sebulan 

Kebiasaan baru di bidang literasi 

 

 

2.   Tidak punya teman tetap curhat


Miris  ya? Ahaha. Suka curhat tapi tidak punya teman buat curhat. Eits, bukan berarti aku tidak punya teman, banyak noh. Tapi memang hanya segelintir orang yang sungguh-sungguh menjadi teman. Sejak kuliah, aku berhenti menulis diary di samping kesibukan  menjadi mahasiswi yang harus lebih banyak menulis materi dan mengerjakan tugas, aku juga punya tempat curhat, beberapa teman.


Lama kelamaan, aku merasa, aku membebani mereka. Aku bisa spam sampai 60 pesan, voice not 6-10 menitan. Kalau kalian jadi tempat curhat ku, bosan kan yah? Jenuh apalagi. Sebenarnya ini cuma perasaanku saja, tapi yah apa salahnya aku berhenti curhat untuk mengurangi beban mereka? Online pula, paketnya dikuras. Aku bukan berhenti total sih, hanya saja jika aku masih bisa menampung sendiri, aku tampung, jika tidak ya aku curhat, tapi pastinya tidak banyak.


Nah, dari itu aku mulai menulis lagi, mulai menuangkan segala resah menjadi tulisan. Alhamdulillah, resah dan sakit hati bukan lagi menjadi curhatan alay tetapi bisa dikemas menjadi puisi, quote dan tetap menjadi curhatan namun yang bisa di ambil manfaat. Impianku bukan hanya sekedar menjadi penulis, tetapi penulis bermanfaat. Utamanya untuk aku dan umumnya untuk yang lain.


3.   Lari dari publik speaking


Aku jadi mikir, “Aku phobia panggung nggak sih?”. Kecil dulu, aku anaknya berprestasi (sombong ciee), menjadi siswa sekolah dasar yang juara satu dari kelas 1 sampai kelas 6. Menjadi siswa sekolah madrasah yang juara satu jika ada imtihan. Tapi herannya, publik speaking ku nol. Padahal, cerdas cermat juara, lomba bergilir juara. Aneh?

 

Aku orangnya memang pemalu hehe, tapi ya tetap aja heran, kenapa begitu wkwk.

 

Jangan berfikir macam-macam dulu deh. Aku sudah pernah menjadi moderator pas kuliah, aku pernah jadi MC saat acara (sekalipun acara kecil), aku juga pernah menjadi pemimpin rapat divisi ku (kecil juga sih ahaha). Tapi tetap saja, aku masih merasa demam panggung, nggak bisa publik speaking. “kurang usaha sih”, hoh iya kali ya, abisnya kalau aku benar-benar gemeteran bukan cuma badan, tapi suara. Nampak banget gitu, kan malu cuy ahaha.  Nah, jadi aku kabur deh, mau jadi penulis aja lah. Toh, penulis juga  bisa sukses kan? jadilah aku lari ke ngeblog.


Banyak juga persepsi, “kalau nggak bisa bicara depan kamera, mana bisa dikatakan sukses”. Eh iya tunggu, aku pernah loh ikut event baca cerpen dengan kurun waktu 19 menit, nggak grogi tuh. Groginya aku tuh ya Cuma pas matanya berpapasan gitu. Ah ya gitulah pokoknya.


Kembali ke persepsi, aku cuma ingin menyampaikan hasil kerja otakku wkwk. Yah, bidang sukses untuk semua orang itu berbeda dan siapapun tidak boleh menuntutnya dan menghakiminya. Bukan berarti orang yang tidak jago publik speaking tidak akan pernah mencicipi kesuksesan. Memang sukses di ukur dengan pandai bicara depan orang?


Aku pernah  menerima cerita dari seseorang yang sangat pemalu, ia hanya bisa menyampaikan aspirasinya lewat tulisan-tulisan. Dan endingnya ia sukses menjadi penulis dan ujung-ujungnya ia bisa berbicara depan kamera. Bisa jadi kan endingnya aku begitu juga, toh aku bukan benar-benar tidak bisa publik speaking, aku pernah punya pengalaman seperti yang disebut diatas. Bisa jadi kan? ayolah jangan mematahkan semangat wkwk.


4.     Personal branding


Seorang penulis itu sukses jika sudah menulis buku dan diburu pembaca, begitu persepsi orang-orang. Aku ulangi, sejak kapan sukses itu diukur dengan hal demikian? Lagi pula, proses juga kali, sampai di tahap sini sudah Alhamdulillah, daripada tetep dengan kebiasaan curhat nggak jelas. Eh, curhat juga itu salah satu dari sebagain proses buat jadi penulis hebat juga deh.


Analogi ku, jika aku seorang penulis pemula yang sok-sok an menulis buku kemudian lolos cetak, siapa yang akan mau membeli penulis yang tak dikenal? Ada sih, tapi sedikit. Beda dengan jika mas rifa’i yang menulis buku kemudian terpajang di gramedia, orang-orang berebutan, karena apa? ya karena mereka sudah tau dan tidak akan merasa menyesal membelinya, wonk mas rifa’i sudah terkenal dengan seorang penulis best seller ya kan!


Begitulah, maka aku sebagai penulis pemula tidak langsung menulis dan menyetak nya (meski sudah punya beberapa pandangan mau nulis apa). banyak sekali contoh-contoh orang-orang yang menulis buku tapi hanya segilintir orang yang membeli. Itu karena mereka masih menyimpan keraguan lanjut beli atau tidak.  Namun, bukan berarti kita tidak mau nulis buku, proses toh, bangun personal branding nyambi nulis. Biar kalau udah banyak yang percaya, bukunya langsung tercetak? Eh, ini buat ku juga sih ahaha.


Menulis di blog sebagai bentuk untuk membangun personal branding ku. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit orang-orang tau sama aku, contoh kecil, “Weh iya, sulfa yang punya web sendiri; ww.penasulfa.com”, atau bahkan secara langsung memuji, “Wah kakak tulisannya bagus, saya suka. Tetap semangat jadi penulis ya”. Yah, Alhamdulillah beberapa orang sudah percaya, bahkan juga ada beberapa yang bertanya-tanya soal menulis dan blog. Jadi seolah-seolah aku tau dan pengalaman di bidang itu, padahal nyatanya belum nyelam begitu dalam hm. Tapi nggak papa kan yah? Ini mah usaha bangun personal branding.


5.    Merekam jejak peristiwa


Katanya sih, ini juga di sebut journaling. Peristiwa-peristiwa yang dialami ditulis dan diabadikan. Tapi benar loh, curhat yang ditulis itu bisa mengenang masa lalu di masa sekarang dan seolah-seolah kita bisa kembali ke masa itu. mengingat jelas betapa alay nya aku dulu, lebay nya aku dulu dan paling mengesankan peristiwa penting-penting tidak akan terlupakan begitu saja. Makanya, aku tulis di blog.


Bukan hanya peristiwa, tapi ilmu dan pengalaman tetap abadi. Aku terkadang menscroll sosmed-sosmed dan blog ini untuk melihat dan membaca kembali apa yang sudah aku tulis. Bisa juga sebagai perbandingan, antara tulisan yang dulu dengan yang sekarang, sudah ada perubahan belum?


Baca juga

cerita miris ku dengan sepeda ontel

 

6.    Bertemu banyak teman se visi


Sudah pernah kukatakan tadi bukan, aku adalah pribadi yang semangatnya berkobar-kobar jika di semangati orang lain? Nah, untuk tetap menunjang semangat menulis, aku harus masuk ke berbagai komunitas yang se visi tentunya bermodal ingin menjadi penulis. Salah satunya masuk di ODOP (one day one post) ini. Alhamdulillah semangat terus, apalagi kalau diberi tugas ahaha.


Bertemu dengan teman se visi juga bukan tidak mungkin kita bisa dapat ilmu secara percuma. Bisa saling sharing, bisa minta saran, bisa minta bantuan kan nggak akan ribet sendiri?


Baca juga

Salah satu komunitas yang aku ikuti

Pentingnya berkomunitas

Hari blogger


7.    Mendapat uang


Ahaha aku kalau sudah bicara uang, mata langsung melek. Bukan berarti mata duitan atau apalah, tapi karena sejak dulu aku memang suka menabung, jadi suka banget gitu kalau tabungan diisi setiap hari ahaha. Lagipula manusia mana yang nggak mau dapat uang?


Yah, sekalipun sampai saat ini belum dapat uang (ini lagi proses broo sabar nape), aku nggak mau nyerah wkwk, sayang aja gitu udah nyelam tapi nggak dapat ikan wkwk. apalagi menjadi blogger ada budget yang harus dikeluarin, meski itu tentang hanya penghabisan paket data ahaha, itu juga uang loh.


Big why, kenapa ngeblog juga paling awal-awal aku pikirkan, ya biar dapat duit. Tapi setelah masuk lebih dalam ke dunia blog, ternyata bukan jalan mudah untuk mendapatkan cuan pun sadar tulisan yang bermanfaat bagi orang lain itu sangat membahagiakan. So, belum dapat duit pun tak apalah, bermanfaat ke orang lain dulu, baru uang ngejar ahaha.


Nggak kerasa ya, ini adalah tulisan panjang ku yang selesai hanya sejam dua jam (baterai laptop emang cepet abis juga wkwk) Nggak dibayar loh, tapi tetap senang mah. Big why, kenapa ngeblog versi sulfa nih, versi mu mana? Curhat sini yuk.